
Chloe merasa lelah mencari keberadaan Sandra. Ia pun menepikan mobilnya di depan minimarket untuk membeli minuman kaleng. Pucuk dicinta ulam tiba. Orang yang dicarinya malah berada di depan mata.
"Sandra," panggil Chloe.
Sandra, Kristal dan Alex menoleh ke sumber suara. Mata Sandra berkaca-kaca ketika melihat orang yang ingin ditemuinya berada di depan mata. "Mama," Sandra berdiri lalu berlari ke pelukan mamanya.
Chloe menyambut anaknya dengan merentangkan tangannya. "Aku sangat merindukan mama," kata Sandra di sela-sela tangisannya.
"Mama juga sayang, maafkan mama selama ini mama mengabaikanmu," kata Chloe dengan penuh penyesalan.
"Sayang, maukah kamu ke rumah mama?" Ajak Chloe pada putrinya. Sandra tentu tidak akan menolak.
Kristal dan Alex menyaksikan keharuan itu di depan mata mereka. Setelah Sandra mengurai pelukannya, Sandra berpamitan pada Alex karena ia ingin ikut pulang ke rumah mamanya. Alex mengangguk paham.
Sandra masuk ke mobil mamanya. Ia melambaikan tangan dari dalam mobil ketika berpisah dengan Alex dan Kristal.
Setelah berkendara selama kurang lebih dua puluh menit di jalan raya, mobil Chloe memasuki halaman rumahnya. Sandra menghirup udara dalam-dalam. Ia sudah lama tak mengunjungi tempat kelahirannya.
"Ayo sayang, kita masuk!" Ajak Chloe. Sandra mengangguk.
Lalu ketika Sandra melangkahkan kakinya di rumah itu, Ernest terkejut. "Sandra cucu kakek," kata Ernest dengan suara bergetar.
"Kakek, Sandra rindu sama kakek," Sandra memeluk kakeknya dengan sayang.
"Mama siapin makanan dulu ya buat kamu, bicaralah dengan kakekmu," perintah Chloe. Dia begitu senang karena Sandra mau kembali ke rumahnya.
"Sayang, bagaimana kabarmu?" Tanya Ernest pada Sandra.
"Baik kek, kalau kakek?" Tanya Sandra balik.
"Kakek sangat kesepian setelah kepergianmu dan papamu. Begitu juga dengan mamamu, dia sangat menyesal telah menyia-nyiakan kalian. Oh ya bagaimana kabar papamu?"
"Dia baik."
Tak lama kemudian Chloe datang membawa dua cangkir teh dan camilan yang ia letakkan di atas nampan. "Minum dulu tehnya sayang." Sikapnya berubah begitu hangat. Sandra baru pertama kali mendapatkan perlakuan ramah dari sang ibu.
"Terima kasih, Ma," jawab Sandra sambil tersenyum.
"Kamu tinggal dimana sekarang?" Tanya Chloe.
"Aku tinggal di kos dekat kampus, Ma," jawab Sandra.
"Lalu dimana papamu?" Tanya Chloe sedikit ragu.
"Papa tidak berada di kota ini, dulu setelah keluar dari rumah ini papa mengajakku tinggal di luar kota. Di sana kami bertani dan berkebun. Dari situlah penghasilan kami setelah papa bangkrut." kata Sandra.
Chloe tidak tahu menahu kalau mantan suaminya itu bangkrut. "Maaf aku tidak tahu kalau kehidupan kalian sangat menyedihkan," kata Chloe yang menyesal.
"Kami melalui hari-hari dengan bahagia Ma. Bagaimana dengan mama?" Tanya Sandra.
Chloe tersenyum kecut. Yang ia lakukan setelah kepergian Sandra dan mantan suaminya adalah mabuk-mabukan setiap hari. "Mama kesepian Nak. Mama sangat merindukan kalian," jawab Chloe dengan jujur.
"Maukah kamu pindah dan tinggal di sini bersama mama? Ini juga rumahmu sayang," Chloe berusaha membujuk Sandra dengan halus.
"Bagaimana dengan papa?"
"Hanya untuk sementara selama kamu kuliah di kota ini," pinta Chloe. Sandra belum menjawab tapi Sandra tak dapat menolak permintaan sang ibu. Ia juga senang bisa tinggal bersama keluarganya.
Setelah itu Chloe mengantarkan Sandra kembali ke tempat kosnya. "Tolong pertimbangkan permintaan mama." Sandra mengangguk. "Akan Sandra kabari lagi nanti, mama pulanglah!" Pesan Sandra pada sang ibu.
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Chloe mencium kening Sandra untuk pertama kali setelah sekian tahun lamanya. Sandra benar-benar bahagia sekarang. Meski status orang tuanya sudah bercerai nyatanya sang ibu malah menjadi lebih sayang padanya.
Nabil tak sengaja melihat keakraban Sandra dan wanita yang baru pertama kali dia jumpai. "Siapa dia San?" Tanya Nabil.
"Nyokap gue," jawab Sandra tanpa ragu mengakui sang ibu.
"Nyokap gue udah pisah sama bokap tapi sekarang gue disuruh tinggal sama dia," kata Sandra.
"Terus elo pengennya gimana? Kalau menurut gue lebih baik tinggal sama orang tua daripada elo hidup di kos-kosan kaya gini." Nabil memberikan saran. Sebagai seorang sahabat tentunya mau yang terbaik untuk sahabatnya.
"Gue juga berpikir gitu, gue nggak mau membebani papa dengan membayar uang sewa kos, tapi sebenarnya gue emang pengen bisa deket sama mama," jawan Sandra dengan jujur.
"Jadi kapan elo pindah?" Tanya Nabil. Sandra menggedikkan bahunya.
Keesokan harinya Sandra meminta pendapat Alex. "Mama nyuruh aku pindah ke rumahnya." Sandra mulai bercerita pada Alex.
"Itu kesempatan bagus buat kamu sayang, bukankah selama ini kamu ingin dekat dengan mamamu?"
Sandra tampak berpikir. Benar apa yang dikatakan oleh Alex. "Aku akan mengemasi barang-barangku hari ini juga," kata Sandra dengan yakin.
"Mau aku bantu?" Tanya Alex menawarkan bantuan.
"Tidak usah, aku takut digrebek lagi sama pemilik kos," ledek Sandra pada kekasihnya sehingga membuat Alex malu mengingat kejadian memalukan beberapa hari yang lalu.
Sesampainya di tempat kost, Sandra berpamitan dengan pemilik kos. "Kenapa harus pindah? Tempatnya kurang nyaman ya?" Tanya ibu kos itu.
"Bukan bu, saya akan tinggal dengan orang tua saya," jawab Sandra.
Pemilik kos itu tak dapat mencegah kepergian Sandra. Nabil membantu Sandra mengemasi barang-barangnya. "Gue bakalan kangen nih sama elo," ucapnya dengan sendu pada Sandra.
"Ya ampun kaya mau pergi jauh aja, kita kan satu kampus," kata Sandra sambil terkekeh.
"Tapi sekarang elo tidur sama nyokap lo, kita jadi nggak bisa ngantri kamar mandi bareng deh."
"Maaf ya, Bil. Ini kesempatan aku buat deket sama mama," Sandra mencoba memberi pengertian pada Nabil.
"Iya gue ngerti kok." Nabil mengangguk paham.
Tin tin
Alex sudah membunyikan klakson mobilnya. "Gue pamit ya, udah ditungguin Alex buat nganter ke rumah mama," kata Sandra.
"Kapan-kapan gue boleh mampir nggak ke rumah nyokap lo?" Tanya Nabil ragu-ragu.
Sandra mengulas senyum. "Tentu saja boleh."
Lalu Sandra keluar dari tempat kosnya. Alex membantu membawakan barang bawaan Sandra masu ke dalam bagasi mobilnya. "Yakin, nggak ada yang ketinggalan?" Tanya Alex memastikan. Sandra menggeleng.
Lalu Alex membukakan mobil untuk kekasihnya. Ia melambaikan tangan pada Nabil. Nabil merasa kehilangan teman baiknya meski dia hanya pindah rumah.
"Sayang, apa aku perlu menjemputmu tiap hari selama kamu tinggal di rumah mamamu?" Tanya Alex pada kekasihnya.
"Tidak Lex, aku bisa naik taksi," jawabnya.
"Tapi aku takut kejadian seperti kemaren."
"Tidak semua driver jahat. Kemaren nasibku hanya kurang bagus." Alex tidak mendebat omongan Sandra lagi.
Tak terasa mereka sampai di depan rumah yang memiliki pagar menjulang tinggi.
Mobil Alex berhenti sejenak menunggu penjaga membukakan pintu gerbang untuknya.
"Silakan Den," kata penjaga tersebut.
Chloe tahu dalam waktu dekat Sandra akan datang. Maka Chloe memerintahkan penjaga rumah untuk membukakan pintu jika Sandra datang.
Sandra turun dari mobil. Ia juga mengajak sang kekasih turun dari mobilnya.