My Beloved Partner

My Beloved Partner
43



Setelah mengurus pemakaman Arum, Jaden dan Bia mengajak Banu tinggal sementara di rumahnya. Delima belum bisa diambil mengingat masih butuh perawatan apalagi ibunya baru saja meninggal. Pihak rumah sakit meminta keluarganya yang mengambil.Jika sampai seminggu keluarganya tidak ada yang mengambil barulah Bia boleh membawa Delima pulang.


"Kamu duduk di sini dulu ya," kata Bia pada Banu yang menyuruhnya duduk di sofa ruang tengah. Bia kemudian mengambilkan minuman dan camilan untuk Banu.


"Kakak cuma punya ini, nanti kita ajak kak Jaden makan di luar ya," kata Bia dengan ramah.


Jaden melihat Bia begitu perhatian pada Banu. Ia merasa beruntung memiliki istri yang berhati lembut seperti Bia. "Sayang, aku pesankan makanan delivery saja ya, kasian kamu kalau kecapekan," kata Jaden seraya mengelus perut Bia sayang.


Banu yang melihat interaksi pasangan itu jadi penasaran."Apakah dalam perut kak Berlian ada adik bayi juga?" tanya Banu polos.


Jaden dan Bia saling lempar pandang dan terkekeh mendengar pertanyaan dari anak sekecil Banu. "Iya sayang, tapi masih kecil sekali," jawab Bia sambil mengelus rambut Banu.


Ting tong


"Biar aku saja yang buka pintunya kamu temani Banu," kata Jaden.


Jaden membawa kotak yang berisi makanan.Bia menyambut dengan tangannya."Wah pizza, ayo kita makan sama-sama," kata Bia sambil menyobek potongan pizza untuk Banu.


"Kamu suka?" tanya Bia pada Banu. Ia yakin anak itu belum pernah memakannya.Banu hanya mengangguk dengan mulut penuh pizza.


"Makan yang banyak, kamu juga sayang," Jaden mengacak rambut istrinya sayang.


"Kak sini aku siapin," kata Bia pada suaminya.


"Kakak mau ganti baju dulu sayang, kamu habisin makannya sama Banu," tolak Jaden dengan halus.


Setelah itu Jaden meminta Bia mengantar Banu ke kamar tamu agar anak itu bisa beristirahat. "Ayo ikut kakak," ajak Bia sambil menggandeng tangan Banu.


"Wah kamarnya luas sekali kak," kata Banu yang kagum dengan kamar yang akan digunakannya untuk beristirahat.


"Iya sayang, malam ini kamu boleh tidur di sini," kata Bia sambil tersenyum.


"Kamu tidak senang?" tanya Bia yang melihat wajah Banu berubah jadi sendu.


Banu menggeleng."Aku sedih kak, aku tidak bisa tidur bareng ibu lagi," katanya sambil terisak.


"Jangan sedih ya, Allah lebih sayang sama ibu kamu, Banu bisa kirim doa biar ibu kamu tahu kalau anaknya ini sayang sama ibunya," Bia mencolek hidung Banu.Banu tersenyum mendengar gurauan wanita yang ada di hadapannya.


Bia menemani Banu sampai tertidur. Di ruang lain, Jaden menelpon asistennya. "Bagus tolong selidiki seseorang," kata Jaden pada Bagus namun belum selesai percakapannya dengan sang asisten, Bia memanggilnya.


"Kak lagi nelpon siapa?" tanya Bia. Jaden pun mematikan sambungan teleponnya.


"Owh, lagi nelpon Bagus," jawab Jaden.


"Besok sajalah kalau mau ngomongin kerjaan, oh ya kakak udah makan?" tanya Bia.


"Aku mau makan kamu," bisik Jaden ke telinga Bia.


"Dasar mesum," Bia mengerucutkan bibirnya.


Cup


Jaden memberikan kecupan singkat di bibir sang istri. Bia memukul dada bidang suaminya. "Ngapain sih?" protes Bia.


"Habis kamumancing-mancing aku," elak Jaden.


"Siapa yang mancing?" balas Bia dengan memberikan tatapan tajam.


"Itu tadi mulutnya manyun-manyun gitu, minta dicium kan?" goda Jaden yang malah membuat Bia murka dan ingin memukul Jaden.


Jaden berlari untuk menghindari pukulan Bia. Tapi Bia tersandung kakinya sendiri. Dengan sigap Jaden menangkap tubuhnya. "Hati-hati sayang," kata Jaden sambil mengerlingkan matanya sebelah.


"Haish, gak ada habisnya kalau ngerayu," gerutu Bia sambil berjalan cepat ke kamar. Padahal ia ingin menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu.


Banu menunduk."Semenjak ayah meninggalkan kami, aku tidak bisa membayar uang sekolah jadi aku dikeluarkan dari sekolah kak," ucap Banu dengan wajah sendu.


"Jangan khawatir Banu, kakak akan mengurus sekolahmu di sekolah lamamu,kakak akan membayar tunggakan uang sekolahmu, bagaimana?" kata Bia pada Banu tapi menoleh ke suaminya untuk meminta persetujuan.


"Iya sayang, lakukan sesukamu," kata Jaden.Bia tersenyum senang tanpa sadar ia memberikan kecupan singkat di pipi suaminya. Jaden terkesiap.


Setelah menyelesaikan sarapan Jaden berangkat ke kantor. Sedangkan Bia bersama Banu diantar supir menuju ke sekolah Banu agar anak itu bisa bersekolah kembali.


...***...


"Pak saya sudah menyelidiki orang yang bapak cari," lapor Bagus.


"Jadi bagaimana Gus?" tanya Jaden yang sedang duduk di kursi singgasananya.


"Dia tinggal berpindah-pindah pak, sepertinya karena masalah hutang piutang sehingga dia bersembunyi," kata Bagus.


"Kabari lagi kalau sudah ketemu, laki-laki itu harus menjemput anaknya di rumah sakit," tegas Jaden.


...***...


Di jalan yang sepi seorang laki-laki sedang dikerjar oleh sekawanan orang berbadan besar.Namun di tengah pelariannya kakinya tersandung sehingga ia pun jatuh tersungkur.


"Mau lari kemana kamu hm?" gertak laki-laki bertubuh besar yang mengejarnya.


"Tolong berikan saya kesempatan lagi untuk melunasi hutang-hutang saya," mohon laki-laki itu sambil menangkupkan telapak tangannya.


"Agh omong kosong kamu sudah sering membuat janji tapi mana buktinya kamu malah lari setiap kali kami tagih hutangmu," teriak laki-laki itu.


"Hajar," perintah pimpinan kawanan tersebut.


Saat itu Jaden yang baru pulang dari meeting di luar bersama klien tak sengaja melihat kejadian tersebut. Dia bukan orang yang cuek sehingga ia pun penasaran dengan orang yang dipukuli itu.


"Berhenti Gus," titah Jaden agar asistennya menghentikan laju mobilnya.


"Pak anda tidak harus ikut campur..." Jaden menyela,"aku hanya ingin memperingatkan mereka agar tidak main hakim sendiri," kata Jaden lalu ia pun keluar dari dalam mobil.


"Berhenti," teriak Jaden membuat sekawan orang yang memukuli seorang lelaki itu menghentikan aktivitasnya.


"Siapa kalian berani memerintah kami?" gertak laki-laki yang ada di hadapan Jaden.


"Atas dasar apa kalian memukuli laki-laki itu?" Jaden menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Dia tidak bisa bayar hutang,"


"Memangnya berapa hutangnya?" tanya Jaden.


"Seratus juta," kata laki-laki itu.


"Bohong, aku hanya berhutang sepuluh juta pada mereka, tapi mereka meminta sepuluh kali lipat uang yang aku pinjam," protes laki-laki yang habis dipukuli.


"Dasar lintah darat, orang seperti kalian ini sangat meresahkan, aku bisa membawa kalian ke kantor polisi atas dasar pemerasan," gertak Jaden.


"Buahahaha cuih," laki-laki itu tertawa mengejek lalu meludah.


"Sebaiknya kau tidak usah ikut campur kalau kau masih sayang nyawamu," ancamnya.


"Sebaiknya kau yang harus melindungi nyawamu kalau kau hanya punya satu nyawa," kata Jaden sambil memberikan tatapan membunuh pada kawanan tersebut.


...***...


Apakah yang akan terjadi setelah itu? ikuti terus ceritanya ya klik tanda love buat jadi novel favorit kalian.