
"Apa kabar?" Tanya Alex pada Sandra ketika mereka sedang berdua.
"Ba-baik," jawab Sandra dengan gugup. Ia mere*mas tangannya.
Alex memperhatikan gerak-gerik Sandra. "Apa hukuman yang pantas kuberikan padamu?" Sandra tidak menjawab pertanyaan Alex.
"Apa saja, kau boleh menghukumku dengan berlari keliling lapangan," kata Sandra yang pasrah. Ia menyadari waktu itu ia pergi tanpa mengabari Alex.
"Apa itu cukup untuk menghukum gadis yang meninggalkan kekasihnya tanpa alasan?" Perkataan Alex membuat Sandra mengerutkan keningnya. Ia tak menyangka Alex masih mencintainya.
"Maafkan aku," ucapnya dengan lirih lalu menitikkan air mata.
Alex melihat temannya mendekat ke arahnya. "Simpan air mata kamu, sekarang kamu keliling lapangan," perintah Alex berpura-pura tegas di hadapan Sandra.
"Dua puluh kali," timpal senior wanita bernama Dewi itu.
"Nggak usah banyak-banyaklah nanti dia pingsan lagi," protes Alex pada Dewi.
"Suka-suka gue dong," jawab Dewi tak terima.
Sandra pun berjalan lalu mengikuti perintah Dewi. "Sialan tuh cewek, gue bisa pingsan kalau begini," gerutu Sandra di dalam hatinya.
Sandra mulai putaran pertamanya. Semua peserta melihat Sandra dihukum sedangkan mereka sedang beristirahat setelah baris-berbaris.
"Bos, Sandra bisa pingsan tuh kalau dia keliling lapangan dua puluh kali, elo nggak kasian sama dia?" Tanya Andi yang berada di samping Alex saat itu. Alex tak menjawab omongan Andi. Ia masih memperhatikan Sandra.
Setelah sembilan belas kali putaran, Sandra tampak terseok-seok. Andi mengingatkan Alex agar menghentikan hukumannya. Alex tak dapat berbuat apa-apa karena Dewi adalah ketua panitia dalam acara OSPEK kali ini. Dan ketika Sandra hampir menyelesaikan hukumannya, ia pingsan.
Alex hendak menolongnya tapi seseorang sudah mengangkat tubuh Sandra lebih dulu. "Wah si Zidan curi start duluan bos," kata Andi sambil menunjuk Zidan yang sedang mengangkat tubuh Sandra.
Alex mengepalkan tangannya ketika melihat Zidan anak semester tiga yang tak lain adalah sepupunya itu menggendong Sandra yang sedang pingsan.
"Akhirnya kita bertemu setelah sekian lama," kata Zidan sambil membopong Sandra yang pingsan.
Pemuda itu membawa dia ke klinik kampus. "Kenapa dia?" Tanya Petugas klinik.
"Pingsan habis lari keliling lapangan Bu," jawab Zidan.
"Baringkan di sini!" Petugas itu menepuk ranjang yang kosong.
Ia memberikan bau-bauan agar Sandra sadar. Tak lama setelah itu Sandra mengerjapkan matanya. "Saya minta orang bawa teh hangat ya kemari, kamu bisa jaga dia sebentar?" Tanya petugas itu pada Zidan. Zidan mengangguk.
Zidan mendekat ke arah Sandra. "Kamu baik-baik saja?" Tanya Zidan dengan lembut.
"Zi-Zidan kamu kuliah di sini juga?" Tanya Sandra yang baru sadar.
Ia memegangi kepalanya saat berusaha bangun. "Jangan bangun dulu, istirahat saja." Sandra pun menurut.
"Aku kuliah semester tiga, kamu kemana saja? Aku mencarimu," kata Zidan.
"Aku diajak orang tuaku pindah keluar kota," jawab Sandra dengan jujur.
"Kamu kenapa baru mendaftar sekarang, coba kamu mendaftar tahun lalu pasti sudah satu tingkat sama aku."
"Aku baru punya tabungan untuk kuliah," Zidan tak percaya dengan omongan Sandra. Karena seingatnya yang bersekolah di SMA tempatnya bersekolah dulu adalah anak-anak orang kaya. "Apa orang tuanya bangkrut hingga dia harus pindah keluar kota?" pikir Zidan.
Tak lama kemudian, petugas itu datang ke klinik membawa teh hangat. "Diminum dulu biar kamu enakan," perintahnya.
"Terima kasih," kata Sandra sambil menerima gelas teh itu.
"Kalau sudah baikan aku anterin kamu pulang," kata Zidan.
"Nggak perlu, aku masih kuat ngikutin kegiatan kampus sampai seharian," tolak Sandra yang bersikekeh melanjutkan kegiatan OSPEK.
Zidan menyentil kening Sandra. "Jangan bandel, wajah kamu pucat kamu bisa pingsan lagi," kata Zidan. Ia menarik tangan Sandra dengan paksa.
Perlahan Alex melepaskan pegangan tangan Zidan. "Ini masih jam kampus, dia harus kembali mengikuti kegiatan OSPEK," putus Alex lalu membawa Sandra ke belakang punggungnya.
"Lo tahu kan kalau dia lagi sakit, kenapa masih lo paksa?" Tanya Zidan dengan penuh penekanan.
"Dia tanggung jawab gue," kata Alex.
"Tanggung jawab lo? Emang lo siapanya?" Tanya Zidan.
Alex tersenyum mengejek. "Gue belum putus sama Sandra, gue masih resmi jadi pacarnya asal lo tahu aja," ucap Alex lalu mengajak Sandra pergi meninggalkan Zidan.
Zidan yang merasa kesal seolah meninju udara. Ia meraup mukanya kasar karena frustasi.
Sandra hanya bisa pasrah saat Alex menarik tangannya. Tapi dia bingung ketika Alex membawanya ke tempat parkiran. "Lex, lo mau bawa gue kemana?"
"Antar lo pulang," jawab Alex sambil membukakan pintu mobil untuk Sandra.
"Tapi Lex tempat kost gue deket ko dari kampus, jalan kaki juga nyampai," kata Sandra.
"Cepetan naik, gue nggak mau elo pingsan lagi gara-gara jalan kaki," kata Alex dengan nada dingin. Sandra hanya menurut perintah Alex.
...***...
"Woi, gue bawa berita besar," kata Andi pada Agung dan Amar yang ada di kantin.
"Alah paling curhatan lo yang mau gebet Ciara kan? Basi tahu," cibir Agung.
Andi melempar tisu ke arah Agung dan mengenai mukanya. "Bukan itu, Sandra kuliah di kampus ini."
Bruss
Amar menyemburkan minumannya ke muka Agung. "Rese lo tadz, kira-kira dong," sungut Agung yang jadi korban.
"Elo liat dia dimana?" Tanya Amar dengan wajah serius.
"Gue kan panitia OSPEK," kata Andi dengan jumawa.
"Sombong amat, jadi tahun ini dia baru masuk kuliah?" Tanya Agung antusias. Andi mengangguk.
"Wah bakalan CLBK nih bos Alex sama Sandra," ucapan Amar dibenarkan oleh Agung.
"Tapi elo pada nggak tahu kan, Sandra tadi sempat pingsan, dan kalian tahu siapa yang nolongin?" Andi meminta temannya menebak.
"Bukan bos Alex?" Agung balik bertanya.
"Zidan Zidun," jawab Andi.
Brak
"Wah rese tuh si Zidan, selalu jadi saingan bos Alex, minta dihajar dia, by the way darimana dia tahu kalau Sandra kuliah di sini?" Tanya Amar. Andi menggedikkan bahunya.
...Flashback On...
Mobil Zidan baru memasuki gerbang kampus. Ketika ia mengedarkan pandangannya, ia tak sengaja melihat Sandra yang memakai setelan hitam putih. Ia bisa menebak kalau Sandra menjadi mahasiswa baru di kampusnya.
Zidan mengulas senyumnya. "Setelah sekian lama elo menghilang akhirnya elo muncul juga," gumam Zidan.
Usai mengikuti kuliah di hari pertama ia menuju ke tempat OSPEK. Tak disangka ia melihat Sandra sedang dihukum oleh para seniornya. Zidan mengepalkan tangan ketika melihat Sandra dihukum. Tapi Zidan masih memperhatikan gadis yang ia taksir itu dari kejauhan. Setelah langkah Sandra mulai melemah, Zidan maju untuk menolong Sandra yang hampir pingsan.
Tubuh Sandra hampir saja menyentuh tanah kalau saja Zidan tak menangkapnya lebih dulu. Dengan tangan kekarnya Zidan menggendong Sandra menuju ke klinik yang ada di area kampusnya.
...Flashback off...