
"Assalamualaikum," Bia memberikan salam ketika baru masuk ke rumahnya.
"Waalaikumsalam," jawab Ara lalu menoleh ke sumber suara.
"Berlian," kaget Ara melihat putrinya pulang tanpa pemberi tahuan lebih dulu.
"Kamu pulang nak? Kenapa tiba-tiba? Apa kamu memutuskan untuk tinggal lagi di sini?" cecar Ara pada putrinya yang baru datang.
"Ma Bia di sini hanya untuk menggantikan tante Andrea mengurus event yang tidak dapat ia pegang, karena kak Bulan akan bertunangan," terang Bia.
"Apa kakakmu akan bertunangan? Tantemu tidak bilang sama mama," kata Ara.
"Nanti mama tanya saja sama tante, Bia boleh istirahat? Bia capek," kata Bia.
Setelah Bia menaruh kopernya di sudut kamar ia merebahkan diri di atas ranjangnya yang rapi. Ara memang selalu membersihkan kamar Bia walaupun selama tiga tahun ini putrinya tinggal di luar negeri. Ibu yang hanya memiliki putri tunggal itu yakin suatu hari Bia akan pulang ke rumah tinggal bersama mereka seperti dulu.
"Aku kangen sama suasana di rumah, aku juga kangen sama kamu Jaden," gumam Bia sambil memejamkan mata.
Tak terasa hari sudah malam Bia terjaga dari tidurnya. Setelah menempuh perjalanan jauh menaiki pesawat terbang tubuhnya terasa kaku sehingga ia tertidur pulas saat kembali ke rumah.
"Ya ampun udah jam segini masih tidur aja," Ara menggelengkan kepalanya melihat putrinya itu tidur dengan posisi tengkurap dan masih memakai heels.
"Bia bangun sayang, papa udah nunggu kamu buat makan malam," Ara mencoba membangunkan putrinya.
"Emm udah jam berapa ma?" tanya Bia seraya membalik badannya.
"Jam tujuh malam, kamu cepetan mandi kami tunggu di bawah," jawab Ara.
Ara keluar dari kamar Bia. Sedangkan gadis itu mulai masuk ke kamar mandi dan melakukan ritualnya.
Setengah jam menunggu di meja makan putrinya tak kunjung turun." Mana anak itu ma?" tanya Rasya.
"Entahlah, masa iya anak itu habis mandi tidur lagi," kata Ara.
"Pa nanti jangan singgung nama Jaden ya di depan Bia, mama takut dia kabur lagi ke Jerman," imbuh Ara.
"Iya ma, tenang saja, ngomong-ngomong apa kabar ya Jaden, aku juga merasa bersalah tidak bisa mendidik Bia dengan baik sehingga ia tega menyakiti hati laki-laki sebaik Jaden," kata Rasya dengan penuh penyesalan.
...***...
Keesokan harinya Bia mengunjungi hotel yang akan mengadakan peresmian gedung baru. Ia harus mengecek kesiapan sebelum acara dimulai.
Dengan setelan blazer hitam dan rok span di atas lutut ditambah sepatu high heels yang ia kenakan membuat penampilannya begitu sempurna.
"Bagaimana persiapannya,apa ada masalah?" tanya Bia pada salah seorang anak buahnya yang mengurusi dekor.
"Semuanya beres bu," kata laki-laki itu pada Bia.
Di sisi lain Jaden mengamati Bia dari jauh. Ia kemudian mengambil ponsel dari dalam jasnya. "Bawa wanita itu padaku," titahnya pada seseorang yang ia telepon.
Dengan senyum licik sambil menatap Bia dari jauh ia kemudian berjalan memasuki lift dan menuju sebuah kamar presiden suite.
"Nona bisa bicara sebentar? atasan kami ingin bertemu dengan anda," kata laki-laki yang memakai setelan jas rapi.
"Owh baiklah," tanpa menaruh rasa curiga Bia mengikuti laki-laki suruhan Jaden.
Bia pun masuk. Sedangkan laki-laki tadi berjaga di luar kamar. Bia melihat seseorang yang sedang berdiri di samping jendela sambil memegang gelas di tangannya.
"Permisi pak, anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Bia dengan hati-hati.
Laki-laki itu berbalik badan. Betapa terkejutnya Bia saat melihat wajah yang tidak asing baginya. Ia mundur satu langkah. Badannya hampir terhuyung ke tanah. Namun dengan sigap Jaden menangkap tubuh Bia.
Bia masih terpaku melihat wajah Jaden. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi laki-laki yang telah ia campakkan. Jaden tersenyum pada Bia lalu ia mengangkat tubuh ringkih itu.
Bia yang tersadar dengan kelakuan Jaden berusaha memberontak. Kakinya bergerak-gerak dan tangannya memukuli dada bidang Jaden.
"Lepasin aku, lepasin," berontak Bia namun Jaden tak menghiraukannya.
Ia melempar tubuh Bia ke atas ranjang lalu mengungkungnya. "Kali ini aku tidak akan melepaskanmu honey," kata Jaden dengan seringai licik.
Ia merobek rok Bia lalu membuka paksa blazer yang ia kenakan hingga menyisakan bagian pakaian dalamnya saja. Bia menangis tersedu-sedu namun Jaden tak merasa iba sedikit pun Kini ia dibutakan dengan kekesalan yang ia pendam selama tiga tahun.
"Maafkan aku tapi aku mohon jangan lakukan ini padaku," isak gadis itu di bawah kungkungan Jaden.
Jaden seolah tuli, ia sudah diselubungi oleh hawa nafsu. Jaden menciumi bibir Bia dengan kasar. Ia ******* bibir yang belum pernah ia sentuh selama mereka pacaran karena Jaden begitu menjaga kehormatan Bia saat itu. Namun apa yang ia dapatkan, Bia malah mencampakkan dirinya. Kini Jaden meluapkan semua kerinduannya.
"I miss you honey," ucapnya di sela-sela kegiatannya menciumi bagian leher Bia.
Bia merasakan sesuatu yang aneh saat Jaden menyentuhnya. Ia merutuki kebodohannya yang menerima setiap sentuhan yang diberikan laki-laki yang pernah menjalin kasih dengannya itu.
Setelah puas bermain-main di bagian leher Jaden turun ke bukit kembar milik Bia. Ia melahap dengan rakus bak anak kecil yang minta disus*i ibunya.
"Aagh tolong hentikan," Bia tak tahan dengan ciuman yang Jaden berikan secara bertubi-tubi di setiap inci tubuhnya. Ia mulai lemas untuk melawan tubuh kekar Jaden. Ia tak sanggup lagi. Gadis itu pasrah saat Jaden melakukan penyatuan.
"I love you honey," ucapnya saat Jaden merasakan kenikmatan setelah mencicipi tubuh Bia.
Bia tak menyangka Jaden akan berbuat senekat ini. Ia tidak menyangka Jaden seorang laki-laki yang br*ngs*k.
"Aaaaa..." teriak Bia sambil memukul-mukul ranjang yang ia tiduri. Ia masih terus saja menangis.
Jaden tersenyum puas. Ia telah memberikan hukuman pada wanita yang telah meninggalkan dirinya.
"Andai saja kau tak meninggalkanku mungkin hal ini tidak akan terjadi," ucap Jaden sebelum keluar dari kamar tersebut.
"Jaga dia untukku," titah Jaden pada laki-laki yang bertugas menjaga kamar tersebut.
Setelah melakukan aksinya Jaden tampak ceria. Julian merasa heran sudah tiga tahun terakhir semenjak ia ditinggalkan kekasihnya, Julian tak pernah melihat saudara kembarnya itu tersenyum.
"Hai apa yang membuatmu bahagia kali ini?" tanya Julian penasaran. Ia hadir dalam peresmian hotel baru yang didirikan oleh Jaden yang ia namai J&B (Jaden dan Berlian).
"Kau selalu ingin tahu apa yang aku lakukan," ledek Jaden.
"Tentu saja, sebagai saudara kita harus berbagi," perkataan Julian membuat Jaden memicingkan matanya.
"Cih, aku tak sudi berbagi denganmu," kata Jaden karena ia tak mungkin berbagi wanita yang sangat ia cintai.
...❤️❤️❤️...
Terima kasih sudah menunggu up bab selanjutnya.