
Selama kedua orang tuanya pergi ke dokter kandungan, Sovia ikut dengan orang tua Julian. Hari ini Darren mengajak gadis berusia 3,5 tahun itu ke kantornya.
Semua karyawan Darren merasa gemas melihat balita yang gembul itu. Sovia sangat aktif hingga Darren kewalahan dibuatnya.
"Sayang jangan lari-lari!" larang Darren. Dia khawatir cucunya itu terjatuh.
"Kena kamu." Jaden menangkap anak kecil itu. Sovia terkekeh ketika digelitiki oleh pamannya.
"Dia kok ikut daddy?" Tanya Jaden yang sedang menggendong keponakan kecilnya itu.
"Orang tuanya sedang ke dokter, dia tidak ada yang menjaga, jadi daddy ajak dia kesini."
"Mommy kemana?" Tanya Jaden.
"Mommymu ada di rumah," jawab Darren. Laki-laki itu tidak tahu kalau istrinya sedang pergi ke salon bersama menantunya yang satu lagi.
...***...
"Jadi daddy ajak Sovia ke kantor mom?" Tanya Bia penasaran. Saat ini kapster sedang mengeringkan rambutnya yang habis dikeramas.
"Iya, baik kan daddy. Mungkin dia ingin berlama-lama dengan cucunya. Kamu sekali-kali ajak Al main ke rumah." Perintah Celine pada menantunya.
"Siap mom. Aku titipin Al sama mama, kejadian waktu itu bikin aku trauma kalau mau nyewa jasa baby sitter lagi." Sekilas bayangan kejadian penculikan yang menimpa anaknya itu terlintas di dalam benaknya.
"Iya Bi, tapi nggak semua orang kaya mantan baby sittermu itu."
"Mommy benar."
...***...
"Apa jenis kela*minnya, Dok?" Tanya Julian tidak sabar ketika istrinya sedang di USG.
"Laki-laki, Pak," jawab dokter tersebut. Julian berucap syukur dan berkaca-kaca mendengarnya.
"Ibu dan bayinya sehat ya, jadi saya akan tulis resep vitaminnya saja," kata dokter memberi tahu.
Seusai dari klinik ibu dan anak Julian mengantar istrinya ke rumah orang tuanya. "Lho semua orang kemana Bi?" Tanya Julian pada asisten rumah tangga di rumah orang tuanya.
"Sedang keluar Den," jawabnya singkat.
"Kamu tunggu saja di kamar, tidurlah selagi mereka belum pulang!" Perintah Julian dipatuhi oleh istrinya itu.
Kembaran Jaden itu kini berada di kantor. Dia melihat anak kecil yang mirip dengan anaknya berlarian di luar ruang kerja ayahnya. Setelah menajamkan penglihatannya Julian memastikan kalau anak kecil tersebut adalah Sovia.
"Kamu kok bisa di sini sayang?" Tanya Julian pada putri kecilnya itu.
"Itut opa," jawab Raina dengan kata-katanya yang kurang jelas.
Lalu Julian menggandeng anaknya masuk ke dalam ruangan. Saat ia masuk, ia melihat Jaden juga ada di ruangan itu.
"Ada apa?" Tanya Julian seraya melihat Jaden dan Darren secara bergantian.
"Kamu sudah balik?" Tanya Darren.
"Bagaimana permeriksaannya?" Tanya Darren pada putranya mengenai kandungan menantunya.
"Baik dad, aku rasa Al akan punya teman bermain," kata Julian.
"Jadi anakmu laki-laki, Bang?" Tanya Jaden memastikan. Saudara kembarnya itu mengangguk.
"Wah selamat, Bang. Kamu bakal punya sepasang anak yang lucu-lucu," ucap Jaden yang turut senang mendengarnya.
"Bagaimana denganmu, apa kamu tidak ingin menambah momongan lagi?" Tanya Julian pada adik kembarnya itu.
"Itu sih terserah Bia kapan siapnya dia saja aku tidak terlalu menuntut istriku memiliki banyak anak," jawab Jaden bijak.
...***...
Hari-hari berlalu begitu cepat kandungan Raina sudah mulai mendekati HPL (Hari Perkiraan Lahir).
"Mas cuti saja ya, mas khawatir kamu tiba-tiba melahirkan," ucap Julian yang khawatir dengan kondisi istrinya.
"Mas, tidak perlu khawatir, kalau mas mencemaskanku minta tolonglah pada mommy untuk menemani aku, Mas."
"Baiklah aku akan meminta mommy menemani kamu, sayang." Julian mengecup kening Raina agak lama. Lalu ia menunduk untuk menyapa anaknya yang ada di dalam perut istrinya.
"Kamu jangan nakal ya nak." Julian mengelus perut istrinya yang besar itu.
"Daddy, endong-endong." Sovia meminta gendong pada ayahnya. Tangannya dinaikkan ke atas agar Julian mengangkat tubuh bocah kecil itu.
Julian menuruti kemauan putrinya. "Sovia jaga mommy kamu ya daddy kerja dulu cari duit buat beli mainan," kata Julian seraya menggendong sang putri.
Keduanya melambaikan tangan ketika Julian masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba Raina merasakan mulas yang begitu hebat di perutnya. Ia pun terjatuh. Sovia menangis karena ibunya pingsan. Beruntung ada asisten rumah tangga yang menemukan Raina.
"Jangan menangis sayang, kita telepon papamu."
Julian yang baru setengah jalan mengerutkan keningnya saat mendapat panggilan telepon dari sang istri.
Lalu Julian menepi. "Hallo ada apa sayang?"
"Pak ini saya Bi Asih, nyonya pingsan pak, ketubannya pecah," kata Bi Asih dengan nada bergetar karena panik.
"Shiiit," umpat Julian. Ia memutar mobilnya lalu kembali ke rumahnya. Tak butuh waktu lama Julian tiba di depan rumahnya. Sovia masih saja menangis.
"Bi kamu ikut saya, bawa Sovia sekalian." Perintahnya pada asisten rumah tangganya.
Julian menggendong tubuh Raina dan membaringkannya di kursi bagian belakang. Ia melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
...🌼🌼🌼...
Hallo dears aku mau ingetin ya buat dukung karya aku dengan menonton iklan di kolom hadiah. Kalian nggak perlu mengeluarkan poin sepeser pun ya guys cukup tonton iklannya sampai selesai aja. GRATIS gak sampai 5 detik.