My Beloved Partner

My Beloved Partner
137



Alex, Amar, Agung dan Andi berjalan menuju ke kelasnya. "Apaan tuh bos suaranya rame dari lapangan basket," kata Amar.


"Sandra, Sandra, Sandra." Semua orang meneriaki nama Sandra. Bella mendorong agar gadis itu menuju ke tengah lapangan.


Sandra gugup dan mencengkeram pegangan pom-pom dengan erat. Tangannya mulai dingin karena merasa gugup.


Seseorang memutar lagu. Sandra mulai bergerak mengikuti irama. Tak ada yang menyangka kalau dia begitu lincah menari. Bella pun terkejut. Niatnya ingin mempermalukan Sandra di depan umum malah banyak siswa yang kagum akan kepiawaiannya menari menggunakan pom-pom tersebut.


"Gila, si Sandra keren bener," ujar Agung yang tak kalah kagum melihat kepintaran Sandra menari.


Sesekali Sandra melempar pom-pom lalu menangkapnya. Terakhir ia melakukan gerakan split sempurna. Semua orang meneriaki Sandra dan memberikan tepuk tangan.


Sandra berjalan ke arah Bella. "Gimana, elo puas?" Sindir Sandra. Bella menghentakkan kakinya karena kesal. Ia tahu Bella berniat mempermalukannya di depan teman-temannya.


"Kita sambut ketua cheerleadear kita yang baru, Sandra," seru Andi di depan kelas. Sandra menoyor kepala Andi ketika sampai di kelas.


"Ketua pala lo," cibir Sandra. "Bella mau lo kemanain?"


"Yang, elo kok bisa keren gitu sih?" Tanya Agung yang iseng menyebut kata 'Yang' pada Sandra.


Alex lalu memberikan tatapan tajam pada Agung. "Iye, Bos. Ane paham."


Sandra senyum-senyum sendiri. "Gue anggota cheerleader juga pas di SMP," jawabnya.


"Pantesan," sahut Ciara.


"Yang tadi keren banget lho San, gue rekam." Amar menunjukkan hasil rekamannya.


"Ck, hapus aja deh!" Sandra seolah tidak peduli.


"Anak-anak, hari ini kita ulangan," kata seorang guru yang masuk ke dalam kelas.


"Yaaaa.." Heboh satu kelas karena ulangan dadakan yang diadakan gurunya.


...***...


Setelah bel pulang sekolah, Alex mengajak Sandra pulang bareng. Sandra mengerutkan keningnya. "Ada angin apa lo ngajak gue pulang bareng?' Tanya Sandra sinis.


"Pengen aja."


"Tapi gue nggak pengen." Sandra menjulurkan lidahnya pada Alex.


"Cia, tungguin gue!" Teriak Sandra sambil berlari mengejar Ciara, sahabatnya.


Sandra tidak langsung pulang ia sudah janji pada anak-anak jalanan yang ia temui tadi pagi untuk mengajari mereka baca tulis.


"Kakak udah dateng?" Tanya Andre, salah satu anak jalanan.


Sandra mulai mengajari mereka huruf dan angka yang ia ia tulis di sebuah papan tulis kecil. Alex sengaja mengikuti Sandra sejak keluar dari gerbang sekolah. Ia tidak menyangka Sandra memiliki hati yang mulia dengan mengajarkan anak-anak itu baca dan berhitung.


Alex menunggu sampai Sandra selesai mengajari mereka. Seusai Sandra mengemasi barang-barangnya, Alex mendekat ke arah Sandra. Sandra terkejut dengan kedatangan pemuda itu.


"Alex? Elo ngikutin gue?" Tanya Sandra. Alex mengangguk. Lalu ia menyodorkan sebotol air mineral untuk gadis itu. "Thanks," kata Sandra sambil menerima botol tersebut.


"Gue nggak nyangka elo baik banget," puji Alex.


Sandra menarik ujung bibirnya. "Hanya mengajari sedikit ilmuku, lagipula ilmuku tak akan berkurang walau sudah kubagi," jawab Sandra.


"Aku juga mau bantu," kata Alex. Sandra tersenyum. "Kamu kan udah ngasih mereka sarapan tiap hari. Aku tahu kok alasan kamu terlambat, karena kamu mengirim makanan kan ke mereka tiap pagi, tapi kamu nggak langsung berangkat karena kamu menunggui mereka sampai selesai."


Alex mengulas senyumnya. "Aku hanya kasian pada mereka, ibuku mengajarkan aku untuk berbagi pada orang yang membutuhkan."


"Mama kamu baik nggak seperti mamaku," gumam Sandra sambil mengerucutkan bibirnya.


Alex menangkap sisi yang berbeda ketika dia membicarakan mamanya pada Sandra. Sandra terkesan iri, ada apa sebenarnya dengan ibunya Sandra? Pertanyaan itu muncul di dalam benak Alex.


"Udah sore, elo mu gue anterin pulang nggak?" Tawar Alex.


"Nggak usah Lex, next time aja ya, gue tahu elo orang baik, tapi gue lebih nyaman kalau naik angkot saja," tolak Sandra.


"Ya udah elo hati-hati!" Alex mengacak rambut Sandra sebelum gadis itu pergi.


Jantung Sandra berdegup kencang saat rambutnya diacak oleh pemuda yang ada di depannya itu. Wajahnya juga memerah karena malu. Ia segera memalingkan muka dan berjalan menjauh dari Alex.


Sandra memegangi pipinya yang terasa panas. "Aku kenapa ya?"


...***...


Sesampainya di rumah, Chloe sudah bersidekap dan menunggu kepulangan Sandra. "Darimana saja kamu pulang sampai sore begini?" Tanya Chloe pada putrinya.


"Sandra ada ekstra kurikuler, Ma," jawab Sandra dengan gugup.


"Bohong! Mama lihat kamu mengobrol dengan laki-laki di pinggir jalan," Sarkas Chloe.


Sandra ketahuan, ia mengulum bibirnya. "Kamu harus dihukum," kata Chloe. Wanita itu menyeret Sandra dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Chloe mengguyur putrinya itu dengan kasar.


"Jangan coba-coba pacaran kamu ya, sekolah dulu yang bener," bentaknya.


"Ampun, Ma." Tapi kalimat itu tak diindahkan oleh Chloe, sandra diguyur sampai badannya kedinginan dan basah kuyup padahal dia masih menggunakan seragam sekolahnya.


"Sudah, Bu. Kasian Non Sandra," kata mbok Darmi. Chloe pun menghentikan perlakuan kasarnya pada Sandra. Mbok Darmi lalu menghampiri Sandra dan memakaikan handuk padanya.


"Mama kejam banget mbok sama aku," rengek Sandra di sela-sela tangisannya.


"Yang sabar ya, Non." Mbok Darmi membawa Sandra ke dalam pelukannya.