
Agung, Andi dan Amar mencari keberadaan ketua gengnya. "Noh, si bos." Tunjuk Amar. Mereka pun mendekati Alex.
"Sekalian, Bos. Es teh tiga ya," perintah Amar pada Alex. Alex menjitak kepala Amar. "Eh pak ustadz, pesen sendiri sono!" Amar mengusap kepalanya yang sakit.
"Nih, minum dulu teh hangatnya!" Kata Alex sambil memberikan segelas teh hangat dan roti untuk Sandra.
"E cie cie cie...." ledek teman-teman Alex. Alex berpura-pura akan memukul mereka.
"Makasih Lex," ucap Sandra lemah.
"Mau gue antar pulang?" Tanya Alex pada gadis yang terlihat lemah itu.
Sandra tersenyum. "Nggak usah, gue istirahat dulu di UKS aja, lagian jam segini di rumah juga tidak ada orang," bohong Sandra. Sandra takut dimarahi oleh ibunya.
"Ya udah, elo nggak usah ikut pelajaran seharian ini." Alex mengelus rambut Sandra.
"Ya ampun Andi, elo kenapa?" Tanya Agung mendramatisir.
"Gue sakit kepala," jawab Andi pura-pura.
"Ya udah gue gendong ke UKS yuk, kita nggak usah ikut pelajaran," jawab Agung. Andi pun nemplok ke punggung Agung dan hendak berjalan ke UKS. Sayang langkah mereka dihadang oleh Alex.
"Lo mau ini?" Alex menunjukkan tangannya yang dikepal. Amar hanya bisa tertawa melihatnya. Begitupun dengan Sandra. Entah kenapa geng A4 itu lucu sekali kalau sedang berantem.
...***...
Ketika di dalam kelas.
"Siapa sekretaris di kelas ini?" Tanya Pak Handi.
Alex mengangkat tangan. "Sandra sedang sakit, Pak. Sekarang dia ada di UKS," jawab Alex.
"Oh, baiklah. Alex kamu bisa bantu bagikan kuesioner ini lalu kumpulkan lusa! Setelah itu bisakah kamu report ke komputer?" Perintah Pak Handi.
"Baik, Pak. Nanti saya dan Ciara akan menggantikan Sandra." Alex menoleh pada Ciara. Ciara mengangguk patuh.
"Ya sudah, kita akhiri pelajaran hari ini. Selamat siang semuanya," salam Pak Handi sebelum keluar kelas.
"Selamat siang, Pak," jawab seluruh murid-murid di kelas dengan kompak.
"Ci, elo bawa dulu kertas-kertasnya nanti gue bantu ngerjain, sekarang gue mau nganter Sandra pulang. Ndi, pinjam mobil lo!"
Andi pun melempar kunci mobilnya. Alex menangkap kunci itu dengan mudah. "Jangan sampai lecet bos, bisa digorok sama bokap gue ntar," teriak Andi.
Alex pun berjalan ke UKS. Tapi ketika dia masuk, Sandra sudah tidak ada. "Lho kemana dia?" Gumam Alex. Ia pun memindai ke seluruh sekolah. Ternyata Sandra sudah berjalan duluan sampai ke depan gerbang. Alex buru-buru mengambil mobil Andi.
Tin tin
Bunyi klakson itu mengagetkan Sandra yang sedang menunggu taksi online yang ia pesan. Alex membuka kaca mobilnya. "Alex?"
"Masuk, San. Gue anter lo pulang," kata Alex.
"Woi jangan ngalangin jalan gue," teriak pemilik mobil di belakang Alex.
"Buruan masuk!" Perintah Alex pada Sandra. Sandra memutar bola matanya malas. Mau tak mau gadis itu menuruti kemauan Alex agar mobilnya tak menghalangi jalan.
"Gue anter elo ke alamat yang waktu itu,kan?" Kata alex. Sandra hanya mengangguk.
Setengah jam kemudian mereka sampai di depan rumah Sandra. "Jadi yang mana rumah lo?" Tanya Alex pada Sandra sebelum gadis itu turun.
"Persis di depan lo." Sandra menunjuk rumah dengan pagar putih menjulang tinggi tersebut.
"Gede juga rumah lo," kata Alex.
Sandra turun. Alex mengikutinya. Sandra lalu menoleh dan menatap Alex. "Mau ngapain lo?" Tanya Sandra sambil memicingkan matanya.
"Ikut lo ke dalam." Alex mendahului langkah Sandra.
"Alex," panggil Sandra tapi Alex tak menghiraukannya.
Sesampainya di depan pintu, Alex terkejut saat bertemu dengan seorang wanita. "Mama," ucap Sandra dengan lirih.
"Siapa kamu?" Tanya Chloe dengan nada dingin.
"Ma, dia teman sekolahku." Sandra berdiri di depan Alex seolah menghadang mamanya. Alex mengerutkan kening. "Kenapa Sandra seolah tidak memperbolehkan aku memperkenalkan diri?"
"Lex sebaiknya elo pulang aja." Sandra mengusir pemuda itu. Alex pun pergi dari rumah Sandra.
Alex masih heran dengan sikap dingin ibunya Sandra. Namun, ia tak ambil pusing. Alex mengembalikan mobil Andi ke sekolah.
"Ya elah si bos mana sih, panas banget nih, keburu kering kita di sini," keluh Agung.
"Sabar, Gung. Elo jadi orang nggak sabaran. Kalau lagi panas elo minta hujan kalau lagi hujan elo minta panas," Amar menggelengkan kepalanya. "Ngerepotin hidup lo," cibir Amar.
Tak lama kemudian mobil Andi yang dikendarai oleh Alex berhenti di depan ketiga cowok tersebut.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba," ucap Agung.
"Emang elo tahu Gung apa artinya?" Tanya Andi.
"Kagak, gue ikut-ikutan doang ngomong begitu," Amar dan Andi bergantian menoyor kepala Agung.
"Thanks ya, Bro." Alex melempar kunci mobil ke arah Andi.
"Gimana bos tadi ketemu sama calon mertua?" Ledek Agung dengan mulutnya yang ceplas-ceplos. Alex hanya mencebik. Ia berjalan ke arah parkiran motornya. Lalu ia mengendarai motor dan menyalip mobil Andi.
Ketiganya melambaikan tangan. "Eh elo pernah denger nggak?" Tanya Agung. Belum selsai dia bercerita Andi menyela omongannya. "Kagak."
"Dengerin dulu ogeb," Agung menoyor kepala Andi.
"Bokap nyokapnya Alex kan bekas pembalap juga," kata Agung pada teman-temannya.
"Wuih, keren."
...***...
"Bagi kuenya," Alex mengambil kue dari tangan adiknya.
"Mama, abang tuh usil banget," adunya pada sang mama.
"Lex, ganti baju terus bersihin badan setelah itu makan!" Perintah Bia pada putra sulungnya.
"Siap, mamaku tersayang," ucapnya dengan manja.