
Pagi itu Raina membuka matanya. Ia merasa sedikit pusing. Raina menoleh ketika merasakan perutnya terasa berat karena ada tangan kekar yang melingkar di perutnya. Gadis itu kaget saat melihat Julian memeluk dirinya.
"Apa yang terjadi semalam? Arrgh sakit," Raina meringis saat merasakan perih di bagian pangkal pahanya.
Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya,Raina tidak percaya tubuhnya kini polos. Gadis itu hampir saja berteriak. Ia menutup mulutnya sendiri agar Julian tidak terbangun.
Perlahan ia menurunkan tangan kekar tersebut. Ia berjalan memunguti bajunya yang berserakan. Dengan langkah gontai ia membersihkan diri di kamar mandi kemudian pergi dari kamar itu.
Raina merasa jijik dengan dirinya sendiri. Rasanya sungguh menyakitkan mendapati kenyataan jika dia sudah tidak perawan lagi. Raina menangis sepanjang jalan. Hampir setiap orang yang lewat melihatnya menangis. Tapi gadis yang sudah bukan gadis itu sama sekali tak menghiraukannya.
"Tenang Raina, kamu harus tenang," Raina menyemangati dirinya sendiri agar berhenti menangis.
Sementara itu Julian yang baru bangun meraba ke sekitar ranjang yang ia tiduri. Namun ia tidak menemukan siapa pun di sana. Kemudian Julian bangkit dan mencari di toilet. Sayangnya wanita yang ia cari juga tidak ia temukan.
"Ah sial kemana gadis itu pergi?" tanya Julian pada dirinya sendiri. Ia semakin merasa bersalah pada gadis yang ia jumpai semalam.
Julian menjambak rambutnya sendiri karena frustasi. Kemana ia harus mencari gadis yang baru sekali ia temui. Bahkan ia tidak mengingat jelas wajah gadis itu.
Julian memejamkan matanya sejenak. Bayangan percintaan panasnya semalam berputar-putar di kepalanya.
Setelah itu ia mendapatkan pesan singkat dari Jaden agar segera menghadiri meeting pagi. Julian pun membersihkan diri dan bersiap-siap ke kantor. Biarlah nanti ia mencari gadis itu setelah urusan pekerjaannya selesai.
"Bang, ko datangnya telat sih?" protes Jaden sedikit berbisik pada kakaknya yang baru sampai di ruang meeting.
"Ada urusan," elak Julian.
"Kata daddy semalam abang tidak pulang, tidur dimana?" Jaden mulai kepo.
Ehem
Suara deheman itu membuat Jaden dan Julian menoleh. Mereka tahu kalau Darren sedang menegur mereka yang tengah asyik mengobrol di tengah-tengah meeting.
Satu jam kemudian meeting selesai. Jaden yang merasa belum mendapatkan jawaban dari abangnya itu kembali mengekori Julian.
"Ngapain si lo kaya gak ada kerjaan aja ngikutin gue dari tadi," sungut Julian.
"Abang belum ngasih jawaban," rengek Jaden.
Julian melirik saudara kembarnya sekilas."Jawaban apa?" tanya Julian pura-pura tidak ingat.
"Semalam abang tidur dimana?" tanya Jaden lagi.
"Suka-suka guelah mau tidur dimana juga bukan urusan elo," jawab Julian ketus.
"Ko ngengas sih bang, yaelah gitu aja ngambek kaya cewek lagi PMS, nggak dikasih jatah ya bang sama istrinya," ledek Jaden pada Julian diiringi tawa mengejek.
"Sialan lo," Julian melempar buku ke arah Jaden. Jaden bisa menghindar. Sayangnya lemparan buku itu malah mengenai Darren.
Darren melebarkan matanya saat mendapat lemparan buku dari anaknya. "Dasar anak kurang ajar," ucap Darren dengan nada tinggi.
"Ma-maaf dad, Julian tidak bermaksud melempar buku ke arah daddy," Julian berkata dengan terbata-bata.
"Jaden, keluar kamu kembali ke kantor kamu," Jaden mengangguk patuh pada ayahnya
Kini tinggal Julian yang menghadapi ayahnya sendiri. Ia tahu ayahnya itu akan bertanya dimana ia tinggal semalam.
"Kenapa kamu semalam tidak pulang?" tanya Darren mengintrogasi.
"Julian tidur di rumah teman dad," kata Julian beralasan.
"Teman yang mana? memang seumuran kamu punya teman yang belum menikah?" selidik Darren yang seolah tak percaya dengan omongan Julian.
"Daddy tahu kamu patah hati tapi ingat Julian jangan lakukan sesuatu yang membuat kamu menyesal nanti," Julian mengenautkan alisnya. Ia tidak bisa mengartikan kata-kata yang terucap dari bibir sang ayah.
...***...
Sementara itu setelah mengemasi pakaiannya Raina membeli tiket bus. Ia memutuskan untuk pindah ke luar kota agar tidak lagi berteku dengan laki-laki yang telah merenggut kesuciannya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam ia memutuskan untuk tinggal di Sukabumi. Dengan uang yang diberikan oleh ibu mantan kekasihnya cukuplah untuk menyewa rumah kontrakan. Sisanya akan ia gunakan untuk kebutuhan hidupnya.
Setelah mencari-cari ia menemukan rumah kontrakan yang lumayan untuk ditinggali. Ukurannya tidak terlalu besar tapi biaya sewanya murah. Kebetulan rumah itu bersebelahan dengan rumah Bu Mia, ibunda mom Ara.
"Kamu baru tinggal di sini ya nak?" tanya Nek Mia.
Sore itu ia sengaja mencari udara segar dengan berjalan-jalan di sekitar rumahnya.
"Iya nek," jawab Raina dengan sopan.
"Asal kamu darimana?" tanya Nek Mia. Kini ia duduk di kursi depan rumah Raina.
"Dari Jakarta," jawab Raina.
"Apa kamu mau kue buatan nenek, kalau kamu mau mampirlah ke rumah, nenek baru membuatnya," tawar nek Mia.
"Terima kasih nek, oh ya apakah nenek bersedia mengajariku membuat kue?" tanya Raina bersemangat.
"Aku belum tahu akan bekerja apa di sini, barang kali aku bisa berjualan kue di sini," pikir Raina.
"Baiklah mulai besok nenek akan mengajarimu membuat kue," tanpa sadar Raina memeluk nek Mia. "Terima kasih nek," ucap Raina dengan tulus.
Keesokan harinya Raina datang ke rumah nek Mia dengan bahan-bahan kue yang telah ia beli.
"Assalamualaikum nek,"
"Waalaikumsalam, ayo masuk," ajak Ny. Mia.
"Wah rumah nenek besar sekali," puji Raina yang kagum dengan isi rumah nenek tua itu.
"Rumah ini dibelikan oleh anak nenek,"
"Nenek tinggal sendiri di sini?" tanya Raina lagi sambil mengaduk adonan kue.
"Iya, nenek sengaja tinggal sendiri di sini menghabiskan hari tua nenek dengan tenang,"
"Apa nenek tidak kesepian?" tanya Raina lebih lanjut.
"Sebenarnya nenek kesepian tapi sekarang tidak lagi ada kamu yang akan menemani nenek tiap hari," kata Nek Mia dengan lembut.
"Pasti nek," jawab Raina senang ia seolah mendapatkan keluarga baru.
Semenjak bisa membuat kue, Raina menitipkan kue-kue yang ia buat ke warung-warung di sekitar rumahnya. Namun siang itu Raina merasa sangat capek hingga wajahnya terlihat pucat.
"Mbak Raina sakit?" tanya ibu-ibu pemilik warung.
"Mungkin saya kecapekan bu, kalau begitu saya permisi pulang," pamit Raina kemudian ia menyalakan motor maticnya.
Sesampainya di rumah ia mengecek tanggal terakhir kali ia menstruasi. Ia kaget ternyata ia sudah terlambat hampir sebulan. Ia pikir karena siklus menstruasinya tidak stabil jadi ia menganggap itu hal yang wajar.
Tapi waktu itu ia berhubungan dengan laki-laki yang telah merenggut kesuciannya. Apakah dia hamil?
...💙💙💙...
MOHON MAAF LAHIR BATIN YA MY READERS