My Beloved Partner

My Beloved Partner
42



Bia dan Banu tiba di rumahnya. "Kak, sebentar ya aku panggilin ibu dulu," kata Banu kemudian ia masuk ke dalam kamar.


"Bu,ibu," teriak Banu. Bia yang mendengar ada yang tidak beres kemudian mendekati Banu. Ia melihat Arum tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir di bagian pahanya.


"Ya ampun Banu, ibu kamu kenapa?" tanya Bia yang panik.


"Gak tahu kak," jawab Banu sambil menangis.


"Kamu tunggu di sini kakak akan panggilkan bantuan," kata Bia sambil memegang bahu Banu. Banu pun mengangguk patuh.


Bia berlari ke depan rumah. Ia melihat di sekitar rumah Banu. Sepi, tidak ada yang lewat di depan rumahnya karena rumah Banu berada di belakang perkampungan.


Bia kemudian menyusuri gang sempit di jalan itu lalu menuju ke perkampungan warga. "Pak tolong pak, ada yang butuh pertolongan," ia meminta bantuan pada orang yang lewat tapi tak ada yang menghiraukan dirinya. Bia mulai putus asa. Lalu bodyguard suruhan Jaden mendekat setelah melihat istri tuannya itu sedang meminta bantuan pada orang lain.


"Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya bodyguard itu dengan ekspresi wajah datar.


"Siapa kamu?" tanya Bia.


"Saya orang suruhan tuan Jaden," jawabnya.


"Oh syukurlah ada yang bisa kuandalkan, tolong di sana ada yang sedang pingsan, angkat ke mobilku lalu kita bawa ke rumah sakit," kata Bia dengan nafas terengah-engah.


Bodyguard itu kemudian mengikuti Bia dan seperti perintahnya dia mengangkat tubuh Arum dan membawanya ke dalam mobil Bia.


"Biar saya yang bawa mobilnya nyonya," pinta bodyguard tersebut.


Bia mengajak Banu masuk ke dalam mobil . Ia duduk di belakang bersama Arum dan memangku kepalanya.


"Tolong sadarlah," pinta Bia pada Arum sambil terisak.Ia tidak tega melihat keadaan Arum yang menyedihkan karena nyawanya sedang terancam.


Banu masih saja terisak. Bia mencoba menenangkan Banu. "Banu kita doain ibu ya supaya ibu dan adikmu selamat," kata Bia pada Banu.Banu hanya mengangguk.


Setelah sampai di rumah sakit terdekat. Bodyguard suruhan Jaden mengangkat tubuh Arum kemudian meletakkannya di atas brankar IGD.


Beberapa orang perawat mendekat setelah melihat ada pasien yang butuh pertolongan darurat. "Tolong selamatkan nyawanya," pesan Bia pada perawat rumah sakit tersebut.


Bia kemudian merangkul Banu dan mengajaknya duduk. "Ya Allah selamatkan Arum dan anak yang ada dalam kandungannya,' doa Bia dalam hati.


Bia pun mengurus administrasi agar Arum bisa mendapatkan perawatan intensif.


Jaden yang telah selesai meeting dengan kliennya bermaksud kembali ke Jakarta. Sambil menunggu jam penerbangan, ia menelpon ke ponsel istrinya.


"Hallo sayang, kamu lagi dimana?" tanya Jaden yang sedang melepas rindu.


"Aku sedang di rumah sakit," jawaban Bia membuat Jaden panik. Tanpa menunggu omongan selanjutnya Jaden lalu menutup sambunga telepon istrinya.


"Hallo, hallo,ish belum selesai ngomong udah diputus, ah masa bodoh agh," gerutu Bia. Ia menghentakkan kakinya lalu kembali ke ruang IGD.


"Keluarga pasien yang baru masuk," kata salah seorang perawat wanita yang bermaksud memanggil keluarga Arum.


"Saya sus, emm maaf maksud saya, ini saya bawa anaknya tapi saya bukan keluarganya, saya hanya membantu membawa dia ke rumah sakit," kata Bia.


"Kami perlu tanda tangan untuk melakukan operasi sesar kondisi pasien saat ini sedang kritis jadi bayinya harus segera dikeluarkan," terang perawat tersebut.


"Tolong lakukan yang terbaik, saya akan menanggung semua biaya perawatan ibu Arum," kata Bia mantap.


"Baiklah silahkan tanda tangani berkas ini ya bu," suster menyerahkan berkas yang berisi kesediaan keluarga melakukan operasi sesar untuk pasien.


"Baik, kami akan lakukan tindakan operasi secepatnya, bantu doa ya bu," kata suster itu sebelum kembali.


Setelah itu Arum dipindahkan ke ruang operasi. Sementara itu Jaden yang mengalami keterlambatan pesawat akhirnya meminta orang suruhannya untuk menyiapkan helikopter.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Jaden panik kemudian melihat istrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Bia menggeleng. "Bukan aku yang sakit, tapi bu Arum ibunya Banu," Jaden menautkan alisnya.


"Apakah sudah waktunya melahirkan?" tanya Jaden.


"Iya, tapi bu Arum jatuh dan mengalami pendarahan saat kami ke rumahnya," terang Bia sambil terisak.


"Tenanglah sayang mereka pasti akan selamat," Jaden berusaha menenangkan istrinya dan membawa Bia dalam pelukan.


Setelah itu dokter keluar dari ruang operasi.Jaden, Bia dan Banu mendekat ke arah dokter itu.


"Bagaimana dok keadaan bu Arum?" tanya Jaden.


"Kami minta maaf keadaan bu Arum kritis setelah melahirkan, tapi bayinya sehat, suster sedang merawat bayinya nanti akan dipindahkan ke ruang bayi,"


"Kita doakan bu Arum sama-sama ya pak, bu, kita tunggu beberapa jam lagi," imbuh dokter tersebut memberi harapan.


"Kak," Bia takut terjadi sesuatu pada Arum, bagaimana dengan nasib Banu dan adiknya yang baru dilahirkan.


"Berdoalah sayang semoga bu Arum diberi kekuatan," kata Jaden menasehati.


"Banu, kamu mau lihat adik kamu gak?" tanya Bia seraya mensejajarkan tingginya dengan Banu.Banu mengangguk.


Lalu Bia meminta suster mengantarkan mereka ke ruang bayi. "Yang mana anaknya bu Arum sus?" tanya Bia antusias.


"Di box paling ujung bu, bayinya perempuan,anaknya mau diberi nama siapa bu?" tanya suster pada Bia.


Bia menoleh pada Banu. Rupanya Arum telah mempersiapkan nama untuk bayinya meski ia belum tahu apa jenis kelaminnya. "Ibu pernah bilang kalau adiknya laki-laki kasih nama Damar artinya tangguh, kalau perempuan Delima karena ibu pengen anaknya sebaik kak Berlian," ucap Banu polos. Bia dan Jaden merasa tersentuh dengan omongan Banu.


"Delima, perhiasan yang berharga," lirih Bia tak terasa air matanya mengembun.


"Maaf keluarga bu Arum," panggil suster dengan tergesa-gesa.


"Ada apa sus?" tanya Jaden.


"Bu Arum sedang anfal," kata suster tersebut.Mereka pun mengikuti suster dan kemudian menunggu di luar ruang ICU.


Bia memeluk Banu. Ia berdoa agar Arum bisa melewati masa kritisnya. Tak lama kemudian dokter keluar dengan wajah sendu. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin," kata dokter yang berarti nyawa Arum sudah tidak tertolong.


Bia menangis karena sedih anak sekecil Banu dan Delima harus hidup tanpa adanya orang tua. Banu tidak mengerti apa yang dikatakan dokter itu. Bia tidak tahu bagaimana menjelaskan pada Banu. Ia memilih diam dan memeluk Banu dengan erat.


Setelah itu Jaden dan Bia mengurus pemakaman Arum. Di situ barulah Banu tahu kalau ia kehilangan sang ibu selamanya. Anak kecil itu menangis di atas pusara ibunya. "Ibu jangan pergi, bagaimana kami hidup tanpa ibu? aku akan kesepian, aku tidak tahu bagaimana caranya merawat adik," begitu curahan hati seorang anak yang ditinggal pergi oleh ibunya.


Dada Bia ikut sesak mendengar curahan hati Banu. Ia meminta Jaden untuk mengadopsi Banu dan Delima karena mereka sudah sebatang kara tapi Jaden menolak.


"Sayang, bukannya aku tidak kasian pada mereka tapi kalau kamu mengurus Banu dan adiknya yang masih bayi apa tidak kerepotan? sedangkan kamu sendiri sebentar lagi akan melahirkan," protes Jaden.


"Tapi bagaimana nasib mereka kak?" Bia mulai terisak.


"Kita cari tahu keberadaan ayahnya dulu, setelah ketemu biarlah mereka tinggal bersama ayahnya," kata Jaden.


"Tapi ayahnya sudah menelantarkan mereka, apakah mereka akan diurus dengan baik?" tanya Bia yag ragu akan kemampuan ayah Banu.


"Aku juga akan menjadi seorang ayah sebentar lagi, aku yakin ayah Banu tidak benar-benar ingin meninggalkannya, kita akan tahu setelah kita menemukannya," tegas Jaden.


...❤️❤️❤️...


Yuk klik favorit dan bagi poinnya pengen nangkring juga di beranda, hikz hikz