
"Pagi mom, dad," sapa Jaden yang baru tiba di rumah besar milik orang tuanya.
"Pagi sayang," toleh mom Celine ke arah sepasang pengantin baru itu.
"Duduk sini sayang," perintah Mom Celine pada keduanya.
"Apa kau capek setelah semalam kalian..." Mom Celine menjeda omongannya.
"Mom," protes Jaden yang melarang ibunya membicarakan pribadi mereka karena ia tahu istrinya itu pasti akan malu.
"Oh ya apa kau masih mual muntah di pagi hari?" Tanya mom Celine pada putranya.
Jaden menggeleng. "No mom, pagi ini Jaden tidak mual sama sekali," jawab Jaden seraya melirik ke arah istrinya.
"Oh ya, ko bisa gitu?" Tanya mom Celine penasaran.
"Mungkin karena aku tidur sambil memeluk istriku mom. Mencium aromanya membuatku tidak mual muntah lagi," bisik Jaden pada ibunya. Namun terdengar juga di telinga Bia sehingga wanita itu melotot.
Celine mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti apa yang dibicarakan oleh putranya.
"Apa kalian sudah makan?" Kini giliran Dad Darren yang bersuara.
"Belum sempat Dad, tadi dari hotel kami langsung ke sini," jawab Jaden. Mom Celine memukul bahu anaknya.
"Dasar anak nakal tega sekali kamu membiarkan anak dan istrimu kelaparan," geram mom Celine.
Bia jadi terkekeh melihat Jaden yang dipukuli ibunya. "Syukurin," batin Bia sambil menahan tawanya.
"Ya sudah duduklah koki akan menyiapkan makanan," kata Mom Celine.
Setelah acara sarapan menjelang siang, mereka mengobrol ringan.
"Bang Julian kemana mom?" tanya Jaden yang sedari tadi tidak melihat saudara kembarnya.
"Dia ada gathering, jadi dia berangkat pagi-pagi sekali," jawab mom Celine.
"Berlian kapan kau akan memeriksakan kandunganmu?" Tanya mom Celine dengan lembut.
"Belum tahu mom," jawab Bia singkat
"Baiklah ajak suamimu memeriksakan kandunganmu besok!" Perintah mom Celine.
"Sayang bagaimana kalau lusa saja, aku akan kosongkan jadwal meetingku," tawar Jaden.
Darren mendesah pelan. "Kau bisa mengandalkan Bagus, Nak," kata Darren.
"Baik dad," Jaden menurut perintah ayahnya.
"Apa kau menginginkan aku menemanimu besok sayang?" Goda Jaden.
"Terserah, kalau kau tidak bisa aku bisa meminta mama Ara untuk menemaniku," jawaban dari mulut Bia yang tidak disangka oleh Jaden.
"Mommy juga mau menemanimu sayang, kita lihat cucu mommy sudah sebesar apa dia di dalam perutmu," sahut mom Celine.
Jaden malah semakin terpojok. "Jangan mom, biar daddynya saja yang menemani," kata Jaden sambil menepuk pelan dadanya. Hal itu membuat Bia menahan tawanya.
Ketika hari mulai siang Jaden dan Bia pamit untuk tinggal di rumah yang Jaden beli sebelum pernikahan mereka berlangsung.
"Apa kau tidak sebaiknya mengajak istrimu tinggal di sini? masih ada kamar kosong untuk kalian," pinta dad Darren.
"Tidak dad, aku ingin membuat istriku nyaman, aku sudah membeli rumah yang dekat dengan kantornya sehingga ia tidak akan harus kelelahan diperjalanan," kata Jaden yang membuat Bia terharu.
"Oh calon ayah yang baik," diam-diam Bia memuji suaminya dalam hati.
"Sering-sering main ke sini ya nak," kata mom Celine saat Bia mencium tangannya untuk berpamitan. Seolah ia tak rela berpisah dengan menantu dan putranya.
"Baik mom," jawab Bia dengan lembut. Tak lupa ia memberikan senyum hangat pada mertuanya.
"Pasti dad," kata Bia sambil terkekeh.
"Ck, aku tidak akan mengulang perbuatanmu yang dulu dad," sindir Jaden yang malah mendapat pukulan ayahnya.
"Dasar anak kurang ajar," umpat Darren kesal. Mom Celine dan Bia malah terkekeh.
Setelah itu Jaden membukakan pintu untuk istrinya. "Silahkan tuan putri," kata Jaden sambil mengulas senyumnya yang menawan.
"Apa kita akan langsung ke rumah baru?" tanya Bia hati-hati.
"Tentu saja sayang, atau kau ingin menemui orang tuamu dulu sebelum kita pindah ke rumah baru?" Tanya Jaden memastikan.
"Apakah boleh? Aku akan mengambil beberapa pakaianku di sana," jawab Bia.
"Kalau soal itu biar Bagus yang kerja, aku sudah membayarnya mahal untuk kupekerjakan," kata Jaden.
"Baiklah," jawab Bia pasrah.
Setelah itu Bia mencoba memberanikan diri untuk berterima kasih pada suaminya. "Terima kasih," kata Bia dengan ragu.
"Untuk apa?" Tanya Jaden sesekali menoleh ke arah istrinya lalu kembali fokus ke jalan raya.
"Sudah membelikan rumah baru yang dekat dengan kantorku," balas Bia.
"Tapi kenapa kau tidak memilih tempat lain?" Tanya Bia penasaran.
"Aku sudah putuskan untuk tinggal berdua saja bersamamu, bertiga setelah anak kita lahir tentunya, aku ingin membuatmu nyaman hidup bersamaku, kau bisa bayangkan bagaimana ributnya orang tua kita kalau kita memilih tinggal dengan salah satu di antara mereka."
"Ya tentunya yang satu tidak akan terima," jawab Bia.
"Apalagi papamu yang overprotektif," ledek Jaden.
"Kau mengatai papaku?" geram Bia.
"Tidak sayang, aku hanya tidak ingin papa Rasya mencampuri urusan rumah tangga kita, mungkin kelak kalau anakku perempuan aku juga akan seperti papamu, menjaga anak perempuanku agar tidak sembarangan orang menyentuhnya," kata Jaden dengan tulus dan hal itu membuat hati Bia menghangat.
Jaden menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang ia beli. "Berjanjilah untuk saling terbuka dan berbagi satu sama lain, susahmu adalah susahku, bahagiamu adalah bahagiaku," kata Jaden dengan tulus sambil menggenggam erat tangan istrinya itu.
Jantung Bia berdebar kencang. Ia tidak sadar kalau dirinya mengangguk sebagai tanda setuju. Ah sungguh laki-laki itu laki-laki yang bertanggung jawab, pikirnya.
"Bagaimana aku bisa marah jika kau selalu membuatku terharu," batin Bia tanpa sadar bulir bening mengalir dari pelupuk matanya.
Jaden yang menyadari itu kemudian mengusap air mata sang istri. "Kenapa menangis?" Tanyanya dengan lembut.
Bia menggeleng. "Hanya kelilipan," elaknya.
"Mana ada sayang, kaca mobilnya kan tertutup," Jaden mengernyit heran.
"Anggap saja begitu."
Kemudian Jaden mendekatkan diri dan membawa istrinya dalam pelukan. "Jangan menangis! Aku tidak rela jika mata istriku jadi bengkak," canda Jaden hingga Bia memukul dada bidangnya.
"Kau ini."
"Ayo kita masuk!" Ajakan Jaden dijawab dengan anggukan kepala.
Jaden kembali memberi perhatian pada istrinya dengan membukakan pintu mobil. Ia pun menutup kepalanya agar tidak terbentur. "Hati-hati tuan putri," katanya menggoda.
"Lebay." Bia mencebik kesal.
Meski begitu ia sebenarnya menyukai perhatian kecil yang diberikan oleh suaminya. Dan perhatian-perhatian yang akan selalu dirindu apabila suatu saat mereka tak bersama suatu hari nanti, entah karena pekerjaan Jaden yang terlalu sibuk ataukah masalah rumah tangga mereka. Karena setiap rumah tangga punya ujiannya masing-masing. Dan percayalah ujian itu akan cepat selesai kalau di antara pasangan saling percaya bukan saling menyalahkan.
❤️❤️❤️
Pliis yang udah baca tolong tinggalkan jejak ya biar othor gak sedih.