
Alex panik ketika mamanya telepon kalau Sandra sakit. "Kamu nggak apa-apa sayang?" Tanya Alex pada Sandra ketika dia berbaring di kamar. Laki-laki itu menggenggam tangan istrinya sesekali mencium punggung tangannya.
"Aku nggak apa-apa cuma mual muntah aja, paling masuk angin," katanya.
"Kita periksa ke dokter ya sayang," bujuk Alex.
"Nggak usah beli obat apotek saja. Nyium bau kamu udah bikin mualku reda."
Bia yang mendengar itu jadi curiga. "Tunggu tunggu jangan-jangan menantuku...." Bia tak meneruskan kata-katanya. Ia malah terlihat bahagia.
"Papa, kita mau punya cucu," teriak Bia sambil berjalan keluar.
Alex dan Sandra terkejut mendengar suara Bia. Mereka saling pandang. "Memang bener kamu hamil?" Tanya Alex pada Sandra.
"Aku nggak tahu," jawab Sandra.
"Kita periksa ya ke dokter," bujuk Alex.
"Ya sudah ayo." Sandra bersiap bangun. Tapi kepalanya terlalu pusing. Alex yang tak tega pun menggendongnya.
Alex membawa istrinya ke dalam mobil. "Ma aku antar Sandra periksa ke dokter ya," izin Alex.
"Hati-hati ya Lex bawa mobilnya," pesan Jaden. Alex mengangguk.
Sesampainya di klinik yang tak jauh dari rumah Alex, Sandra mulai diperiksa. Kebetulan saat itu pasien yang mengantri hanya sedikit.
"Seperti dugaan saya, selamat Bu anda hamil," kata dokter yang memeriksa. Sandra dan Alex tampak bahagia mendengarnya.
"Untuk lebih pastinya besok anda bisa langsung ke dokter kandungan ya untuk mencari tahu usia kandungan dan kesehatannya," saran dokter itu.
"Sementara saya kasih vitamin ya untuk meredakan mual muntahnya," imbuhnya lagi.
"Iya, Dok."
Alex menuntun Sandra saat akan menuju parkiran. "Aku bisa jalan sendiri kok Yang."
"Tidak apa, aku takut kamu jatuh," jawab Alex sambil tersenyum.
"Kamu berlebihan," kata Sandra sambil terkekeh. Meskipun begitu ia sangat menyukai perhatian dari sang suami.
"Ternyata menikah itu seru ya," batin Sandra.
Sesampainya di rumah Alex mengabari orang tuanya dan juga orang tua Sandra. "Kamu tahu sayang mereka sangat excited lho dengan kehamilan kamu," kata Alex sambil membungkuk.
"Daddy nggak sabar buat main sama kamu sayang," bisiknya di depan perut Sandra yang masih rata.
"Daddy?" Tanya Sandra.
"Iya aku pengen dipanggil daddy sayang," jawab Alex.
"Baiklah, daddy apakah kau mau memenuhi keinginanku?" Sandra bertingkah manja.
"Aku ingin makan buah kesemek," kata Sandra.
"Ya ampun cari penjual buah malam-malam gini dimana sayang, besok saja ya," Alex memohon pada istrinya.
"Hiks," Sandra terisak. "Iya, tapi besok harus nemu ya," pinta Sandra.
"Seperti apa rupa buah kesemek itu," batin Alex karena dia tak pernah memakannya.
Keesokan harinya Bia datang bersama Kristal dan juga Agung yang ia minta menjadi supir. "Ma, kebetulan sekali mama ke sini, Sandra ingin makan buah kesemek. Sedangkan Alex nggak tahu bentuknya seperti apa," kata Alex.
"Ya ampun, Agung tante minta tolong dong kamu cariin buah kesemek," Bia memberikan sejumlah uang.
"Ba-baik tante," jawab Agung dengan ragu-ragu.
"Cih, ketiban sial," gerutu Agung.
"Ayo Yang ikut," Agung menarik tangan Kristal tapi dipelototi oleh Alex.
"Pergi sendiri sana!" Usir Alex.
"Lah yang jadi suaminya siapa coba kenapa harus gue yang nyari," gerutunya lagi tapi tetap pergi untuk mencari buah kesemek.
...***...
"Mas, kok Agung lama sekali sih?" Rengek Sandra.
Tak lama kemudian Agung datang dengan membawa buah yang dimaksud. "Nih buahnya," Agung menyodorkan sekilo buah kesemek tadi.
"Kamu nyarinya dimana sih Mas kok lama banget," protes Kristal.
"Jauh banget Yang dari sini," kata Agung sambil menunjukkan wajah puppy eyesnya.
"Yang aku kupasin ya?" Tanya Alex.
"Aku udah nggak mau makan itu Mas, aku mau makan yang lain," kata Sandra. Agung menepuk jidatnya. Semua orang bergidik ngeri mendengar permintaan Sandra.
...***...
Kini kehamilan Sandra memasuki trimester tiga. Fase mual muntah sudah terlewati bahkan sebentar lagi dia akan melahirkan. Tubuh Sandra menjadi lebih berisi karena perutnya sudah membuncit.
"Mas, hari ini ada sidang ya?" Tanya Sandra. Alex mengangguk.
"Iya semoga bulan depan aku sudah bisa ikut wisuda, kamu doain daddy ya supaya daddy urusan daddy lancar," ucapnya pada bayi yang ada di dalam perut Sandra.
"Iya daddy," Sandra mewakili anaknya menjawab omongan sang suami.
"Oh ya nanti malam jadi nyari baju buat dipakai ke acara nikahnya Ciara?" Tanya Sandra.
"Iya aku usahakan pulang cepat. Setelah dari kampus aku mau ngecek ke kantor sebentar ya," kata Alex sambil mengelus pipi istrinya. Lalu ia mencondongkan tubuhnya dan meraih bibir istrinya yang membuatnya candu.
"Mas..." nafas Sandra tersengal-sengal saat Alex melepas pagutannya.
"Aku jadi malas ke kampus," kata Alex sambil mengusap bibir Sandra yang basah karenanya.
"Jangan begitu."
"Habisnya kamu selalu menggodaku. Apalagi setelah kamu hamil, kamu terlihat semakin seksi," bisik Alex di telinga Sandra hingga wanita hamil itu meremang.
"Sudah sana!" Sandra mendorong tubuh Alex sambil terkekeh.
...***...
Hari ini Andi dan Ciara menikah. Andi memutuskan menikah setelah ia selesai sidang. Tapi hanya sekedar akad nikah di rumahnya Ciara.
"Ya ampun bumil, makasih ya udang dateng ke acara pernikahan gue," kata Ciara yang tampak mengagumi Sandra.
"Mas Andi aku jadi ingin cepat-cepat hamil kaya Sandra," rengek Ciara. Semua orang terkekeh mendengar candaan Ciara.
Tiba-tiba Sandra merasa mulas. "Mas aku capek berdiri bagaimana kalau kita duduk dulu," kata Sandra sambil memegangi perutnya.
Ia mengira itu hanya kontraksi palsu. Karena akhir-akhir ini ia sering merasakannya. Tapi yang ia rasakan saat ini semakin lama semakin sakit.
"Mas Alex aku ingin melahirkan," teriak Sandra. Alex dan tamu yang hadir di acara pernikahan Andi dan Ciara pun sontak kaget.
"Bagaimana ini?" Alex sangat panik. Apalagi melihat Sandra kesakitan.
"Bos biar gue yang nyetir, kuta bawa istri lo ke rumah sakit sekarang," kata Agung dengan bijak.
Agung menyetir dengan kecepatan tinggi. Sandra sedari tadi meremas tangan suaminya untuk mengalihkan kesakitan yang ia alami.
"Mas, sesakit ini ya kalau melahirkan, aku hampir nggak kuat Mas," Sandra menitikkan air mata. Begitu juga dengan Alex, dia tak tahan melihat sang istri yang selalu ceria kini malah menangis terus menerus.
"Mama," teriak Sandra.
"Gung masih lama?" Tanya Alex khawatir.
"Udah sampai bos," Agung berhenti di parkiran mobil. Alex segera turun dan menggendong istrinya meskipun sekarang beratnya makin bertambah tapi tak ia hiraukan.
"Tolong hubungi orang tua kami," pesan Alex pada Agung. Agung mengangguk patuh.
Alex menemani Sandra di ruang bersalin. Pak anda yakin mau menemani istri anda?" Tanya perawat memastikan karena tidak semua suami tahan melihat istrinya tersiksa.
"Mas jangan pergi temani aku," kata Sandra di sela isak tangisnya.
"Aku di sini sayang," kata Alex sambil membungkuk. Ia melihat detik-detik sang istri berjuang melahirkan putranya.
Semua keluarga telah menunggu di depan ruang bersalin dalam keadaan cemas. Ketika terdengar suara tangis bayi, semua orang bersorak. Bahkan Bia yang tidak pernah menyapa besannya kini tiba-tiba berpelukan pada Chloe.
...TAMAT...
Terima kasih sudah baca cerita ini sampai akhir semoga kalian tidak bisa move on dari ceritaku. Salam sayang dari author 😘😘😘