
Kini Raina telah dipindahkan ke ruang rawat pasien. "Selamat anakmu perempuan," kata mama Ara yang sedang menggendong bayi mungil di tangannya.
"Akan kau namai siapa gadis kecil ini?" tanya mama Ara seraya menempelkan hidungnya pada bayi perempuan itu.
Raina menggeleng. "Saya belum punya nama," jawab Raina dengan wajah sendu.
Berlian dan Jaden juga berada di ruangan yang sama. Berlian terus menatap anak kecil dlaam gendongan ibunya. Ia ingin sekali menggendong bayi itu. Matanya berkaca-kaca melihat bayi mungil di depannya.
"Nona, apa kau ingin menggendongnya?" tanya Raina.
"Bolehkah?" tanya Berlian.Raina mengangguk pelan.
Mama Ara memberikan bayi itu pada putrinya. Bia sangat terharu saat menggendongnya. Seandainya saja anaknya tidak meninggal saat itu mungkin sekarang ia bisa menikmati masa-masa menjadi ibu.
"Nyonya Ara sempat bercerita pada saya kalau bayi nona meninggal akibat kecelakaan, anggaplah dia sebagai anakmu," kata Raina sambil tersenyum ke arah Belian.
Sebenarnya berat mengatakan hal itu mengingat Berlian adalah istri dari laki-laki yang menodainya, pikir Raina. Padahal yang dimaksud bukanlah Jaden melainkan Julian. Tapi Raina melihat Berlian sosok wanita yang sangat lembut.
"Aku akan merelakan anakku dekat dengan ayahnya, ya itu lebih baik daripada memberi tahu laki-laki itu malah akan menyakiti wanita sebaik nona Berlian," batin Raina yang masih salah paham dengan pikirannya.
"Nona Berlian apa kau suka dengan anak kecil?" tanya Raina hati-hati.Bia menoleh ia tidak tahu apa maksud Raina menanyakan hal itu tapi ia sedikit curiga.
"Bawalah anakku, jadikan dia anakmu," ucap Raina dengan nada bergetar.
Mam Ara jadi kaget mendengarnya. "Apa mksud kamu nak?" tanya mama Ara.
"Tolong rawat anak saya, sudah cukup saya merasakan hinaan karena saya tidak punya suami, saya hanya ingin melindungi anak saya , saya hanya tidak ingin dia mendengarkan kata-kata yang bisa menyakiti hatinya," kini Raina semakin terisak.
Berlian dan Jaden saling pandang. Mereka tidak tahu harus bagaimana. Mereka memang menginginkan anak. Akan tetapi memisahkan bayi dengan ibunya itu tidak mungkin. Lagipula mereka masih bisa memiliki anak.Bia masih bisa hamil lagi.
Mama Ara membawa Raina ke dalam pelukannya. "Malang sekali nasibmu nak," batin mam Ara. Ia tidak tega melihat Raina terus menangis.
Setelah Raina lelah menangis ia akhirnya tertidur. Bayinya ditidurkan di box bayi yang ada di dekat ibunya agar saat bayinya merasa lapar Raina bisa langsung memberikan ASI nya. Mama Ara, Berlian dan Jaden keluar dari ruangan Raina. Mereka kembali ke ruangan nek Mia. Sudah lama mereka meninggalkan nenek itu sendirian.
"Bagaimana keadaan Raina?" tanya nek Mia saat ketiga orang itu baru masuk ke ruangannya.
"Dia sedang tertidur bu setelah menangis," kata mama Ara dengan wajah sendu.
"Ma, aku sebenarnya melihat keanehan saat Raina melihat wajah suamiku," sahut Bia.
Jaden menjadi kaget. "Sayang, kamu tidak menuduhku kan kalau aku selingkuh?" tebak Jaden.
"Jadi benar kamu selingkuh dibelakang aku, hm?" geram Bia menatap tajam ke arah suaminya.
"Tidak itu tidak benar sayang," elak Jaden.
"Mana mungkin, aku baru pertama kali mengenalnya, itupun di rumah sakit ini, mungkin dia hanya kagum saat aku menolongnya karena gadis itu tidak memiliki suami," imbuh laki-laki itu.
"Jaden jaga ucapan kamu," sungut nek Mia.
"Kami sudah tahu bu kalau Raina hamil di luar nikah," kata mama Ara membela menantunya.
Sejenak Jaden berfikir."Tunggu, aku jadi teringat saudara kembarku," sahut Jaden.
"Maksudmu bang Julian yang melakukannya?" tebak Bia.
Jaden mengangguk. "Aku hanya curiga, kita bisa memastikan dengan bertanya langsung pada Raina," Jaden memberi saran.
Kemudian Jaden sengaja masuk sendiri ke ruang perawatan Raina.Wanita itu tentu kaget ketika laki-laki yang ia benci sengaja menghampirinya.
"Nona Berlian tidak ada di sini," kata Raina saat mengetahui Jaden masuk.
"Aku tidak mencari istriku, aku ke sini untuk berbicara denganmu," Jaden sengaja duduk di dekat Raina.
Air mata yang sengaja wanita itu tahan akhirnya tidak terbendung. "Tidakkah kamu mengingatku? apa kamu lupa dengan kejadian malam itu?" tanya Raina sambil terisak.
Jaden mengerutkan keningnya. Bia dan mama Ara yang mendengar hal itu juga tidak percaya. Ada rasa sesak di dada Bia meskipun sebenarnya laki-laki yang dimaksud Raina bukanlah suaminya.
"Apa benar kau mengenal wajahku?" tanya Jaden memastikan.
"Meski hampir setahun berlalu tapi aku ingat wajahmu, percayalah aku melahirkan anakmu," Raina berkata jujur pada Jaden. Jaden semakin yakin kalau Julian lah yang menghamili gadis belia itu.
Jaden sedikit bingung menghadapi Raina yang masih menangis. Di sisi lain Berlian tidak tahan mendengar pengakuan Raina. Ia pun menghindar karena tidak tahan mendengarnya. Dadanya begitu sesak. Bia juga menangis.
"Berlian, tenanglah kita dengarkan pengakuan Raina agar semuanya jelas," mam Ara membujuk anaknya agar mendekat kembali ke dekat jendela ruang perawatan Raina. Mereka sengaja menguping pembicaraan antara Jaden dan gadis yang sedang dirawat di ruangan itu.
"Namaku Jaden, mungkin yang kau maksud bukanlah diriku," Jaden menjeda omongannya. Raina menjadi bingung. "Apa maksud kamu? kamu pikir aku berbohong?" kata Raina.
"Bukan, aku memiliki kembaran bernama Julian, mungkinkah yang menghamili kamu adalah kakakku?" Raina menggeleng. Temtu saja ia tidak tahu.
"Baiklah, untuk saat ini tenanglah setelah kau keluar dari rumah sakit kita akan perjelas masalahnya, aku janji jika memang abangku yang melakukannya aku tidak segan-segan memukulnya demi kamu karena telah menelantarkan anak dan ibunya," Jaden berusaha membujuk Raina baik-baik.
Raina pun menurut. Setelah dua hari di rumah sakit nek Mia dan Raina diperbolehkan pulang. Berlian dan Jaden yang awalnya tidak berniat menginap jadi menginap sampai kedua wanita beda generasi itu keluar dari rumah sakit.
"Kau akan ikut kami ke Jakarta," tegas Jaden.
"Tidak, aku lebih baik tinggal di sini bersama anakku," tolak Raina.
"Apa kau tidak mau mempertemukan anakmu dengan ayahnya?" Berlian ikut bersuara.
"Ikutlah dengan mereka nak, nenek yakin sudah waktunya kamu bahagia," imbuh nek Mia. Meski ragu Raina akhirnya menurut.
"Nek terima kasih atas bantuan nenek pada saya selama ini,maaf saya tidak bisa lagi menjaga nenek," pamit Raina sebelum pergi.
"Tenanglah nak, Ara sudah menyewa perawat untuk menemani nenek mulai sekarang, kalian hati-hati ya di jalan," pesan nenek pada semuanya sebelum naik ke mobil.
Mama Ara, Jaden, Berlian, Raina dan juga bayi perempuannya yang mungil berangkat ke Jakarta.
Apakah yang akan terjadi setelah Raina bertemu dengan Julian? Apakah Julian qkan mengakui anaknya?
Simak terus ya ceritanya. Mohon dukungan kalian dengan kasih vote,gift dan koment ya.