
Andi sangat kecewa dengan Ciara. Sekian lama ia menunggu agar Ciara menerimanya dia malah mendapati Ciara sudah menjual harga dirinya.
Andi menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. "Lo kenapa Bro?" Tanya Alex ketika melihat Andi duduk di bangku taman kampus sendirian.
"Gue kecewa Lex. Gue kecewa sama Ciara?" Alex menduga Andi audah mengetahui kalau Ciara adalah simpanan om-om.
"Jadi elo sudah tahu?" Tanya Alex.
"Elo juga tahu kalau Ciara..." Andi tak bisa meneruskan ucapannya.
"Gue pernah lihat Ciara ke hotel punya bokap gue. Awalnya gue kira itu bokapnya tapi pas gue tanya Sandra katanya bukan. Sandra juga pernah lihat dia satu mobil sama laki-laki dewasa," ungkap Alex.
"Sorry bro, gue nggak bermaksud mau nyakitin elo, tapi itu kenyataanya," imbuh Alex.
"Tapi untuk apa dia nekad menjual diri Lex. Apa keluarganya butuh banyak uang sehingga dia mengorbankan diri untuk memenuhi kebutuhan keluarganya?" Tebak Andi.
"Apa yang kamu katakan itu benar Ndi," sahut Sandra yang tiba-tiba datang.
"Harusnya aku bisa menjaga Ciara," ucap Andi dengan nada bergetar. Alex menepuk bahu Andi untuk menguatkan sahabatnya.
...***...
Andi menggunakan nomor ponsel baru untuk menghubungi Ciara. Dia berpura-pura menjadi orang yang ingin menggunakan jasanya. Andi ragu tapi ia harus mencoba agar dia bisa berbicara empat kata dengan Ciara. Sebab setelah Ciara tidak mau bertatap muka dengan Andi sejak identitasnya terungkap waktu itu.
Lalu Andi mengajak Ciara bertemu di sebuah hotel yang telah direservasi. Tak tanggung-tanggung Andi menyewa kamar president suite agar Ciara yakin dengan orang yang akan ditemuinya.
"Mungkin ini untuk terakhir kalinya aku melakukan ini," gumam Ciara yang berjanji sebelum masuk ke dalam kamar kliennya.
Ciara mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Lalu ia mencoba membuka engsel pintu tersebut ternyata sesuai dugaannya, tidak dikunci.
Ciara masuk dengan jantung berdebar. Tidak biasanya dia merasa gugup seperti ini. Lalu ketika ia masuk ke dalam kamar ternyata kamar itu kosong. Namun, ia mendengar suara orang mandi di dalam kamar mandi.
Ciara memutuskan untuk menunggu kliennya di atas ranjang king size yang mewah itu.
Ceklek
Mendengar suara pintu kamar mandi di buka, jantung Ciara semakin berdebar. Ia bahkan tak berani menatap wajah kliennya. Ia duduk memunggungi laki-laki yang keluar dari kamar mandi itu.
Andi mengulas senyum. "Berbaliklah!" Perintahnya pada gadis yang berhasil ditipunya itu.
Ciara merasa tak asing dengan suara yang ia dengar. Lalu ia pun menoleh. "Andi," seru Ciara.
"Sureprise," kata Andi dengan senyum lebar di wajahnya.
Ciara memalingkan wajahnya ketika melihat Andi bertelanjang dada. Pemuda itu hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
"Kenapa kamu malu melihatku?" Andi berjalan mendekat. "Bukankah kamu sudah sering melihat yang lebih dari ini?" Tanyanya dengan lembut sambil memegang dagu Ciara.
"Kamu berbeda," kata Ciara lirih. Matanya menatap nanar Andi.
"Apanya yang berbeda? Aku menginginkanmu, bukankah kamu membutuhkan banyak uang? Aku akan membayarmu dengan sangat mahal setelah kamu tidur denganku."
Ciara tak percaya Andi memandang dirinya begitu rendah. "Aku memang wanita rendahan seperti katamu, bahkan urat maluku sudah kujual demi memenuhi kebutuhan keluargaku." Ciara begitu kecewa dengan Andi.
Dia pikir Andi laki-laki yang bisa menghargai wanita. Tapi kenyataan dengan apa yang ia pikirkan sangat berbeda.
Ciara mulai mendekati Andi. Andi merasa gugup. Tentu saja karena ia tak pernah menyentuh wanita sama sekali.
"Kenapa kau mundur? Apa aku tidak menarik bagimu?" Goda Ciara sambil memainkan tangannya di dada telanjang milik Andi.
"Baiklah, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan," kata Andi. Ia pun menarik pinggang Tiara dan mengeratkan pada tubuhnya.
Kini Ciara lah yang merasa gugup, jantungnya berdegup kencang seolah ingin lompat dari tempatnya. Tangan Ciara berusaha mendorong Andi tapi Andi malah menempelkan bibirnya ke bibir Ciara.
Ciara tak bisa mengelak. Kalau boleh jujur dia sangat mencintai Andi. Ciuman Andi yang lembut dibalas oleh Ciara. Tanpa sadar gadis itu mengalungkan tangannya ke leher Andi agar pemuda itu memperdalam ciumannya.
Andi yang haru pertama kali berciuman tentu masih kaku bagi Ciara. Tapi Ciara terus mengajarinya. Andi membawa Ciara dalam kungkungannya. Mata mereka saling bertemu.
"Aku sangat menginginkanmu saat ini," ucap Andi dengan nafas yang menderu.
"Aku siap."
"Tapi tidak sekarang, aku akan melakukannya jika kau sudah sah menjadi istriku." Andi bangun setelah mengatakan itu.
Ciara menangis haru. Ia tak menyangka di saat seperti ini Andi malah melamarnya. Andi duduk di tepi ranjang. Ia mengusap air mata Ciara.
"Aku serius," ucapnya dengan lembut.
"Apa kau mau menerima wanita kotor sepertiku?" Tanya Ciara di sela tangisannya.
"Aku sudah mencintaimu sejak kamu masih bersih, ini salahku yang tidak bisa menjagamu dengan baik."
Ciara langsung memeluk Andi dengan erat. "Aku tidak tahu harus berkata apa, aku harap kau tidak memberikan harapan palsu padaku," ucap Ciara sambil menangis sesenggukan.
"Aku janji," ucap Andi sambil membalas pelukan kekasihnya.
Setelah itu Andi dan Ciara keluar dari kamar yang bersamaan. Alex tak sengaja bertemu mereka. "Kalian?" Tunjuk Alex.
"Ya seperti yang kau lihat," Ciara mendelik mendengar perkataan ambigu dari Andi.
"Ini tidak seperti yang kau bayangkan Lex, kami tidak melakukan apa-apa," elak Ciara.
"Siapa bilang. Aku telah melamarmu tadi apa kau lupa?" Sahut Andi tak terima.
"Sial kau mendahuluiku, aku bahkan belum berani melamar Sandra," umpat Alex yang merasa kalah dengan Andi yang selama ini dia pikir tak menyukai wanita.
"Jadi kapan kamu akan melamarnya?" Tanya Ciara.
"Nanti setelah lulus kuliah," jawab Alex. Ia tersenyum sendiri membayangkan ketika ia melamar sang kekasih.
...***...
Keesokan harinya Alex dan kawan-kawannya berkumpul di kantin sekolah seperti biasa. "Kita sambut pasangan baru," serunya ketika melihat Andi yang sedang memegang erat tangan Ciara.
"Kalian udah punya pasangan, lah gue," tunjuk Amar pada dirinya sendiri.
"Tenang pak ustadz jodoh mah nggak kemana, tuh jodohnya dateng," ledek Agung ketika Nabil berjalan mendekat.
Semua orang menyoraki Amar ketika menatap Nabil dengan tatapan yang berbeda. "Bil, elo tahu aja kalau lagi diomongin," seru Alex.
"Apaan sih gue nyari Sandra kali," elak Nabil.
"By the way ada lowongan nih kalau mau masuk ke geng kita," kata Agung.
"Oh ya??" Nabil pura-pura kaget.
"Iya jadi pacarnya ustadz Amar auto masuk geng kita," jawab Agung membuat wajah Amar dan Nabil sama-sama bersemu merah.