My Beloved Partner

My Beloved Partner
29



"Sayang apa kau bisa tidur dengan pakaian itu?" tanya Jaden pada istrinya yang masih memakai kebaya.


"Entahlah," jawab Bia malas.


"Mari aku bantu melepaskan resletingnya, sepertinya tanganmu tidak sampai," ledek Jaden yang mendapat pelototan dari Bia.


"Tidak, aku tidak mau kau berbuat mesum," tuduh Bia pada suaminya.


"Ya ampun sayang mesum sama istri sendiri masa tidak boleh?" Gerutu Jaden dalam hatinya.


Jaden lalu tersenyum licik. Ia sengaja mendekat ke arah Bia dan menepis jarak di antara mereka. Bia mundur sampai terbentur tembok.


"Mau apa kamu?" Tanya Bia yang waspada suaminya akan berbuat sesuatu yang mesum pada dirinya.


Jaden menghimpit tubuh Bia dengan kedua tangan yang disandarkan ke tembok. Lalu ia menatap intens ke istrinya. Bia yang menggunakan belahan dada yang sangat rendah membuat Jaden tidak tahan untuk mengerjai istrinya yang seksi itu.


"Ah sial," umpat Jaden saat dirasakan di bawah sana begitu sesak.


Jaden mendekatkan wajahnya ke wajah Bia. Bia bisa merasakan hembusan nafas hangat laki-laki yang belum genap sehari menjadi suaminya. Jaden tersenyum licik saat melihat istrinya itu memejamkan mata.


Dengan perlahan Jaden melepas resleting kebaya yang masih terpakai di tubuh sang istri. "Ngarep banget ya buat dicium," ledek Jaden sambil terkekeh kecil.


Bia mengerjapkan mata. Kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Ia menyangka Jaden akan menciumnya sehingga ia memejamkan mata."Bego banget gue," Bia merutuki sikapnya yang salah tingkah di depan sang suami.


Bia mendorong tubuh Jaden hingga ia terhuyung ke belakang. Bia buru-buru ke kamar mandi. Namun sialnya setelah di kamar mandi ia lupa memakai pakaian ganti.


"Arrrghh kenapa jadi pelupa gini sih," gerutu Bia kesal.


Lalu ia membuka sedikit pintu kamar mandinya dan menyembulkan kepalanya. "Jaden," panggil Bia.


Saat Bia melihat Jaden memicingkan matanya ke arahnya ia segera mengganti sebutannya pada sang suami. "Kak Jaden, bisakah kau ambilkan pakaian ganti untukku," perintah Bia dengan nada yang dibuat lembut.


Jaden lalu mengambilkan lingerie untuk istrinya. Lalu ia berjalan ke arah sang istri. Ia sedikit menggoda dengan pura-pura menengok ke dalam kamar mandi.


"Apaan sih?" Sentak Bia.


"Ko pakaian kurang bahan itu? Tolong ambilkan yang lain," pinta Bia.


"Tapi yang ada hanya ini sayang, kita tidak mungkin memesan pakaian di jam segini 'kan?" jawab Jaden sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sebelas malam.


"Ya sudah berikan itu, kamu agak mundur," Jaden pun menuruti kemauan istrinya. Namun bukan Jaden namanya kalau tidak suka becanda. Ia sengaja mendekat sayangnya Bia langsung menutup pintu kamar mandi sebelum Jaden benar-benar masuk ke sana. Jaden tertawa.


"Huff selamat," ucap Bia di balik pintu.


Setelah selesai memakai pakaian ganti yang ternyata kurang bahan itu, Bia keluar sambil memakai handuk kimononya. Jaden mengernyit heran.


"Sayang apa kau ingin tidur menggunakan handuk, hm?" Tanya Jaden.


"Iya kalau perlu," jawab Bia asal.


"Sini tidur di samping aku." Jaden menepuk sebelah ranjangnya.


"Gak mau tidur satu ranjang," tolak Bia.


Jaden menghembuskan nafasnya kasar. Di malam pertamanya sang istri malah menolak untuk tidur seranjang.


"Kenapa aku kan suamimu," protes Jaden.


"Tidak, aku biasa tidur sendiri, kau tidurlah di sofa," perintah Bia.


"Ayolah sayang masa kau setega itu pada suamimu, kita sudah sah menjadi suami istri jadi apa yang akan kau takutkan?" Rengek Jaden.


"Kau tidak ingat malam itu kau melakukannya dengan kasar, aku masih trauma dengan kejadian waktu itu," geram Bia saat mengingat malam panas itu.


"Aku janji aku tidak akan menyakitimu lagi," imbuh Jaden.


Bia menatap mata suaminya dalam-dalam. Sepertinya ia tak menemukan kebohongan. Namun sedetik kemudian Bia memalingkan wajahnya. Bia tak mau melihat wajahnya yang merah merona karena malu.


Ia mengambil salah satu bantal dan memberikannya pada Jaden. "Kamu tetap tidur di sofa, oh ya tolong matikan lampu, aku tidak bisa tidur dalam keadaan terang," bohong Bia agar dia tidak malu saat melepas handuk kimononya.


"Baiklah sayang, tapi cium dulu!" pinta Jaden dengan muka memelas.


"Dalam mimpimu," ledek Bia.


Setelah itu Jaden benar-benar tidur di sofa. Saat Bia memastikan Jaden tak bersuara lagi ia melepas handuk kimono yang sejak tadi masih terpakai di badannya. Namun, tanpa ia sadari Jaden membuka matanya dalam kegelapan kamar.


Tenggorokan Jaden tercekat saat ia melihat tubuh istrinya yang molek itu terpampang nyata di balik lingerie yang ia pakai.


Sedangkan wanita yang notabene istri Jaden itu tidak bisa tidur karena suhu kamar itu begitu dingin meski ia sudah memakai selimut.


Kemudian saat Jaden memastikan wanitanya tidur, ia naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya. "Selamat tidur sayang," ucapnya lirih dalam kegelapan.


Jaden memeluk Bia dari belakang, sesekali ia mengusap perut istrinya yang masih rata. Hingga pagi menjelang dan matahari mulai tinggi Bia merasakan ada tangan kekar yang memeluknya.


"Aarrgh," teriak Bia histeris saat ia menemukan suaminya itu berada di atas ranjang yang ia tiduri.


"Aw sakit sayang," pekik Jaden ketika Bia menendangnya hingga terjatuh ke lantai.


"Apa yang kau lakukan semalam?" Selidik Bia.


"Aku tidur bersamamu, apa kau tidak ingat?" ucap Jaden menahan senyumnya.


"Apa? Bukankah semalam kau tidur di sofa? Kau tidak macam-macam kan semalam?" Bia memicingkan matanya menatap tajam ke arah Jaden.


"Menurutmu apa yang dilakukan sepasang suami istri dalam satu ranjang?"


"Jangan menjawab pertanyaan dengan memberi pertanyaan lain, kau ini," Bia melempar bantal namun Jaden berhasil menangkap sebelum mengenai wajahnya.


"Aku kasian padamu semalam kau tidak bisa tidur karena kedinginan jadi aku memelukmu agar kau bisa tidur," jujur Jaden.


"Baiklah aku akan memaafkan mu kali ini tapi kalau besok kau ulangi aku tidak bisa jamin," ancam Bia.


"Ya aku tidak bisa jamin kau bisa lepas dariku," batin Jaden dengan seringai licik.


"Pesankan aku baju masa aku harus pulang dengan pakaian ini?" Rengek Bia.


"Ya baiklah," Jaden menuruti kemauan istrinya.


Tak lama kemudian Bagus mengantar baju pesanan Jaden.


"Bagaimana Bagus bisa tahu ukuranku, baju ini begitu pas dan aku suka modelnya," puji Bia seraya berdiri di depan cermin.


"Terang saja orang aku yang memintanya," kata Jaden dalam hatinya.


"Ayo kita keluar sekarang, mommy dan daddy sudah menunggu di rumah besar," ajak Jaden.


"Apa kita akan pulang ke rumahmu? Tapi aku ingin tinggal bersama orang tuaku," rengek Bia dengan muka sedih karena berpisah dengan orang tuanya.


"Tidak sayang hanya akan makan siang bersama mereka lalu kita pulang ke rumah kita sendiri," terang Jaden. Bia masih bingung. Ia hanya menurut kata suaminya saja seperti amanah sang ibu.


Kemudian keduanya keluar dari hotel dan menuju ke rumah besar di mana Mom Celine dan Dad Darren serta Julian sudah menunggu di sana.


...❤️❤️❤️...


Selamat menjalankan ibadah puasa di hari pertama semoga puasanya lancar ya. Marhaban ya Ramadhan.