My Beloved Partner

My Beloved Partner
124



Setelah menempuh perjalanan yang sangat lama akhirnya Rasya dan Ara sampai ke Jerman. Mereka meminta Bulan menjemput mereka di bandara.


"Hallo om, tante," Bulan menyalami tangan keduanya secara bergantian.


"Ini anaknya Bia ya? Ganteng banget." Bulan mencolek pipi keponakannya itu.


Anak kecil itu sedang tidur di dalam stroller. Lalu samua orang masuk ke dalam mobil. Rasya meminta kunci pada Bulan karena dia yang akan menyetir.


Sesampainya di kediaman Antoni, mereka semua turun. Antoni dan Emely terkejut saat putra dan menantunya datang bersama anak Bia.


"Ya ampun kalian tidak mengabari lebih dulu," protes Emely.


"Maafkan kami Bu, kami memang dadakan ke sini."


Emely clingak-clinguk. "Mana Jaden dan Berlian? Tanya Emely yang tidak melihat cucu dan menantunya itu.


"Mereka tidak ikut karena urusan pekerjaan," jawab Rasya.


"Kalian sedang apa?" tanya Rasya.


"Seminggu lagi Bulan akan menikah," kata Emely.


"Apa kenapa tidak memberi tahu sebelumnya?" tanya Rasya yang kaget.


"Iya mereka terpaksa menikah dalam waktu dekat karena kondisi ibu Aiden yang sakit-sakitan," terang Antoni.


"Tapi kita rencananya hanya menginap selama tiga hari di sini," ungkap Ara.


"Pulanglah setelah acara pernikahan mereka selesai," pinta Emely pada putranya.


"Suruh saja Bia menyusul ke sini tante," sahut Bulan.


"Entahlah, asisten mereka juga akan menikah dalam waktu dekat. Tentu saja mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan."


"Namanya siapa?" tanya Antoni pada anak laki-laki yang kini mulai pandai merangkak itu.


"Namanya Diamond Alexander, panggilannya Al," jawab Ara.


"Nama yang bagus seperti silsilah perhiasan saja, Mutiara, Berlian lalu Diamond. Kalian memang paling bisa memilih nama yang bagus," puji Antoni.


...***...


Sudah dua hari Bia ditinggalkan oleh anaknya yang diajak orang tuanya ke Jerman. Di sela-sela pekerjaannya ia melakukan panggilan video ke ponsel Rasya.


"Pa, aku kangen Al, dia dimana?" tanya Bia pada ayahnya.


"Dia sedang bersama opa di kebun belakang," kata Rasya melalui sambungan telepon.


"Ya ampun tiap kali ditelepon selalu gak ada, aku kan kangen sama anakku," protes Bia pada papanya.


"Kamu itu sehari telepon lebih dari lima kali, minum obat aja cukup tiga kali," cibir Rasya.


"Pokoknya papa cepet pulang!"


"Tapi kakakmu akan menikah lima hari lagi pernikahannya dipercepat." Perkataan Rasya sukses membuat Bia mendelik kesal. Wanita itu lalu memutus sambungan teleponnya.


Bia mengacak rambutnya karena frustasi. "Kamu kenapa Bi?" tanya Keyla pada atasannya itu.


"Kakak gue mau nikah, anak gue ditahan di Jerman, gue bisa gila karena kangen sama dia," rengek Bia sambil terisak.


"Ya ampun berat banget sih masalah lo," ledek Keyla.


"Ya udah si nyusul aja ke sana," usul Keyla.


Bia menatap tajam ke arah asistennya itu. "Kamu mau cuti kamu aku tangguhkan biar gak jadi nikah sama mas Bagus?" Bia menekankan kata Mas Bagus.


"Ya ampun sensi amat sih istri orang, ya jangan dong say, nanti kita gak bisa nikmatin surga dunia dong, emangnya elo doang yang tahu rasanya surga dunia. Gue juga pengen kali."


"Lebay lo," cibir Bia.


"Kenapa jadwal nikah kalian bareng sama kak Bulan sih, hufh gue jadi gak bisa milih salah satu kan jadinya," kata Bia dengan wajah sendunya. Bahu Bia meluruh.


"Kalau elo mau hadirin pernikahan kakak lo juga gak apa-apa kali Bi, yang penting hadiahnya jangan sampai lupa," sindir Keyla.


"Ah yang bener?" tanya Bia memastikan. Keyla mengangguk.


Bia memeluk sahabatnya erat. "Makasih banyak Key," kata Bia dengan wajah yang ceria.


Setelah ia menyelesaikan pekerjaan, Bia dan Jaden menyusul anaknya ke Jerman. Bia sudah menangis berhari-hari karena rasa kangennya pada Baby Al.


Mereka akhirnya tiba di Jerman pukul tujuh waktu setempat sehari sebelum pernikahan Aiden dan Bulan berlangsung.


...***...


Sementara itu di Indonesia Bagus dan Keyla juga akan menikah di tanggal yang sama dengan hari pernikahan Bulan dan Aiden.


"Yang belum apa aja sih?" Tanya Keyla yang melihat ibunya Lulu mondar-mandir tidak jelas.


"Ya ampun gaun kamu belum ada yang ngambil dari butik," kata Lulu.


"Suruh orang butik aja yang nganterin ke sini Ma."


"Oh iya ya, biar mama telepon dulu," kata Lulu.


Tapi saat ia akan menelepon orang butik, Lulu melihat wajah anaknya terlihat sendu. "Kamu baik-baik saja nak?" tanya Lulu pada putrinya.


"Aku sedih ma soalnya Bia gak ada pas aku nikah dia kan sahabat aku."


"Mama juga sedih karena tante Ara gak datang ke pernikahan anak mama ini, dia juga sahabat mama saat kita masih muda bahkan sampai sekarang, tapi saudara mereka sedang punya hajat kaya kita nak jadi maklumin aja ya, yang penting doanya buat kamu." Lulu menasehati anaknya.


Keyla tersenyum dan tidak bersedih lagi setelah mendengar perkataan ibunya.