
"Agh banyak cingcong, hajar," perintah pimpinan preman yang telah memukuli laki-laki tak berdaya itu.
Salah seorang akan melayangkan tinjunya ke arah Jaden namun Bagus menangkisnya dengan tendangan.
"Hiaaatt,"
Mereka mulai menyerang secara bersamaan. Jaden ikut turun tangan melawan lima penjahat itu. Jaden diserang dua orang. Ia menangkap tangan orang yang akan meninjunya kemudian memutar tangan kedua orang tersebut lalu ia dorong. Mereka pun terhuyung.
Bagus melawan tiga penyerang. Mereka memukul secara bergantian. Dua orang menyerang dari arah depan dan satu lagi dari belakang. Saat Bagus melawan dua penyerang yanga da di depannya, satu penyerang dari belakang memanfaatkan kelengahannya. Jaden menendang laki-laki yang ada di belakang Bagus saat penjahat itu akan memukul asistennya.
Baku hantam tersebut berlangsung sampai saat jalanan mulai rame dengan orang yang lewat. Mereka pun akhirnya mundur dengan wajah babak belur dan rasa takut akan dihabisi warga.
Sedangkan laki-laki yang habis dipukuli tadi menghampiri Jaden dan Bagus yang telah menyelamatkan nyawanya. "Terima kasih banyak telah menolong saya," kata laki-laki yang sedang memegang perutnya yang sakit akibat pukulan yang ia terima.
"Wajahnya mirip sekali dengan..." Jaden menebak tapi ia belum yakin.
"Siapa nama anda?" tanya Jaden.
"Saya Arif," jawabnya.
"Mau kami antar?" tawar Jaden yang melihat Arif sepertinya kesulitan berjalan setelah dipukuli.
"Tidak terima kasih tuan," tolaknya dengan halus.
Kemudian Bagus membukakan pintu untuk atasannya. Mereka pun pamit meninggalkan Arif.
"Bagus, aku mau lihat data orang yang aku cari," kata Jaden di dalam mobil.
Bagus menepikan mobilnya lalu mengambil berkas yang ia letakkan di dalam tas kerjanya. "Ini pak," kata Bagus seraya memyerahkan selembar kertas yang ia taruh di dalam map.
"Sudah kuduga, Gus apa kamu sudah baca berkas ini?" tanya Jaden ia menebak kalau Bagus belum membacanya sehingga ia tidak mengenali laki-laki yang telah mereka tolong.
"Belum pak," jawab Bagus.
"Putar balik, karena kita telah menemukan orang yang kita cari," perintah Jaden pada asistennya.
Bagus pun memutar mobilnya seusai perintah Jaden dan berhenti di tempat ia bertemu dengan Arif tadi."Ah sial, dia sudah tidak ada," umpat Jaden yang kesal karena ia tidak menemukan Arif.
"Sebenarnya ada apa pak?" tanya Bagus.
"Dia itu bapaknya Banu Gus, orang yang saya cari agar ia menjemput anak-anaknya," kata Jaden dengan nada kecewa.
...***...
Setelah selesai mengurus sekolah Banu, Bia mengajak Banu ke kantor ojek online tempatnya bekerja.
"Bi anak siapa?" bisik Keyla. Bia memberikan tatapan tajam pada asistennya karena Keyla hanya memanggil namanya. "Baik bu bos," Keyla mundur selangkah.
"Ini namanya Banu,Key. Banu salim sama oma Keyla," canda Bia yang membuat Keyla kesal karena dipanggil oma.
"Ih sekate-kate lo Bi, gue kan belum nikah," protes Keyla.
"Gaji kamu aku potong sepuluh persen," ancam Bia pada Keyla.
"Yagh, iya ya maaf," Keyla mengalah.
"Ibunya baru saja meninggal Key jadi gue nampung anak ini sementara,"
"Lah dia gak sekolah?" tanya Keyla penasaran.
"Gue baru aja ngurusin biaya sekolahnya karena beberapa bulan yang lalu dia tidak bisa bayar uang bulanan," jawab Bia.
"Ya ampun baik banget si bu bosku ini, btw ayahnya kemana bu Bos? udah meninggal juga?" tebak Keyla.
"Hustt kamu sembarangan kalau ngomong, kak Jaden lagi nyari keberadaan bapaknya," balas Bia.
"Ah sudahlah mana laporan yang mau kamu serahin ke aku? oh ya masih ada lowongan kerjaan gak di kantor kita?" tanya Bia pada Keyla.
"Ntar gue tanyain ke bagian personalia," kata Keyla lalu keluar dari ruangan Bia.
...***...
"Bikinin minum dulu dong Yang, kakak haus nih," pinta Jaden dengan manja seraya meraba bagian lehernya.
"Eh iya maaf, mau aku buatin apa?" tanya Bia sambil tersenyum.
"Adanya apa?" tanya Jaden.
"Ikan bandeng, pepes tongkol, pepes teri, sayur asem..." tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh istrinya Jaden memutar bola matanya jengah.
"Aku minta minum sayang bukan minta makan," protesnya.
"Ya habisnya, tanya 'adanya apa?' kaya mau beli nasi di warteg tahu gak," Bia balik protes.
"Ya udah terserah sayang mau buatin minum apa aja boleh,"Jaden memilih mengalah daripada harus berdebat dengan istrinya.
Berlian kemudian menuju ke dapur dan membuatkan lemon tea untuk suaminya.
"Nih lemon tea hangat bagus buat kesehatan," Bia menyodorkan cangkir pada suaminya.
"Makasih sayangku," Jaden pun menerima dengan senang hati.
"Jadi gimana kak?" tanya Bia yang masih penasaran dengan hasil pencarian ayah Banu.
"Jadi tadi siang kakak habis nolongin orang dan kami tahu siapa dia?" tanya Jaden yang menyuruh istrinya menebak. Bia menggeleng.
"Bapaknya Banu," jawab Jaden singkat setelah itu menyesap lemon tea di hadapannya.
"Terus kenapa gak disuruh jemput Banu sama adeknya di rumah sakit?"
"Nah itu, kakak baru tahu setelah membuka laporan yang Bagus berikan," sesal Jaden.
"Yagh, terus gimana dong nasib anak-anaknya sekarang?" bahu Bia meluruh ada rasa kecewa dalam dirinya.
"Kamu tenang dulu aku sudah memerintahkan anak buah Bagus untuk menemukannya segera , secepatnya pak Arif akan ditemukan," tegas Jaden.
"Baguslah kak, kalau bisa besok pagi orangnya harus udah ketemu bilangin ke Bagus,"
"Siap nyonya," kelakar Jaden.
"Eh Yang mau kemana?" tanya Jaden yang melihat Bia meninggalkan dirinya sendiri di ruang tamu.
"Nyiapin air panas buat kamu mandi," kata Bia sambil berlalu.
Jaden menyeringai licik. Ia pun menggendong Bia secara tiba-tiba dan segera membawa istrinya itu masuk ke kamar.
"Eh kak mau apa?" tanya Bia kaget.
"Mandi barenglah sama kamu,"
"Gak aku udah mandi tadi sore," elak Bia.
Jaden mendengus,"tapi kamu masih bau sayang,"
"Masa sih?" Bia mencium baunya sendiri. "Ah enggak ko," katanya.Tanpa menghiraukan omongan istrinya Jaden tetap saja mengajaknya masuk ke dalam kamar mandi. Ia pun menutup pintu dan menguncinya.
(Kegiatan mereka di kamar mandi biarlah mereka yang tahu, readers bisa bayangkan sendiri)
Keesokan harinya Bagus berhasil menemukan Arif yang tertidur di sebuah pos ronda. Selama ini dia tidak punya tinggal tetap semenjak ia dikejar oleh dept collector. Uang sepuluh juta yang ia pinjam dari rentenir menjadi seratus juta saat mereka tagih. Itulah yang menyebabkan Arif tidak dapat membayar hutangnya. Ia memilih kabur daripada membahayakan keluarganya, pikirnya saat itu.
"Pak saya mau dibawa kemana?" tanya Arif yang bingung saat anak buah tang ditugaskan Bagus menjemputnya.
"Anda akan kami bawa menemui atasan kami," kata anak buah bagus dengan ekspresi datarnya.
Tak mau mendapatkan masalah Arif memilih patuh saat dibawa oleh laki-laki yang tak ia kenal.
...❤️❤️❤️...
Alhamdulillah masuk Beranda-Karya potensi guys, makasih buat dukungan kalian. Tambahin dukungannya ya.