My Beloved Partner

My Beloved Partner
75



Setelah mendengar panggilan dari saudara iparnya,Julian kembali ke samping Raina."Sayang,maaf ninggalin kamu sendirian,"


"Kamu udah ambil makanan? kalau belum aku ambilin ya mau makan apa?" tanya Julian penuh perhatian.


Wajah Raina bersemu merah mendapatkan perhatian kecil dari suaminya itu."tidak usah nanti aku ambil sendiri," kata Raina.


"Julian kamu sebaiknya bawa istri kamu beristirahat," titah Darren pada putranya.


Julian menarik tngan Raina."Tunggu,aku tidak melihat Sovia," Raina menghentikan langkahnya.


"Jangan khawatir Sovia aman bersama dengan mommy kalian," jawab Darren.


Ada perasaan lega namun Raina sedikit ragu untuk melangkah.Julian yang menyadari akan hal itu menganggukkan kepalanya meminta persetujuan Raina agar mau ikut dengannnya. Raina pun tersenyum menjawab pertanyaan Julian dalam diam.


Julian membawa istri kecilnya itu ke kamar president suite yang ada di hotel mereka.Julian mulai membuka pintu kemudian mengajak Raina masuk.


"Kau bisa mengganti bajumu sementara aku akan mandi terlebih dulu," wanita berhijab itu hanya mengangguk.


"Apa kamu sedang sariawan sejak tadi kamu irit sekali bicara," cibir Julian sambil terkekeh.


Tanpa diduga mulut Raina memang sedang sariawan.Ia mengangguk kemudian menunjukkan bibirnya yang sedang sakit.


Julian menelan salivanya lekat akibat memandang bibir Raina yang amat menggoda itu.Bahkan adiknya yang ada dibawah sana sudah terbangun karenanya."Apa kau sengaja menggodaku?" Julian memajukan langkahnya hingga Raina terbentur tembok.


Jantung Raina ingin loncat rasanya saat tubuh Julian menghimpit tubuhnya. Julian mengulas senyumnya saat melihat istrinya itu terlihat ketakutan hingga memejamkan matanya.


"Pengen banget ya dicium?" ejek Julian diiringi dengan tawa kemudian meninggalkan Raina ke kamar mandi.


"Pumpung dia lagi ke kamar mandi aku harus segera mengganti bajuku," batin Raina.Ia pun melepaskan resleting kebayanya.


Julian yang saat itu keluar dari kamar mandi karena ingin menganbil handuknya malah terperanga melihat kemolekan tubuh Raina yang terekspos dengan jelas di depan matanya.


Tangan Raina meraba baju yang sudah ia siapkan di atas ranjang.Namun seseorang memberikan baju itu dengan tangannya.Raina pun menoleh.Ia sangat kaget hingga terduduk lemas sambil menutupi bagian dadanya.


Julian tersenyum menyeringai. Ia mengulurkan tangannya pada sang istri. Raina masih syok dan malu tentunya. Julian kemudian menyamakan tingginya dengan berjongkok di hadapan sang istri.


"Kenapa mesti malu? Bukankah kita pernah mlakukannya sekali," ucap Julian dengan lembut.


"Hish apaan sih? dasar mesum," Raina mencebik kesal.


"Mas,"


"Iya dek ini masmu," jawaban Julian semakin membuat Raina malu.Wajahnya pun sudah memerah karenanya.


Julian membawa istrinya itu naik ke atas ranjang. Perlahan ia merebahkan tubuh mungil itu kemudian ia mulai menyatukan bibirnya.


Kepala Raina sempat mundur namun Julian mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka bersentuhan.Awalnya Julian menciuman dengan sangat lembut.Lalu Julian menggigit bibir bawah Raina agar ia sedikit membukanya. Julian pun mulai mengeksplore bagian dalam mulut istrinya itu.


Raina mulai terbuai dengan permainan suaminya. Tanpa sadar ia melingkarkan kedua tangannya ke leher sang suami.Julian mengulas senyumnya.Laki-laki itu memegang pinggang Raina dan mengusap bagian punggungnya yang polos. Karena pakaiannya sudah ditinggalkan sejak Julian keluar dari kamar mandi.


Suara-suara merdu yang keluar dari mulut Raina memenuhi kamar president suite tersebut. Bagi Julian suara de sa han dan era ngan yang keluar dari mulut istrinya itu bagaikan nyanyian merdu di telinganya.


"Mas,"


"Aku masuk ya," Julian meminta izin saat mereka akan mulai penyatuan.


"I love you," ucap Julian saat cairan percintaan itu berhasil ia tumpahkan ke dalam rahim istrinya.


Eits tunggu dulu bagaimana kalau setelah ini dia hamil lagi bukankah setelah wanita yang habis menjalani operasi sesar rahimnya siap dibuahi setelah dua tahun?


Beralih ke Sovia yang ditinggal oleh ibunya yang sedang bercinta dengan sang ayah.Bayi kecil itu seolah belum terbiasa ditinggal tidur sendirian tanpa didampingi ibunya.


Sovia terus saja menangis. Mom Celine yang mencoba menenangkan cucunya itu merasa gagal karena bayi perempuan itu terus saja berisik.


"Jangan nangis terus dong sayang tidurnya bareng oma aja ya," kata mom Celine mencoba menenangkan bayi mungil itu dalam gendongannya.


"Mom apa kita telepon aja ibunya suruh dia pulang," saran dad Darren.


"Biarlah mereka sedang menikmati malam pertamanya, bagaimana kalau kita telepon Bia saja," kata mom Celine meminta pendapat dari suaminya.


Dad Darren pun menghubungi menantunya meminta mereka menginap di rumah besarnya agar bisa menemani Sovia tidur.


"Telepon dari siapa sayang?" tanya Jaden pada istrinya.


"Dari daddy kita diminta datang ke rumahnya untuk menenangkan Sovia,katanya dia rewel karena ditinggal ibunya," terang Bia. Ia pun segera turun dari ranjangnya dan berganti baju.


"Ayo kak cepat," Bia menarik tangan Jaden yang sejak tadi malas turun.Ia kesal karena acara ritualnya dengan sang istri terganggu.