My Beloved Partner

My Beloved Partner
80



"Assalamualaikum pa," Bia masuk ke dalam rumah orang tunya.


Saat tak ada jawaban dari papanya Bia pun menanyakan pada asisten rumah tangganya. Lalu ia dan sang suami menyusul ke dalam kamar. Namun sebelumnya ia mengetuk pintu kamar papanya itu.


"Pa,ini BIa," teriak wanita itu dari luar.


Rasya berdiri untuk membukakan pintu untuk putrinya."Kalian kapan datang?" padanya pada putri dan menantunya.


"Papa sakit apa? sudah panggil dokter?" tanya Bia khawatir.


"Ayo kita turun, kita bicara di bawah biar lebih enak," kata Rasya.


"Biar saya bantu jalan pa," Jaden menawarkan bantuan namun Rasya menolaknya.


"Aku masih kuat jalan," katanya dengan halus.


Setelah itu mereka pun menuju ke ruang keluarga.Bia menyuruh asisten rumah tangganya membuatkan minuman untuk mereka. Sedangkan Rasya dan Jaden duduk berhadapan.


"Papa sakit apa sih sebenarnya?" Bia mengulangi pertanyaannya.


"Kamu sok perhatian sama papa, padahal selama ini jarang banget main ke sini," cibir Rasya.


"Maafin Bia ya pa," Bia berhambur ke pelukan papanya.


"Tenang saja papa hanya kecapekan maklum faktor U," semua orang yang mendengar pun tergelak.


Bia dan Jaden memutuskan untuk menginap di rumah papanya malam ini. Mereka beristirahat setelah lelah mengobrol dengan sang ayah.


...***...


Keesokan harinya Jaden dan Bia pamit bekerja seperti biasanya. "Untung semalam aku bawa baju ganti buat pagi ini," kata Bia.


"Kamu emang istri yang perhatian," puji Jaden.


Mereka pun memasuki mobil lalu Jaden mengantarkan istrinya sampai di depan kantornya.


"Ih cemburuan banget jadi laki," cibir Bia. Tapi ia senang mendengar suaminya itu perhatian.


Setelah itu Bia melambaikan tangan pada Jaden. Sebelum Bia masuk ia tak sengaja mendengar suara mobil yang baru berhenti.Bia melotot saat Keyla turun dari mobil seseorang yang ia kenal.


"Jadi kalian beneran...." Bia menjeda ucapannya. Keyla mengulas senyum yang dipaksakan di wajahnya.


Bagus pergi setelah menurunkan Keyla. Bia menarik tangan asisten sekaligus sahabatnya itu."Ada yang mau lo jelasin ke gue gak?" cecar Bia.


"Iya-iya gue emang Jadian sama Bagus waktu itu, tapi dia duluan yang nembak, suer," Keyla mengangkat jarinya membentuk huruf V.


"Iya gue percaya, baguslah ada yang jagain elo sekarang, jujur sejak gue nikah smaa kak Jaden gie khawatir sama elo."


"Elo baik bener sih Bi,"


"Gue cuma khawatir elo dikadalin sama cowok-cowok diluar sana elo kan oonnya gak ketulungan," cibir Bia diriingi tawa mengejek.


"Awas aja lo Bia gue bales lo ntar," Keyla menghentakkan kakinya di lantai karena kesal.


...***...


Sesampainya di kantor Jaden meminta Bagus menulis surat undangan resmi untuk Dani guna membicarakan proyek kerjasama yang akan mereka adakan.


"Baik pak,akan saya laksanakan," kata Bagus menuruti perintah Kemudian Bagis pun meluncur ke kantor Dani. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kantor travel yang lumayan besar itu.


"Pak asisten pak Jaden ingin bertemu dengan anda," kata asisten pribadi Dani.


"Selamat siang pak saya hanya ingin memberitahu pak Jaden mengundang anda untuk makan siang di hotelnya guna membicarakan proyek kerjasama antara anda dan beliau," terang Bagus.


"Baiklah saya akan memenuhi undangannya, terima kasih sudah menyampaikan secara langsung," kata Dani.


Setelah menghadap Dani, Bagus kembali ke kantornya untuk menyampaikan kembali apa yang Dani sampaikan.


"Baiklah Gus, tolong siapkan hidangan paling istimewa yang ada di restoran kita, saya akan kedatangan tamu special siang ini," Jaden dengan seringai liciknya.