My Beloved Partner

My Beloved Partner
149



"Elo mau nangis terus kaya gini?" Tanya Alex saat melonggarkan pelukannya.


"Ya nggaklah Lex," jawab Sandra sambil mencebikkan bibir.


"Lagian ada ya anak cewek jam segini masih pakai seragam sekolah, nggak mandi lo ya?" Di saat Sandra sedang menangis bisa-bisanya dia meledek.


"Kalau iya kenapa? Masalah buat lo?" Jawab Sandra dengan ketus.


"Idih, bisa-bisanya gue naksir cewek yang jarang mandi kek lo gini, ckckck," ledek Alex sekali lagi hingga membuat Sandra memukul lengannya.


"Ngeledek mulu lo, rese," ucap Sandra sambil mengerucutkan bibirnya.


"Nggak usah mancing deh lo," cibir Alex saat melihat gadis itu memanyunkan bibirnya.


"Mancing apaan sih? Lo kira gue nelayan," jawab Sandra yang nyolot.


"Itu bibir napa dimanyun-manyunin pengen gue cium," goda Alex.


"Idih, dasar soang lo sukanya nyosor mulu," kata Sandra diikuti tawa mengejek.


"Nah, gitu dong. Kalau ketawa kan manis." Alex mengusap sisa air mata di pipi Sandra.


Duh Bang Alex dari kemaren gitu mulu, jangan manis-manis terus, netizen baper tahu 😂.


"Gue antar lo pulang ya," kata Alex.


"Nggak mau, gue pengen di luar bentar, males buat pulang kalau nanti ujung-ujungnya diomelin mulu ma nyokap," kata Sandra dengan wajah sendu.


Alex bisa menangkap kesedihan yang dialami Sandra. "Gue ajak lo ke suatu tempat," kata Alex. Sandra mengangguk setuju.


Sandra menaiki motor Alex kemudian mereka mencari tempat makan di pinggir jalan. "Kenapa lo ngajak gue ke sini?" Tanya Sandra yang bingung.


"Gue denger perut lo bunyi jadi gue ajak lo makan, nggak apa-apa kan kalau tempatnya di pinggir jalan," kata Alex.


Sandra merasa malu. "Maaf, gue belum makan dari pulang sekolah tadi," kata Sandra dengan jujur.


Alex mulai memesan makanan di warung tenda itu. "Enak juga makanannya," kata Sandra.


"Elo orang kaya emang sering makan di sini?" Tanya Sandra.


"Gue sih makan dimana aja asalkan enak di mulut gue, elo inget kan makanan yang gue kasih ke anak-anak tiap pagi, itu gue pesen dari sini," ungkap Alex.


"Oh ya?" Alex mengangguk menjawab pertanyaan Sandra.


Seusai makan Alex mulai bertanya pada Sandra. "Elo kabur dari rumah?" Pertanyaan Alex membuat Sandra menoleh.


"Enggak, aku cuma pengen keluar bentar. Lah kamu sendiri ngapain ada di luar malam-malam gini?" Tanya Sandra.


"Aku, kamu, dia udah nggak bilang elo gue," batin Alex yang gugup dengan panggilan Sandra.


"Nggak panas," Alex tiba-tiba menyentuh kening Sandra. Sandra menepis tangannya. "Ngapain sih?" Tanya Sandra yang bingung dengan sikap Alex.


"Gue...emm maksud aku, aneh aja tiba-tiba kamu bilang aku, kamu," kata Alex dengan lirih. Namun, dia merasa gugup setelah itu. "Biasanya juga elo gue," imbuhnya untuk mengusir rasa gugupnya saat ini.


Sandra tertawa mendengar ucapan Alex. "Emang nggak boleh ya?" Tanya Sandra.


"Bolehlah, boleh banget."


"Lex, gue mau tanya."


"Cewek yang tadi siang itu cewek lo?" Tanya Sandra dengan hati-hati.


Alex tersenyum saat mendengar pertanyaan dari gadis yang ia taksir itu. "Kalau iya emangnya kenapa?" Tantang Alex.


"Dasar playboy lo, ngapain juga lo nembak gue kalau udah punya cewek," sungut Sandra sambil bersidekap. Alex malah tertawa terpingkal-pingkal setelah melihat ekspresi wajah Sandra yang menggemaskan.


"Jadi elo mengakui kalau elo juga sama gue gitu? Cemburu kan?" Ledek Alex.


"Nggak," jawab Sandra dengan singkat.


"Dia itu kakak sepupu gue, kakaknya Zidan, namanya Sovia," ungkap Alex.


Sandra menurunkan tangannya yang semula bersidekap. "Owh," sebuah kata yang sangat ambigu terdengar di telinga Alex.


"Jadi gimana perasaan elo ke gue?" Tanya Alex kemudian. Ia sangat penasaran menunggu jawaban Sandra.


"Gue..."


"Aku," Alex membetulkan omongan Sandra.


"Hiih rese banget sih kalau orang mau ngomong jangan suka menyela," protes Sandra.


"Gue, eh aku juga," jawab Sandra malu-malu.


"Juga apa?" Desak Alex.


"Juga mau pacaran sama kamu," jawab Sandra setelah itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Alex tersenyum lebar setelah Sandra menerima Alex sebagai kekasihnya. "Danke," Alex mengucapkan kata terima kasih dalam bahasa Jerman. Sandra mengangguk. Ia mengerti apa yang diucapkan Alex karena di sekolahnya terdapat mata pelajaran bahasa Jerman.


Sebelum pulang Sandra memesan tiga bungkus makanan untuk orang yang ada di rumahnya. "Aku nggak bawa duit, Lex. Aku utang kamu dulu ya?" Kata Sandra yang merasa tidak enak. Sudah ditraktir makan malah minta tambah tiga porsi.


"Nggak apa-apa Yang aku yang bayar," panggilan sayang yang diberikan Alex setelah mereka jadian terdengar geli di telinga Sandra.


"Besok kalau di sekolah jangan panggil gitu yah, aku malu sama temen-temen," ungkap Sandra dengan wajah memohon.


"Lah emang biar semua orang tahu, kamu itu punyanya Alex," kata Alex dengan percaya diri.


"Nggak mau ah." Sandra berjalan lebih dulu meninggalkan Alex.


"Yang, Yang, tunggu," goda Alex.


Sesampainya di depan rumah Sandra Alex berpamitan. "Kamu yakin bisa menghadapi orang tuamu?" Tanya Alex yang merasa cemas. Sandra mengangguk.


"Aku kan udah siapin alasan kalau ditanya ntar," Sandra menunjukkan kantong kresek yang dibawanya.


"Dasar licik," Alex mengacak rambut Sandra dengan sayang. Wajah Sandra menjadi memerah.


"Pulangnya hati-hati ya," ucap Sandra. Alex mengangguk lalu menutup kaca helmnya. Ia melajukan motor sport yang ia kendarai.


Di depan rumah, Vero menunggu kedatangan putrinya. "Sandra, kamu dari mana?"


JENG JENG JENG


Apa yang akan dijawab oleh Sandra pada papanya? Apa ia akan menceritakan kejadian yang menimpanya?


Ditunggu komennya ya