My Beloved Partner

My Beloved Partner
134



Sandra tidak mengindahkan perintah Alex. Gadis itu memilih keluar tapi Alex menghalangi jalan Sandra. "Bisa minggir nggak, atau mau aku tendang?"


"Lo pikir gue takut?" Tantang Alex.


"Wuits minggir jangan ada yang mendekat ke arah si bos kalau nggak mau bernasib sama dengan Agung," Amar memberi peringatan pada kedua sahabatnya.


"Gue mau lo bantu gue buat nulis siapa saja pengurus kelas ini," titah Alex pada Sandra.


"Nanti gue kerjain di rumah ajalah, besok gue serahin ke elo," tawar Sandra.


"Gak bisa, ikut gue elo nggak bawa laptop kan?" Tanya Alex. Sandra mengangguk.


"Kita kerjain di rumah gue," Alex menarik tangan Sandra. "Apaan? Jangan gila deh," tolak Sandra mentah-mentah.


"Cie si bos ngebet amat calonnya mau diajak ketemuan sama calon mertua," ledek Agung.


"Diem lo, pulang sana!" Usir Alex. Lalu ketiga temannya yang somplak itu melewati pasangan muda tersebut.


"Misi," ucap Andi.


Sandra menarik kerah Andi. "Eh temen lo nih bawa sekalian," ucap Sandra.


"Nggak buat kamu aja, kami ikhlas," jawab Amar sambil melepaskan tangan Sandra yang mencengkeram kerah baju milik Andi.


"Sialan lo semua," umpat Sandra. Alex diam-diam terkekeh melihat wajah gadis yang menggemaskan itu.


Lalu tanpa berbicara sepatah kata pun Alex membawa Sandra ke parkiran. "Nih helmnya lo pake?" Alex meminjamkan helmnya pada Sandra.


"Ogah berat gitu," tolak gadis itu. Namun, Alex tetap memakaikannya.


"Bangkang banget jadi cewek." Lalu ia membuka kaca helm tersebut.


"Gue nggak bisa bonceng lo, rok gue pendek gue gak mau sedekah paha." Sandra mencebik.


Alex membuka jaket yang ia pakai lalu melemparnya ke arah Sandra. "Pakai buat nutupin paha lo!" Perintah Alex pada Sandra.


"Nah ini yang mau pakai motor gue apa elo sih? Kok atributnya di gue semua," oceh Sandra.


"Mau gue ajarin naik motor?" Tawar Alex.


"Dih, ogah. Cepetlah gue gak tahan panas banget ini, kulit gue item ntar," protes Sandra karena Alex tak kunjung naik.


Sesampainya di rumah Alex, Bia mengerutkan kening ketika melihat Alex membawa teman wanitanya.


"Siapa Al?" Tanya Bia ketika anak-anak itu baru turun dari motor.


"Eh kenalin ma. Ini Sandra teman sekelas Al, kebetulan kami mau ngerjain tugas kelompok di sini boleh kan Ma?" Tanya Alex. Sandra tidak menyangka Alex sangat berbeda di depan orang tuanya. Sikapnya begitu sopan dan hangat.


"Boleh, silakan masuk!" Kata Bia. Sandra hanya mengangguk tanpa bersuara.


"Elo tunggu sini gue ambilin laptopnya dulu," kata Alex pada Sandra.


"Nak Sandra mau minum apa?" Tanya Bia.


"Eh, nggak usah repot-repot tante, saya di sini cuma sebentar kok," jawab Sandra dengan sopan.


"Cie abang punya pacar sekarang," ledek Bia saat ia berpapasan dengan putranya.


"Apaan sih ma, kita hanya teman sekelas," elak Alex.


"Alah ketahuan bohongnya, mama udah khatam ya lihat acara FTV kalau anak muda lagi pendekatan kan gitu awalnya ngerjain tugas bareng lama-lama jadi pacaran."


"Mama ada-ada saja, Alex ke depan dulu ya."


Sandra memindai ruang tamu di rumah Alex yang begitu mewah interiornya. "Lama ya?" Suara itu membuyarkan lamunan Sandra.


"Banget, sumpah gue sampai berakar," jawab Sandra sedikit lebay.


Alex mengetuk kepala Sandra dengan pulpen. "Emangnya elo pohon, berakar segala," cibir Alex.


Bia diam-diam mengintip keduanya yang sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. "Serasi," ucap Bia sambil senyum-senyum sendiri. Lalu ia mengambil ponsel dan memotret keduanya. Kemudian Bia mengirim foto-foto anaknya.


Jaden yang sedang meeting melihat sebuah pesan gambar dari sang istri masuk ke handphone miliknya. Jaden mengerutkan kening saat melihat gambar yang istrinya itu kirim.


"Anak zaman sekarang sekolah aja belum bener udah pacaran," gerutu Jaden.


"Maaf, Pak. Apa ada masalah?" Tanya Bagus, asisten pribadi Jaden.


"Tidak ada."


...***...


"Lex udah sore nih gue mau balik," rengek Sandra.


"Gue anterin," Alex berdiri tapi Sandra mendorongnya hingga terduduk.


"Gue naik taksi aja, ibu lo mana? Gue mau pamitan."


Alex pun memanggil mamanya. "Pulang sekarang ya?" Tanya Bia.


"Iya tante sudah selesai kok, lagian juga udah sore, saya belum izin sama mami tadi," terang Sandra.


Entah kenapa Bia menyukai gadis berbulu mata lentik itu. "Kamu pulang naik apa?" Tanya Bia.


"Naik taksi aja tante."


"Biar Alex yang anter kamu sampai ke rumah,"


"Nggak usah tante."


"Biar dia bawa mobil, tante tahu kamu pasti risih ya naik motor pakai rok?" Sandra mengangguk.


"Al, ambil mobil lalu antar Sandra pulang!" Perintah Bia dituruti oleh putranya.


"Makasih banyak tante. Saya permisi."


"Lain kali jangan sungkan kalau mau main ke sini," kata Bia pada Sandra. Sandra hanya membalasnya dengan senyuman.