
Di rumah keluarga Rasya.
"Mom bagaimana kabar gadis yang melahirkan anak Julian itu?" tanya Rasya pada istrinya.
"Mama belum tahu pa,nanti rencananya mama mau jenguk dia ke rumah mertuanya Bia," jawab mam Ara.
"Oh ya, papa pulangnya jam berapa? bisa anterin mama ke sana gak?" tanya mam Ara sambil mengikat dasi di leher suaminya.
"Minta ditemenin sama Bia aja ma,papa hari ini lumayan sibuk soalnya mau ngurusin barang yang diekspor ke luar negeri," tolak Rasya secara halus.
"Papa sibuk banget akhir-akhir ini sampai lupa kapan terakhir kali ngajakin mama jalan," protes mam Ara pada suaminya.
"Papa usahain minggu depan deh kita jalan,"kata papa Rasya seraya memegang bahu istrinya.
"Yagh sama aja PHP kalo gitu kan gak tahu kapan pastinya," mam Ara sedikit kecewa dengan jawaban suaminya.
"Yagh mau gimana lagi ma, produksi lagi rame papa jadi tambah sibuk kan buat mama juga," Rasya berusaha memberi pengertian pada istrinya.
"Iya deh mama ngalah," meskipun sedikit kesal tapi ia tidak memaksa suaminya menuruti keinginannya.
Rasya mengecup kening istrinya sebelum berangkat. Meskipun mereka sudah lama berumah tangga tapi kemesraan itu tidak pernah berubah.
Mama Ara berangkat ke kantor Bia dengan diantar supir pribadinya. Setelan dress berwarna peach dengan sepatu high heels warna senada dipadukan dengan tas jinjing warna putih yang ia sematkan di lengannya membuat penampilan mama Ara sepuluh tahun lebih muda dari usianya.
"Tumben mama ke sini, mau ngecek laporan langsung? disuruh papa ke sini?" cecar Bia.
"Bukan,mama mau minta kamu temenin mama untuk jenguk Raina dan anaknya," pinta mam Ara.
"Lah Bia tadi pagi habis dari sana ma," tolak Bia.
"Anterin mama Bi, masa mama sendirian kesana gak enak ah," desak mam Ara pada putrinya.
"Gimana kalau Keyla aja yang nganterin mama," Bia memberi usul pada ibunya. Mama Ara mengalihkan pandangannya pada Keyla."Keyla bisa kok nganterin tante," ucap Keyla sedikit terpaksa. Namun dirinya juga penasaran dengan calon istri Julian. Ia ingin tahu secantik apa wanita yang bisa menggeser posisinya. Padahal mah Keyla sekedar naksir belum masuk ke hatinya Julian.
"Keyla baik banget, yaudah mulai sekarang kamu jadi anak tante," goda mam Ara dan hal itu membuat Bia cemburu."Ihk lebay deh," protes Bia. Mama Ara dan Keyla tertawa bersama.
Mama Ara menaiki mobil Keyla.Sebelum sampai di rumah besannya, mama Ara berniat membelikan sesuatu untuk Raina dan anaknya.
"Kita mampir bentar di baby shop ya Key," pinta mama Ara. Setelah itu Keyla menghentikan mobilnya di depan toko yang dimaksud.
"Emm aku beliin apa ya tan buat dikasih ke calon iparnya Bia?" tanya Keyla meminta pendapat ibu sahabatnya itu.
"Gak usah biar tante aja yang beli,kamu cukup temani tante aja," ucap mama Ara dengan lembut.
Tidak sampai setengah jam dari toko bayi mereka tiba di rumah keluarga Darren.Mam Ara menyapa besannya."Selamat siang mbak," sapa mama Ara pada mom Celine.
"Eh kalian gak ngabarin kalau mau kemari?" tanya mom Celine yang kaget dengan kedatangan besannya yang tiba-tiba.
Lalu mom Celine meminta asisten rumah tangganya memanggil Raina untuk keluar. Tak lama berselang Raina menggendong bayi perempuan yang sedang terlelap itu.
Mama Ara tersenyum saat melihat Raina dan bayinya. Keyla yang baru pertama melihat wanita berhijab itu nampak mengagumi diam-diam."Ya ampun cantik bener calon istrinya kak Julian, pantes tu cogan kesengsem sama nih cewek,gue liatnya aja adem bener," batin Keyla dalam hatinya.
"Apa kabar tante?" Raina meraih tangan mam Ara sedangkan tangan satunya lagi menggendong anaknya.
Raina mengarahkan pandangannya pada Keyla.Mama Ara yang menyadari lalu mengenalkan gadis yang ia ajak."Oh iya lupa ngenalin ini Keyla asistennya Bia di kantor, anaknya gak bisa ikut jadi saya ngajak asistennya," terang mama Ara.
"Oh iya nama anak kamu siapa?" tanya mama Ara seraya mengambil alih bayi itu dari gendongan sang ibu.
"Sovia, Bia yang ngasih nama," jawab Raina.
Suara yang begitu lembut dan merdu ketika berucap itu semakin membuat Keyla menciut."Kok ada ya cewek sesempurna itu," lagi-lagi Keyla hanya membatin.
"Rencananya kapan acara pernikahan kalian?" tanya mama Ara pada Raina tapi yang menjawab malah mom Celine.
"Eh diminum dulu jeng tehnya, rencananya seminggu lagi,Julian lagi berusaha membujuk paman Raina untuk menjadi walinya nanti," jawab mom Celine.
"Iya lebih cepat lebih baik.Lalu persiapannya gimana mbak?"
"Semuanya saya serahin ke Berlian,"
"Kalau gitu nanti saya bantu kebetulan adik ipar saya punya bisnis EO jadi mbak terima beres aja," kata mama Ara memberi usulan.
"Syukur deh banyak yang bantu persiapannya saya jadi lega, tinggal nunggu hari H aja ya jeng," balas mom Celine.
Keyla dan Raina hanya menjadi pendengar percakapan antar besan tersebut.
"Nanti saya dan suami datang sebagai perwakilan dari pihak wanita deh kalau gitu biar kelihatannya rame," timpal mam Ara kemudian mereka terkekeh.
Setelah lumayan lama berada di rumah ibunda Jaden, mama Ara dan Keyla berpamitan. "Oh ya saya ada oleh-oleh buat kamu Raina, Keyla tolong ambilkan barangnya di mobil ya," Keyla mengangguk patuh.
"Apa ini tante besar sekali," Raina menerima pemberian mama Ara.
"Terima kasih lho jeng repot-repot segala," kata mom Celine tidak enak.
"Bukan apa-apa, cuma bouncher untuk anaknya Raina, semoga kamu suka ya," kata mama Ara untuk terakhir kali.
Raina dan mommy Celine mengantar sampai depan rumah. Tak lama kemudian Julian pulang. Dia tak sengaja berpapasan dengan mobil Keyla saat akan masuk ke gerbang rumahnya.
"Siapa yang dateng mom? kayanya aku kenal mobil itu," tebak Julian tapi ia tak ingin menyebutkan nama pemilik mobil yang ia ketahui.
"Itu mobil Keyla asistennya Bia, dia datang bersama ibunya Bia," terang mom Celine.Julian manggut-manggut.
"Kamu ngapain siang-siang pulang?" tanya mom Celine pemuh dengan tatapan selidik.
"Julian mau ganti baju mom, soalnya tadi ketumpahan minuman pas lagi makan sama klien," Julian beralasan.
"Tumben biasanya kamu nyuruh Ruby buat nyiapin semua keperluan kamu,"
"Kebetulan deket mom dari rumah jadi sebelum balik ke kantor aku sempetin pulang,"
"Halah itu mah alasan kamu saja biar sering-sering ketemu Raina," cibir mom Celine.
Julian nyengir kuda.Ia seolah tertangkap basah. Ia pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Itu juga termasuk mom," jawab Julian lirih namun mom Celine mendengarnya.