
"Pak saya sudah menemukan orang yang anda cari," lapor Bagus pada atasannya melalui sambungan telepon.
(- - - -)
"Baik pak," jawab Bagus kemudian ia menutup sambungan teleponnya.
"Mari atasan saya ingin bertemu dengan anda pak," kata Bagus yang mempersilahkan Arif masuk ke dalam mobilnya.
Di rumah Jaden
"Sayang kamu ikut gak ke rumah sakit nganter Banu ketemu bapaknya?" tanya Jaden pada istrinya.
"Aku gak ikut ya kak, kayanya aku lagi gak enak badan," kata Bia dengan suara yang lemah.
Jaden menyentuh kening istrinya."Kamu demam sayang?" tanya Jaden memastikan.
"Sedikit,"
"Aku panggil dokter ya mungkin kamu kecapekan," kata Jaden. Bia pun mengangguk.
"Bibi akan menemani kamu, apa aku minta mama atau mommy kemari untuk menjagamu?" tawar Jaden.
"Gak usah kak, cuma demam sedikit," tolak Bia.
"Ya sudah kakak berangkat dulu ya sayang," pamit Jaden lalu mencium kening istrinya.
Setelah keluar dari kamar Jaden menelpon mommy Celine."Mom bisakah mommy ke rumah Jaden, Berlian sedang sakit, dia sendirian di rumah, Jaden ada urusan penting," pintanya pada sang ibu.
Setelah menutup teleponnya Jaden mangajak Banu pergi bersamanya.
Bagus melajukan mobil dengan kencang. Jaden meminta Bagus mengantarkan Arif ke rumah sakit. Di sana Jaden akan mempertemukan ayah dan anaknya.
Arif tidak mengerti mengapa Bagus membawanya ke rumah sakit sampai ia melihat dari kejauhan tampak seorang anak kecil yang ia kenal. Matanya berkaca-kaca ingin ia segera berlari tapi di dalam benaknya bertanya-tanya kenapa ada laki-laki dewasa yang menemaninya.
"Pak," panggil Bagus pada Jaden. Jaden pun menoleh. Ia tersenyum saat melihat Arif berada di hadapannya.
"Bapak," lirih Banu tak terasa air matanya menetes.
Arif tak kuasa menahan tangis ketika bertemu dengan anaknya. Ia pun berjongkok dan berharap Banu akan memeluknya. Banu berlari ke pelukan Arif. Suasana haru menyelimuti keduanya.
"Maafkan bapak nak, maaf bapak telah menelantarkan kalian," kata Arif dengan penuh penyesalan. Ia pun semakin mengeratkan pelukan.
"Ibu pak, ibu," kalimat ambigu yang keluar dari mulut Banu membuat Arif merenggangkan pelukannya.
"Ada apa dengan ibu? Apa dia sudah melahirkan?" Cecar Arif.
Banu tak kuasa menahan tangis. Ia bahkan tidak bisa menyampaikan maksudnya pada sang ayah."Istri anda meninggal setelah dia melahirkan," kata Jaden.
Bagai disambar petir di siang bolong, Arif begitu terkejut mendengar berita kematian istrinya. Ia terduduk lemas di lantai. Pandangannya kosong namun sesaat kemudian laki-laki itu menangis. Arif memeluk Banu dengan erat untuk menumpahkan segala kesedihannya.
Jaden menoleh pada Bagus memberikan kode perintah. Bagus pun mengerti apa yang ingin dikatakan oleh atasannya. "Pak mari saya antar menemui bayi bapak," kata Bagus seraya membantu Arif berdiri.
Dengan langkah gontai Arif berjalan ke ruang bayi. Dia melihat bayi perempuannya melalui pembatas kaca. Air matanya kembali tumpah. Sungguh ada rasa penyesalan mendalam saat ia tidak bersama istrinya ketika sedang melahirkan.
"Mulai sekarang bapak tidak akan meninggalkan kalian," janji Arif pada Banu dan adiknya. Ia membelai rambut Banu sayang.
"Terima kasih banyak pak sudah menjaga anak saya," kata Arif dengan tulus pada Jaden.
"Tidak masalah pak, saya berharap bapak bisa menjadi ayah yang bertanggung jawab," pesan Jaden pada Arif.
"Saya tahu saya salah, saya pikir mereka akan baik-baik saja. Selama ini saya menjauhi keluarga saya karena saya tidak ingin orang-orang itu mengganggu keluarga saya, jadi saya pilih kabur dan meninggalkan mereka," kata Arif dengan wajah menyesal.
"Terima kasih banyak tuan, saya berhutang budi pada anda," Arif meraih tangan Jaden ingin sekali ia menciumnya tapi Jaden menolak.
"Bekerjalah di kantor istri saya, gaji anda akan saya potong untuk mengganti uang yang saya gunakan untuk melunasi hutang anda pada rentenir itu," kata Jaden memberikan kesempatan.
"Baik pak, saya mau bekerja di perusahaan istri anda," Arif tersenyu senang.
Setelah urusan Arif dan Banu selesai,Jaden kembali ke rumah. Dia meminta Bagus mengurus pekerjaan kantor hari ini. Jaden khawatir dengan keadaan istrinya.
"Sayang, kakak pulang," teriak Jaden yang baru masuk.
"Loh kalian ngapain di sini?" tanya Jaden pada Julian dan Bulan yang sedang mengobrol di ruang tamu.
"Gue nganter mommy, katanya elo yang nyuruh dia ke sini," kata Julian.
"Terus kenapa kak Bulan bisa ada di rumah aku?" tanya Jaden pada Bulan kemudian menoleh ke arah Julian.
"Gue yang nyuruh Bulan datang ke sini, sekalian bahas proyek yang akan dia tangani bareng gue," kata Julian.
"Cih, alasan, mommy mana?" tanya Jaden
"Ada di kamar bareng Berlian," jawab Julian. Jaden pun bergegas masuk.
"Mom," panggil Jaden saat memasuki kamarnya.
Jaden terpesona saat melihat istrinya memakai gaun untuk ibu hamil. "Sayang kamu cantik sekali mau kemana?" tanya Jaden sambil menarik pinggang istrinya.
Ehem
Mommy Celine berdehem keras agar Jaden menyadari keberadaannya. Jaden dan Bia menoleh ke arah mommy Celine.
"Dasar anak kurang ajar, kamu kira mommy ini patung," mommy Celine memukul putranya dengan majalah yang ia pegang.Bia pun terkekeh melihat kelakuan ibu dan anak it.
"Ampun mom, aku sangat kagum dengan kecantikan istriku sehingga aku tidak menyadari keberadaan mommy," Jaden mengerlingkan matanya pada Bia. Bia menggedikkan bahu.
"Bagaimana cocok kan gaun yang mommy belikan untuk menantu mommy?" tanya mom Celine pada putranya seraya menggandeng tangan Bia.
"Cantik mom," jawab Jaden ambigu. Padahal ia menitikberatkan kata cantik untuk memuji istrinya.
"Ah ya, apakah kamu sudah sembuh sayang?" tanya Jaden yang khawatir akan kesehatan Bia dan anak yang ada di dalam kandungannya.
"Iya, mommy telah merawatku dengan baik," kata Bia.
"Jangan khawatir menantu mommy yang cantik ini hanya kecapekan, mommy sudah panggilkan dokter untuk memeriksanya tadi, Julian juga sudah menebus vitamin yang harus dia minum," terang mom Celine.
"Thank you mom, you are the best mother," puji Jaden seraya bergelayut manja di lengan sang ibu.
"Kamu sudah tidak pantas bermanja-manja pada mommy seperti ini, ingat kamu akan menjadi seorang ayah sebentar lagi, jaga anak dan istrimu dengan baik," mom Celine memberi nasehat.
"Siap mom," jawab Jaden bersemangat.
"Mom, kak Jaden, mari kita makan bersama di bawah, anakku sudah lapar, kita ajak kak Bulan dan bang Jul sekalian," pinta Bia pada ibu mertua dan suaminya.
Jaden mendekat ke arah istrinya. Lalu ia mengangkat tubuh mungil istrinya itu. "Loh ko digendong segala?" kaget Bia saat tubuhnya terangkat tiba-tiba.
"Biar kamu gak kecapekan," kata Jaden.
"Tapi aku bisa...." belum selesai Bia berbicara Jaden menutup mulut Bia dengan kecupan. Wajah Bia merah merona. Mom Celine yang melihat interaksi keduanya jadi tersenyum-senyum. Ada perasaan lega karena rumah tangga anaknya terlihat harmonis.
❤️❤️❤️❤️❤️