My Beloved Partner

My Beloved Partner
6



Bia mengedarkan pandangannya ke sekitar kampus. Ia sedang mencari keberadaan Keyla. Dari jauh Keyla nampak sedang menikmati minuman dingin di bangku taman sendirian.


"Heh Ladu," Bia memukul kepala Keyla dari belakang.


"Duh sakit Bi," keluh Keyla seraya mengusap kepala belakangnya.


"Kemana aja lo?" Tanya Bia lalu duduk di samping gadis yang terpaut dua tahun lebih muda darinya.


"Gue gak kemana-mana," jawab Keyla ketus.


"Semalam gue cari elo di kafe tante Lulu elonya gak ada, gue teleponin juga gak aktif," Bia mencebik kesal.


"Gue molor di rumah, berhari-hari gue pulang tengah malam gara-gara elo, masih berani nanya?" Tunjuk Keyla ke wajah Bia.


"Kok elo nyalahin gue, kan lo sendiri yang mau ikut," elak Bia.


Sedikit cerita kalau Keyla selalu ikut di setiap pertandingan balap motor yang diikuti Bia. Padahal niat awalnya adalah mencari gebetan untuk dijadikan pacar. Sayangnya, sampai sekarang Keyla belum menemukan cowok yang dia cari. Karena perhatian lelaki selalu mengarah kepada Bia, si gadis blasteran Eropa itu.


Rambutnya yang panjang yang sedikit pirang dan lurus membuat setiap orang yang melihat Bia iri dengan kecantikannya. Kulitnya yang putih bersih meski tanpa perawatan khusus juga membuat dirinya semakin mempesona.


Walau Keyla jauh jika dibandingkan dengan Berlian. Namun, Keyla tetap menjadi teman setia Bia. Paling tidak numpang tenar, begitu pikirnya. Meskipun tak jarang dia diomeli oleh orang tuanya karena sering pulang tengah malam.


"Eh motor gue dimana?" Pertanyaan Bia membuat Keyla ingat.


"Oh iya gue lupa bilang, setelah ELO tinggalin gue malam itu." Keyla menekankan kata elo kepada Bia.


"Gue minta tolong sama Jaden buat ngurusin motor lo," imbuh gadis yang baru semester dua itu.


"Elo bohong kan?" Tuduh Bia pada Keyla.


"Serius," Keyla mengacungkan jarinya membentuk huruf V.


"Tapi semalam dia gak bilang apa-apa sama gue," ucapan Bia membuat Keyla mengerutkan keningnya.


"Semalam elo jalan sama tu cowok?" selidik Keyla.


"Gak sengaja ketemu," ucap Bia datar.


"Bi kalau gue ingat-ingat elo selalu ketemu Jaden di berbagai kesempatan, jangan-jangan kalian jodoh Bi," tebak Keyla.


"Jangan ngaco lo," Bia menonyor kepala Keyla.


"Lah kalau bukan jodoh apa namanya, gue juga mau dapet cowok kaya kak Jaden, selain ganteng bodynya itu lo enak buat dipamerin ke temen-temen kampus," Keyla membayangkan wajah tampan Jaden.


"Cih kecil-kecil ngeres otak lo,sejak kapan dia jadi kakak lo" cibir Bia.


"Sudah seharusnya Bi soalnya doi lebih tua dari gue," jawab Keyla.


"Lah ni bocah gue juga lebih tua dari lo, tapi elo gak ada sopan-sopannya sama gue, mau gue pecat bapak lo," canda Bia. Mulut Keyla jadi komat kamit.


"Eh motor gue gimana dong?"


"Elo samperin Jaden, tanya ke dialah," ucap Keyla seraya melangkah meninggalkan Bia.


...***...


Setelah Bia mendapatkan alamat rumah Jaden dari Keyla yang entah darimana sumbernya, ia pun memberanikan diri untuk masuk.


"Siang tante saya Bia, Jadennya ada?" tanya Bia pada seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu. Bia pun meraih tangannya lalu dicium.


"Bau terasi," batin Bia sambil tersenyum kikuk.


Wanita itu pun kaget pasalnya saat menengok ke belakang nyonya besar rumah itu tidak ada di tempat.


Jaden yang melihat tingkah Bia saat itu tertawa geli mendengar ucapan gadis itu yang mengira asisten rumah tangganya sebagai nyonya besar di rumah itu.


Wanita itu pun bertanya dalam diam pada Jaden. Namun Jaden memberi isyarat agar diam dengan mengedipkan matanya.


Wanita itu pun mengikuti perintah Jaden lalu menuju ke dapur.


"Ada apa lo nyampe ke sini? tau rumah gue darimana?" cecar Jaden.


"Dari Keyla, katanya elo yang bawa motor gue, sekarang balikin motor gue, pliss," Bia memasang wajah iba yang malah membuat hati Jaden gemas melihat wajah imutnya.


"Silahkan diminum," wanita tadi meletakkan nampan yang berisi minuman di atas meja.


"Ya ampun tante kenapa repot-repot," Bia merasa tidak enak.


Jaden menahan tawanya. Tak lama kemudian nyonya besar datang. "Ada tamu?" ucap wanita berusia setengah abad itu tapi wajahnya masih sangat cantik.


Bia menoleh ke sumber suara. Kemudian menoleh lagi ke wanita yang menyuguhkan minuman.Dia semakin bingung. Sedangkan Celine meminta penjelasan dari Jaden dalam tatapannya.


"Dia ini cewek yang pernah aku ceritain mom," akhirnya Jaden buka suara.


"Kamu Berlian?" tanya Celine antusias lalu mengajak Bia duduk.


Bia mengangguk walau sedikit kikuk karena Celine mengelus rambut panjangnya."Cantik ya, lebih cantik dari mantan-mantan kamu yang dulu," puji Celine pada gadis di hadapannya.


"Jelas mom, bule dia," perkataan Jaden membuat Bia memicingkan matanya.


"Darimana dia tahu kalau gue ada keturunan Eropa?" tanya Bia dalam hatinya.


"Oh ya pantas saja rambutnya sedikit pirang, aku kira ini habis ke salon,"


"Bukan tante asli dari lahir," jawab Bia.


"Udah berapa lama pacaran sama Jaden?" pertanyaan yang membuat Bia semakin bingung.


Bia menatap tajam ke arah Jaden. Ia tidak mengerti apa yang pernah dikatakan Jaden pada ibunya sehingga ia mengira Bia adalah kekasih sang putra.


"Baru jadian mom," Jaden menjawab pertanyaan mommynya lalu mengerlingkan sebelah matanya pada Bia.


Bia bertambah pusing. Niat awalnya menanyakan motor malah berakhir dengan salah sangka.


"Sebenarnya saya ke sini untuk..." belum selesai Bia ngomong Jaden menjeda kalimatnya.


"Dia kangen sama aku mom, makanya dia samperin aku sampai ke rumah," jawab Jaden.


"Diam kamu, aku bertanya pada Berlian," bentak Celine pada putranya.


"Sering-sering main ke sini ya Berlian, tante akan senang jika kamu menemani tante masak atau sekedar ngobrol santai di rumah tante," ucap Celine.


"Mom, Jaden ajak Berlian keluar dulu ya," Jaden menarik tangan Bia.


"Elo mau bawa gue kemana?" tanya Bia.


Jaden diam saja. Laki-laki itu membantu Bia mengenakan helmnya. Setelah itu menyuruh Bia untuk naik. Bia terpaksa menuruti kemauan Jaden karena dia tidak mau terjebak dalam sandiwara Jaden. Ia tak mau membuat ibunda Jaden salah paham.


"Elo mau bawa gue ngambil motor kan?" tanya Bia memastikan. Bia berharap motor itu bisa kembali padanya sebelum Rasya benar-benar merampas motor kesayangannya itu.


Jaden masih fokus pada pandangannya. Bia nampak pasrah kemana Jaden membawa. Sementara Jaden diam-diam memperhatikan wajah cantik Bia yang tidak pernah bosan untuk dipandang. Jaden tersenyum licik.


...***...


Kira-kira kemana Jaden akan membawa Bia?


Apakah ke bengkel, ataukah dibawa pulang? Hanya othor yang tahu


Like,like,like