My Beloved Partner

My Beloved Partner
122



"Wanita itu belum keluar Mas," ini sudah pagi Bagaimana kalau kita beli sarapan dulu, Mas Bagus tunggu di sini biar aku yang keluar." Bagus mengangguk.


Keyla mencari warung makan yang buka di sekitar situ. Sementara itu bagus melihat wanita keluar dari rumah yang diawasi. Di saat ia keluar Bagus mengambil kesempatan itu untuk mengintip rumah itu.


Bagus melihat baby Al ditinggal sendirian di dalam kamar. bagus mencoba masuk tapi semua jendela dan pintu terkunci. Tak lama kemudian Bagus menerima panggilan dari atasannya.


"Aku sudah dekat bagaimana keadaan di lokasi?" tanya Jaden melalui sambungan telepon.


"Wanita itu sedang keluar Pak. Saya melihat dia meninggalkan anak anda sendiri yang di dalam kamar."


"Baiklah aku ke sana sekarang!"


Jaden dan Julian sepakat untuk membagi tugas. Jaden menemui Santi kemudian Julian bertugas menyelamatkan keponakannya.


Sementara itu Santi menuju ke tempat yang ia sepakati dengan Bia untuk mengambil uang tebusan yang ia minta. Tak lama kemudian Jaden datang.


Laki-laki itu membawa sebuah tas yang berisikan uang sejumlah yang disebutkan oleh Santi. "Mana anakku kenapa kamu tidak membawanya?" geram Jaden.


Santi mendekat kemudian berusaha menyentuh dada Jaden. "Apa yang kamu lakukan? Jauhkan tanganmu itu dari tubuhku," sungut Jaden.


"Kamu jangan munafik. Aku tahu kamu juga tertarik kepadaku," ujar wanita itu.


Jaden mengerutkan keningnya. "Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu?"


"Aku bisa lihat perlakuan manis yang kamu tunjukkan kepadaku. Tinggalkan saja istrimu itu yang tidak pernah peduli pada anaknya," kata Santi sambil berbisik di telinga Jaden.


Jaden mendorong tubuh Santi. "Jaga bicaramu mana mungkin dia tidak mengkhawatirkan anaknya yang sedang kau culik."


"Kalau dia peduli kenapa dia menyewa baby sitter? Kalau aku jadi dia aku tidak akan bekerja karena suamiku sudah kaya. Apa hartamu kurang? Apa kamu pelit sehingga istrimu harus bekerja?" perkataan Santi membuat Jaden tersinggung.


Jaden mengepalkan tangan. Kalau saja orang di hadapannya itu bukan wanita maka ia akan langsung menghabisinya. "Tutup mulutmu sekarang serahkan anakku dan aku akan beri uangnya," kata Jaden.


"Perlihatkan dulu uangnya lalu aku akan menyerahkan anakmu," ancam Santi.


Jaden membuang tas itu ke arah Santi. Saat Santi akan memungutnya Keyla tiba-tiba menampar wanita itu hingga ia jatuh tersungkur.


Santi memegang pipinya yang terasa panas. "Dasar ja*lang sialan, berani-beraninya kamu menculik keponakanku," bentak Keyla.


Awalnya Keyla ingin membeli sarapan untuk Bagus tapi saat ia mengedarkan pandangannya ia tak sengaja melihat Jaden berhenti di suatu tempat. Lalu Keyla memutuskan untuk mengikutinya. Keyla diam-diam menguping pembicaraan antara Jaden dan Santi.


"Siapa kamu? Kamu yang lancang karena berani menamparku. Kamu tahu akibatnya ponakanmu akan kubunuh," ancam Santi.


"Kamu..." langkah Keyla dihalangi oleh Jaden. laki-laki itu memberikan kode untuk tidak gegabah. Keyla pun menurut.


"Tunjukkan di mana anakku sekarang!" Perintah Jaden.


"Dia ada di rumah sendirian di ujung jalan sana. Ini kuncinya," Santi melempar sebuah kunci pada Jaden. Lalu ia membawa lari tas tersebut.


"Kak uangnya?" tanya Keyla.


Jaden dan Keyla menuju rumah yang dimaksud oleh Santi. Di sana ia melihat Julian dan Bagus telah menyelamatkan Baby Al. Tapi Jaden melihat bayinya itu terus saja menangis.


"Saya pikir dia lapar, Pak," kata Bagus.


Jaden mengambil alih gendongan dari tangan kakaknya. Ia memeluk Baby Al erat. Ada perasaan lega yang tidak bisa diungkapkan. "Kita bawa dia pulang," kata Jaden.


"Bagaimana dengan wanita itu?" tanya Julian.


"Aku membiarkannya kabur. Biar polisi yang mengurusnya," kata Jaden.


Lalu Jaden menyerahkan anaknya pada Keyla karena ia yang menyetir.


Sementara itu di rumah Jaden, Bia dan keluarganya harap-harap cemas menunggu kepulangan anaknya.


"Ma, mereka tidak pulang-pulang?" Tanya Bia yang cemas terhadap anaknya.


"Sabar sayang, mama yakin mereka akan pulang membawa Al dengan selamat," kata mama Ara menguatkan putrinya.


Setelah lama menunggu Jaden dan rombongan akhirnya tiba di rumah. Bia merasa senang ketika melihat mereka. Ia pun berlari lalu kemudian menggendong anaknya.


"Mama kangen kamu sayang. Maafin mama karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik," ucapnya sambil terisak.


"Bi, sebaiknya kamu bawa Al ke dalam lalu susui dia, mungkin dia lapar seharian tidak makan."


"Dasar wanita sialan berani-beraninya dia membuat anakku kelaparan," umpat Bia.


"Sudah lupakan! Polisi sudah mengurusnya," kata Jaden.


Bia pun pamit pada keluarga besarnya lalu kemudian membawa Al masuk ke dalam kamar untuk memberikan bayi itu susu.


"Jaden mulai sekarang mama yang akan bantu urus anak kalian tidak usah menyewa baby sitter lagi. Kejadian kemarin cukup membuat mama trauma."


"Iya kalau butuh bantuan mommy, mommy juga bersedia menjaga bayi kalian," sahut mom Celine.


"Terima kasih mom, Ma."


Di tempat lain Santi sedang diburu oleh polisi. Ia pergi ke terminal guna kabur ke luar kota. Tapi polisi berhasil menemukannya dengan mudah berkat alat pelacak yang dipasang oleh Jaden di tas yang berisi uang tersebut.


"Saudara Santi anda kami tangkap atas dasar penculikan bayi dan pemerasan," kata polisi wanita yang kini memegang borgol di tangannya.


"Apa buktinya? Kalian pasti salah orang," elak Santi. Wanita itu berusaha memberontak ketika tangannya diborgol.


"Lepaskan saya, lepaskan!" teriak Santi.


Para polisi itu menyeretnya masuk secara paksa ke dalam mobil.