My Beloved Partner

My Beloved Partner
48



Selama di rumah sakit Bia ditemani oleh Bulan dan bergantian jaga dengan Keyla. Jaden yang notabene suaminya hanya sekali menengok Bia yaitu ketika Bia pertama kali dilarikan ke rumah sakit. Setelah itu dia tidak pernah menampakkan batang hidungnya.


Entah karena ia kecewa kehilangan anaknya atau karena rasa cemburunya terhadap Aiden. Padahal ia tidak tahu status Aiden adalah tunangan Bulan. Dan pada saat ia membopong Bia, Aiden hanya semata-mata menolongnya.


Pikiran Jaden begitu kalut. Selama Bia dirawat di rumah sakit ia lebih sering menghabiskan waktu di kantor lalu pulang setelah larut.Bagus merasa prihatin melihat bosnya itu. Apakah ini cara untuk melupakan kesedihannya, pikir Bagus.


"Pak apa anda tidak sebaiknya pulang atau ke rumah sakit menjenguk nyonya Berlian?" tanya Bagus dengan hati-hati.


"Kamu pulanglah dulu," titah Jaden pada asistennya.


Bagus pun tidak bisa berbuat apa-apa.Membujuk Jaden adalah hal yang sia-sia untuk saat ini. Lalu Bagus berinisiatif mengunjungi istri atasannya itu. Saat di rumah sakit ia bertemu dengan Keyla yang sedang menunggui Bia dari luar ruangan.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Bagus dengan ekspresi wajah datar.


Keyla menoleh ke sumber suara. "Seperti yang kamu lihat dia belum sadar," katanya mengamati Bia dari balik jendela ruang ICU.


"Kenapa bos kamu tidak datang menemui istrinya, laki-laki macam apa itu yang tidak khawatir dengan keadaan istrinya sama sekali?" cibir Keyla kesal.


Bagus menghela nafasnya panjang. "Entahlah, dia lebih sering lembur akhir-akhir ini," kata Bagus.


"Gedeg banget gue sama kak Jaden, dulu aja ngejar-ngejar Bia sampai ngelakuin segala cara buat dapetin dia, eh giliran Bia lagi kritis kaya gini dia sama sekali gak menunjukkan perhatiannya," gerutu Keyla.


"Semua cowok sama aja habis manis sepah dibuang," kata-kata Keyla sukses membuat mata Bagus membola. Ia tidak terima mendapatkan julukan yang sama. Bukankah karakter tiap orang itu berbeda-beda.


"Gak semua cowok kaya gitu kali," elak Bagus.


Keyla menautkan alisnya. "Sama aja," kata Keyla ketus.


"Gak sama," bantah Bagus yang tak mau kalah.


"Sama,"


"Gak,"


Ehem


Suster yang sedang lewat di samping ruang ICU melihat pertengkaran mereka. "Harap tenang ini rumah sakit bukan ajang lomba debat," kata suster itu kemudian melenggang pergi.


"Kamu sih," Keyla menyalahkan Bagus.


"Kamu yang mulai," elak Bagus.


"Kamu,"


"Kamu,"


Kita tinggalkan pertengkaran antara Keyla dan Bagus yang tidak ada hentinya.


Di kediaman Rasya


"Mama sudah baikan?" tanya Rasya pada mam Ara yang sakit pasca kecelakaan yang menimpa putrinya.


"Udah pah," jawab mama Ara yang sedang bersandar di kepala kasur.


"Mama kangen sama anak mama," ungkap mama Ara.


"Oh ya besok kan week end, kita jenguk Berlian ya ma di rumah sakit, tapi mama janji mama harus sembuh dulu," kata Rasya mencoba menghibur istrinya.


"Pah mama masih merasa bersalah sama Bia, mama gak bisa menjaga dia dengan baik hingga dia harus kehilangan bayinya," kata Ara terisak. Rasya membawa istrinya dalam pelukan.


"Itu kecelakaan ma, mama jangan menyalahkan diri mama terus menerus," kata Rasya dengan lembut.


Keesokan harinya Jaden meminta Bagus mengurus surat pemecatan pada chef Aiden dengan alasan makanannya tidak sesuai dengan restorannya.


Aiden kaget karena seingatnya dia tidak melakukan kesalahan dalam beberapa hari ini. Bahkan di awal pertemuannya dengan Jaden, ia banyak di puji.


"Saya tidak tahu, saya hanya menjalankan perintah," kata Bagus lalu pergi.


Aiden merasa ini tidak benar. Tapi ia tidak dekat dengan Jaden sehingga ia urung mengajukan protes. Ia akan bekerja di tempat lain.


...***...


Di hari ketiga Bia di rawat di rumah sakit, ia kini sadar. "Euuhh," lenguh Bia dan mulai menggerakkan jari tangannya.


Mam Ara dan pap Rasya yang melihat kemajuan Bia segera memanggil dokter. Dokter pun memasuki ruang ICU.


Tak lama setelah itu dokter keluar. "Nyonya Berlian bisa dipindahkan ke ruang perawatan, kalau keadaannya semakin membaik lusa dia boleh pulang," berita baik dari dokter membuat orang tua Bia bahagia mendengarnya.


Perawat pun menyiapkan ruangan untuk Bia. Bulan, mam Ara dan pap Rasya memasuki kamar rawat Bia di ruang VVIP.


"Kamu sudah siuman sayang?" mam Ara mendekat seraya mengusap lembut pipi putrinya.


"Ma dimana anakku?" tanya Bia setelah mengetahui perutnya rata.


Mam Ara tak lantas menjawab, ia bingung bagaimana menjelaskan kepada putrinya bahwa bayinya tidak bisa diselamatkan.


Rasya kemudian mendekat."Sayang bayi kamu tidak bisa diselamatkan," kata Rasya.


Deg


Seakan tersambar petir di siang bolong Bia mendapatkan berita yang mengejutkan baginya. Bia pun menangis histeris. Bayi yang ia nantikan kelahirannya selama hampir sembilan bulan malah meninggalkan dirinya begitu saja.


"Kak Jaden mana ma?" tanya Bia disela-sela tangisannya.


"Jangan tanyakan dia, sejak kamu dirawat di sini dia sama sekali tidak mengunjungimu," sahut Bulan.


"Kak Bulan tidak berbohong kan padaku?" selidik Bia. Ia lalu menoleh ke mamanya. "Itu benar sayang," kata mam Ara.


Lagi-lagi Bia menumpahkan air matanya. Ia sangat kecewa dengan sikap Jaden yang seolah tak peduli dengan keadaannya. Apakah Jaden menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaga bayinya sehingga anak mereka harus meninggal setelah dilahirkan, pikir Bia.


...***...


Hari ini Bia diperbolehkan pulang. Ia masih terlihat lemah pasca kecelakaan yang menimpanya. Namun Bia ingin sekali mengunjungi makan anaknya.


"Sayang apa tidak sebaiknya kamu datang ke makam anakmu setelah kamu pulih benar?" bujuk mam Ara.


Bia menggeleng. "Tidak ma, bagaimana bisa aku tenang sebelum mengunjunginya, bahkan wajahnya saja aku tidak sempat kulihat ma sebelum ia dikubur," kata Bia dengan wajah sendu manahan tangis.


Supir pun mengantar Bia dan mama Ara ke makam anaknya yang bersebelahan dengan makam Radith*, saudara kembar papa Rasya.


*Kisah kematian Radith bisa dibaca di novel tamat aku ya (KEPINCUT CINTA MISS OJOL)*


"Maafkan mama sayang yang tidak bisa menjaga kamu," ucap Bia di depan pusara anaknya.


Mama Ara pun tidak kuasa menahan tangis karena melihat kesedihan putrinya. Ia berjanji akan membuat putrinya melupakan kesedihannya.


"Sayang sebaiknya kita pulang sebentar lagi akan hujan," ajak mama Ara.


"Apa kau ingin kuantar pulang ke rumahmu?" tawar mama Ara.


"Untuk apa pulang ke sana ma kalau kak Jaden sudah tidak peduli denganku," kata Bia ada rasa kecewa yang mendalam pada suaminya yang sama sekali tidak menghubunginya sama sekali.


...❤️❤️❤️...


Hallo my beloved readers kuy mampir juga di novel temen aku yang bacaanya gak kalah seru.