
Seorang gadis duduk di dapan cermin mengenakan kebaya putih dengan siger di atas kepalanya.
"Ya ampun yee cakep nek," puji laki-laki setengah gemulai tersebut pada wanita yang diriasnya.
Raina hanya tersenyum malu-malu menjawab perkataan perias tersebut.
"Sudah siap?" tanya mom Celine yang berada di ambang pintu.
Raina menoleh agak kaku karena beban yang ada di kepalanya membuat pergerakannya kurang leluasa. "Sudah mom," jawab wanita berhijab itu dengan suara yang amat lembut.
"Ya ampun cantik sekali calon menantuku,"puji mom Celine saat melihat Raina yang audah didandani.
"Apa kau pasangkan susuk sehingga dia berubah menjadi titisan bidadari seperti ini?" goda mom Celine pada sang perias sehingga membuat semua orang yang mendengar ocehannya tertawa.
"Mom udah belum sih?" tanya Jaden memastikan.
"Iya udah kita mau ke sana sekarang," jawab sang ibu.
"Yuk mommy bantu jalan sayang," Mom Celine memapah Raina yang menggunakan jarik kebaya yang ketat hingga sedikit menyulitkannya ketika berjalan.
Saat Raina dan mom Celine tiba di ballroom semua mata tertuju ke satu tempat. Begitu juga dengan Julian, sang calon pengantin.
"Cantik," lirih Julian saat memandang calon istrinya berjalan.
"Julian, Julian," panggil mom Celine.
Suara mom Celine membuyarkan lamunan Julian. Raina yang merasa diperhatikan wajahnya memerah. Ia tertunduk malu.
"Yuk ngamar," Julian memberikan lengannya pada Raina.Raina hanya menggeleng melihat tingkah aneh calon imamnya tersebut.
Bukannya mendapat balasan dari Raina, semua orang malah memukul kepalanya."Ijab qobul dulu Malih," protes mom Celine.
Julian clingak clinguk menunggu kedatangan Hardian. Ia melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya. Lalu ia putuskan menunggu di depan.
Sementara itu Hardian datang bersama istrinya. Sang istri nampak kagum melihat hotel tempat berlangsungnya pernikahan keponakannya begitu megah.
"Yakin pak tempatnya di sini?" tanya sang istri memastikan.Hardian mengangguk.Mereka pun masuk ke dalam ruang yang digunakan untuk prosesi akad nikahnya.
Hardian disambut oleh Julian langsung. "Selamat datang paman, saya senang anda mau datang menjadi wali Raina," kata Julian.
"Mari saya antarkan ke kursi anda," ajak Julian.
Setelah itu prosesi ijab qobul pun dilakukan. Julian yang terlihat tegang merasa lega setelah saksi dan wali menyatakan sah.
Hardian telah menunaikan tugasnya sebagai seorang wali untuk keponakan satu-satunya. Ia menghampiri Julian saat laki-laki itu sedang menyapa tamu-tamunya.
"Bisa kita bicara sebentar?" paman Raina menyela. Raut bahagia Julian berubah seketika menjadi datar. Julian mengangguk dan membawa Hardian jauh dari keramaian.
"Saya ingin meminta imbalan saya," Hardian langsung mengutarakan keinginannya.
"Baik paman, saya sudah menyuruh anak buah saya untuk melunasi seluruh hutang paman termasuk pada driver ojek online waktu itu," kata Julian.
"Mana buktinya, kenapa uangnya tidak kau serahkan saja padaku secara tunai," kata Hardian.
"Saya akan menghubungi sekertaris saya," Julian menekan kontak di hapenya. Tak lama kemudian seorang wanita cantik yang tak lain adalah Ruby membawakan berkas yang berisi bukti-bukti pelunasan hutang Hardian di bank.
Hardian menerima berkas yang diberikan oleh Ruby. Ia tak percaya Julian membayar semuanya. Total hutang yang dimiliki Hardian tidak mencapai angka seratus juta tapi waktu itu ia meminta uang pada Julian sebanyak seratus lima puluh juta. Licik memang.
Julian sudah bisa menebak pikiran Hardian saat itu. Bertemu dengan klien yang berbeda karakter setiap hari membuatnya dapat mempelajari karakter seseorang dengan mudah. Didukung dengan kemampuannya yang amat jenius dari lahir Julian bukan orang yang gampang dibodohi begitu saja.
"Gak jadi untung kalau begini," Ia pun pergi meninggalkan Julian. Namun sebelumnya ia mencari sang istri.
"Ayo bu kita pulang," Hardian menyeret istrinya saat tengah memakan camilan yang disediakan.
"Pak tunggu ibu mau makan yang itu," kata sang istri dengan mulut yang penuh makanan yang belum dikunyah.
Julian menatap kepergian paman Raina itu seraya menyunggingkan senyum sinisnya. Ia tak menyangka pamannya setega itu oada keponakannya. Bahkan menghampiri Raina untuk memberi ucapan selamat pun tidak.
"Julian," panggil seorang wanita berparas bule yang menghampiri Julian.
Julian menoleh."Bulan," Julian sedikit kaget pasalnya ia adalah wanita yang pernah singgah di hatinya dulu.
"Selamat ya aku ikut seneng kamu sudah nemuin pendamping hidup kamu," kata Bulan seraya mengulurkan tangannya.
Raina yang saat itu sendirian mencari-cari keberadaan suaminya. Lalu ia melihat Julian sedang ngobrol bersama dengan wanita yang berwajah bule.
"Siapa dia?" tanya Raina dalam hati.
"Raina bang Jul mana?" tanya Bia yang sedang menggendong Sovia.
"Sedang menemui tamunya," tunjuk Raina dengan dagunya. Bia mengikuti arahan dan matanya tertuju pada Julian dan Bulan yang sedang mengobrol.
"Oh itu kak Bulan, kakak sepupu aku yang baru datang dari Jerman, dia yang mengurus pernikahan kalian, jangan cemburu ya kak Bulan gak ada hubungan apa-apa sama bang Jul," terang Bia.
"Bi anaknya lucu banget," tegur salah seorang tamu.
"Tapi ko gak mirip kamu sih mukanya," imbuhnya lagi setelah mengamati wajah Sovia.
"Ah masak sih, lebih mirip bapaknya kali, kan emang gitu emaknya yang lahirin tapi anaknya malah lebih mirip sama bapaknya, sakitnya tuh di sini," Bia mendramatisir kata-katanya.
"Ah kamu bisa aja Bi," semua orang yang mendengar ocehan Bia menjadi tertawa.
Tidak ada yang tahu kalau Sovia adalah anak Raina dan Julian. Keluarga besar Darren memang menyembunyikan fakta tersebut. Semua orang menganggap Sovia adalah anak Berlian dan Jaden karena merekalah yang lebih dulu menikah. Bia pun bersandiwara dengan mengakui Sovia sebagai anaknya.
"Udah ya Sovia mau nyari bapaknya dulu," Bia menyingkir agar anak yang ia gendong itu tidak jadi incaran ibu-ibu yang gemas pada bayi perempuan itu.
Bia menghampiri Julian."Bang dicariin istrinya noh," tegur Bia pada kakak iparnya.
"Eh iya Bi, Bulan aku tinggal dulu ya," pamit Julian.Bulan mengangguk.
"Bi anak siapa tuh?" tanya Bulan yang belum tahu.
"Anak guelah," jawab Bia asal
"Kalau bohong jangan ketahuan, gak mirip ini," Bulan berbicara sambil mencolek pipi Sovia yang gembul.
"Eh anaknya papi lagi di sini," Jaden menghampiri istrinya.
"Tuh kan anak gue," Bia menatap suaminya meminta dukungan.
"Iya anak kita," Jaden mencubit gemas hidung mancung istrinya.Bulan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku keduanya.
"Kak ajak Sovia main dulu, aku mau makan sama kak Bulan," Bia memberikan bayi mungil itu pada suaminya.
"Eh Bi gimana ceritanya," protes Jaden pada istrinya.Akhirnya ia pun pasrah menggendong Sovia yang sedang tertidur.