My Beloved Partner

My Beloved Partner
188



Alex masih menunggui istrinya. Dia sudah berganti pakaian. Sementara yang lain sudah pulang. Kini mereka berada di kamar Sandra.


"Ah kepalaku," Sandra siuman.


"Sayang kamu sudah bangun?" Tanya Alex yang merasa lega.


Sandra mengedarkan pandangannya. "Ah kenapa kamu ada di kamarku?" Tanya Sandra yang masih setengah sadar.


"Sekarang aku sudah sah menjadi suamimu sayang," jawab Alex.


Sandra mencerna omongan Alex. Lalu ia tiba-tiba menangis. "Kenapa kamu menangis?" Tanya Alex dengan lembut.


"Aku masih tidak percaya aku sudah menjadi seorang istri," akunya.


"Kamu tidak suka kunikahi?" Tanya Alex hati-hati.


"Bukan, bukan seperti itu, aku hanya belum siap menjalankan peranku sebagai istri. Aku kan masih kuliah bagaimana kalau kamu terabaikan? Aku takut tidak bisa mengatur waktuku," kata Sandra.


Alex tersenyum lalu memeluk istrinya. "Kita jalani sama-sama. Anggap aja kita masih pacaran," kata Alex. Dia tidak mau memaksa Sandra mengakui kalau dia suaminya.


Setelah itu Alex meminta istrinya beristirahat. "Kamu tidur dimana?" Tanya Sandra polos.


Alex tersenyum. Ia lalu naik ke atas ranjang dengan Sandra. "Mau ngapain?" Tanya Sandra terkejut.


"Tidur sama istri dong," goda Alex sambil terkekeh.


"Nggak, aku belum siap," Sandra emndoring Alex.


"Siap apa? Dasar mesum," umpat Alex pada Sandra. Sandra melotot tak percaya. "Kamu tuh yang mesum," balas Sandra yang nggak terima.


"Aku tidak akan ngapa-ngapain kamu sayang, aku tahu kamu masih sakit, jadi tidur ya aku akan menemani kamu," kata Alex dengan lembut.


"Tapi aku malu," rengek Sandra.


"Sudah jangan malu, biasanya juga malu-maluin," ledek Alex yang tak henti menggoda istrinya. Ia tidur memeluk istrinya.


...***...


Hari ini Zidan akan berangkat ke Perancis. Ia akan menempuh study di luar negeri. Itu dikarenakan ia sedang patah hati. Hatinya sakit ketika mendengar Sandra dan Alex menikah. Bahkan di pernikahan Alex kemaren ia sengaja tak datang.


Orang tua Zidan sebenarnya sudah tahu alasan Zidan pindah ke luar negeri tapi mereka diam saja takut menyinggung perasaan anaknya.


"Kalau sampai sana kabari ya nak!" Pinta Raina pada putra bungsunya.


Zidan memeluk ibunya. "Iya bun, Zidan janji Zidan akan terus kabarin bunda."


"Jangan lupa sholat dek, meskipun kamu tinggal di negeri orang kamu tidak boleh meninggalkan sholat," pesan Sovia pada Zidan. Zidan mengangguk.


"Iya, Kak. Oh ya kakak udah beliin sesuatu yang aku minta kan?" Tanya Zidan.


"Iya," jawabnya.


"Apaan sih?" Tanya Raina penasaran.


"Cuma hadiah untuk Alex dan Sandra bun karena aku kemaren nggak datang ke acara mereka," jawab Zidan.


Ibunya merasakan aoa yang dirasakan oleh putranya. "Kamu yang sabar ya nanti pasti ada wanita yang kebih baik dari Sandra untukmu," pesan sang ibu.


"Sudah-sudah waktunya berangkat," Julian bersuara.


Zidan meraih tangan Julian dan menciumnya. "Zidan pergi," pamitnya oada seluruh anggota keluarganya.


...***...


Alex berencana mengajak Sandra pindah ke unit apartemen yang telah dibelikan oleh papanya. Berlian bilang kalau berumah tangga sebaiknya tinggal terpisah. Akhirnya Jaden membeli apartemen untuk mas kawin sekalian.


Alex dan Sandra turun dari kamarnya. "Selamat pagi penganten baru," ledek Chloe.


Hari ini Vero masih tinggal di rumah Chloe. Ia berencana pulang setelah berpamitan dengan anak dan menantunya.


Chloe senyum saat melihat rambut Sandra yang basah. Begitu juga dengan menantunya. "Kalian ini mentang-mentang penganten baru main sampai siang," ejek Chloe.


Wajah Sandra bersemu merah. Ibunya pasti salah paham ketika melihat rambutnya yang basah. Padahal gara-gara tidur bersama Alex, Sandra tidak bisa memejamkan matanya. Alhasil ia keramas agar tidak mengantuk ketika pagi.


"Ma, Pa, Alex mau ngajak Sandra pindah ke apartemen," kata Alex memberanikan duri bicara pada mertuanya.


"Kalian nggak tinggal di sini saja Lex temani mama," pinta Chloe dengan wajah sendu.


"Kami mau mandiri ma," Alex mengungkapkan alasannya.


"Sekali-kali kunjungi kami meskipun kita sudah tinggal berpencar," pesan Vero pada anak dan menantunya.


Uhuk


Vero tersedak saat minum. Wajah Chloe menjadi bersemu merah. "Sudah jangan ngomong aneh-aneh," kata Vero.


...***...


Sore hari Alex dan Sandra tiba di apartemen miliknya. "Wah megah juga ya apartemennya bagus," ucap Sandra yang merasa kagum dengan interior apartemen yang dihadiahkan sebagai mas kawin oleh Jaden.


"Kamu suka?" Tanya Alex. Sandra mengangguk.


"Lex kenapa kita tinggal berdua aja di sini nanti kalau aku kesepian bagaimana?"


Alex tersenyum licik. "Bagaimana kalau kita bikin anak, mungkin kamu tidak akan kesepian lagi setelah kita memiliki momongan." Omongan Alex sontak membuat Sandra kaget.


"Dasar mesum," Sandra mendorong tubuh Alex.


Alex menarik pinggang istrinya agar mendekat. Ia mencium bibir Sandra dengan rakus. Sandra tak kuasa menolak. Ia hanya bisa pasrah mendapatkan sentuhan lembut di bibirnya dari sang suami.


Ciuman itu semakin lama semakin menuntut. Entah sejak kapan tangan Sandra mengalung pada leher Alex. Alex diam-diam mengulas senyum. Ia pun menggigit bibir istrinya agar ia bisa mengeksplore ke dalam mulutnya.


Ting tong


Suara bel membuat Alex melepas pagutannya. "Siapa sih yang bertamu?" Geram Alex. Sandra terengah-engah. Ia membetulkan rambutnya yang berantakan.


Lalu ia membukakan pintu. "Kak Sovia?"


"Hai penganten baru, maaf ya ganggu acara kalian," goda Sovia sambil tersenyum.


"Mau ngapain kak?" Tanya Alex pada sepupunya itu.


"Nih aku bawain kado buat kamu sama Sandra," Sovia mengangguk ketika melihat Sandra mendekat suaminya.


"Masuk kak," ajak Sandra pada Sovia.


"Aku langsung saja. Cuma mau nganterin titipannya Zidan hari ini dia pindah ke Perancis," lapor Sovia.


"Dia kuliah di sana?" Tanya Sandra. Sovia mengangguk.


"Sekali lagi selamat ya semoga cepet ngasih ponakan," kata Sovia sambil terkekeh. Wajah Sandra bersemu merah mendengar doa sepupu Alex itu.


Setelah Sovia pergi, Alex membuka hadiah dari Zidan. "Apa ya isinya?" Alex penasaran.


"Wah jam tangan yang bagus," kata Sandra saat melihat jam tangan couple merk terkenal yang diberikan Zidan sebagai hadiahnya.


'Semoga cinta kalian tidak termakan waktu'


Sebuah pesan yang terselip di kotak hadiah tersebut. Sandra menjadi terharu karenanya.


...***...


Hari-hari Sandra menikmatinya dengan Alex. Alex sedang sibuk mengerjakan skripsinya. Sedangkan Sandra yang masih di semester bawah kuliah seperti biasa.


Sandra mencoba melayani Alex dengan baik sebagai suaminya. Meskipun Sandra tidak bisa memasak, Alex memaklumi. Namun Sandra selalu belajar memasak bersama ibu mertuanya.


Hari ini Sandra datang ke rumah Bia untuk belajar masak seusai kuliah. Alex tidak ikut karena dia sibuk mengerjakan skripsinya di apartemen.


"Sudah siap memasak hari ini?" Tanya Bia. Dia begitu antusias mengajari Sandra.


"Sudah Ma,"


"Kamu potong bawang ya, itu ambil di sana," tunjuk Bia.


Lalu Sandra mulai memotong bawang. Namun, perutnya tiba-tiba mual ketika mencium bau bawang. Ia pun berlari ke toilet. Bia menjadi panik.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Bia yang melihat Sandra lemas setelah memuntahkan isi perutnya.


"Mual ma, kepalaku juga pusing," kata Sandra. Bia pun memapah menantunya sampai di sofa.


"Mama ambilin minum ya," Sandra mengangguk.


"Eh kak Sandra ada di sini," sapa Kristal yang baru pulang.


"Dek kamu bau, sana mandi!" Usir Sandra.


"Ya ampun Kristal tuh pakai parfum Paris lho kak, masak bau sih," protes Kristal.


"Nggak tahu pokoknya, huekk, hueekk," Sandra berlari secepat mungkin ke toilet.