My Beloved Partner

My Beloved Partner
53



Bagus menyerahkan surat perceraian yang dikirim ke Bia langsung.


"Apa ini?" tanya Bia saat menerima amplop berwarna coklat.


"Buka saja nyonya, saya hanya menyampaikan perintah tuan Jaden," kata Bagus dengan ekspresi wajah datar lalu pergi.


Berlian pun membuka isi surat tersebut. Betapa terkejutnya ia saat melihat isi surat tersebut ternyata adalah gugatan cerai dari suaminya.


Bagaimana bisa Jaden berbuat seperti itu padahal semalam dia meminta maaf padanya. Air mata Bia sudah tak lagi bisa dibendung.Bia meremas kertas yang ia pegang.


Melihat hal yang tak biasa, Keyla segera menghampiri atasannya itu."Bi elo kenapa?" tanya Keyla yang panik saat melihat sahabatnya terduduk di lantai.


Tak lama setelah itu Jaden atang ke kantor ojek online. Saat ia mencari keberadaan Bagus tidak ada di kantornya, ia curiga Bagus sudah menyerahkan surat gugatan cerai yang minta kemaren pada Bia. Benar saja tebakannya itu sangat tepat.


Jaden meremas rambutnya kasar karena frustasi ketika melihat istrinya terduduk di lantai sambil membawa kertas di tangannya.


Jaden melangkah ke dekat Bia. Ia berharap istrinya itu mau mendengar penjelasannya. "Sayang," panggil Jaden pada istrinya.


Menyadari kehadiran Jaden, Keyla pun pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan Bia. Keyla sadar ia tidak berhak untuk ikut campur urusan rumah tangga sahabatnya. Tapi yang ia curiga adalah Bia menangis setelah kedatangan Bagus. Maka ia pun menghubungi Bagus untuk mengetahui penyebab temannya itu menangis.


Keyla on calling


Bagus mengernyit heran saat mendapati nama kontak yang tertera di layar ponselnya. "Tumben ni anak telepon, hallo ada apa? cepet katakan aku sibuk," kata Bagus ketus ketika menjawab telepon dari Keyla.


"Heh, papan seluncuran lo ngasih apa ke bos gue sampai bos gue nangis kejer kaya gitu hah?" sungut Keyla saat bertanya pada Bagus.


Bagus menghembuskan nafasnya kasar. "Gue ngasih surat gugatan cerai atas perintah tuan Jaden," jujur Bagus ada rasa tidak enak saat mengatakannya.


"Apa?" teriak Keyla hingga membuat Bagis menjauhkan telepon selulernya dari telinga. Gadis itu benar-benar kaget.


Sementara itu Jaden sedang membujuk Bia agar memafkan dirinya. "Sayang aku mohon maafin aku, keputusan itu aku buat tanpa pertimbangan, kalau kamu tidak percaya lihat ini," Jaden menyobek kertas yang dipegang Bia menjadi kepingan kecil-kecil.


"Please percaya sama kakak," mohon Jaden dengan muka memelas.


Ketika Jaden mendekat dan akan membawa istrinya itu ke dalam pelukan, Bia mendorong tubuh Jaden kasar. Wanita itu bangkit dan keluar ruangan. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan.


Keyla yang melihat Bia keluar lalu mengikutinya. Ia tahu sahabatnya itu butuh teman. Meskipun hanya dijadikan sebagai supir Keyla rela.


Keyla membukakan pintu mobil untuk Bia. Kemudian mereka pergi tanpa tujuan yang jelas. Sedangkan Jaden ia merasa frustasi saat ini. Ia pun menghubungi Bagus untuk membatalkan gugatan cerainya. Sayang berkasnya sudah masuk ke pengadilan.


"Ah sial," Jaden meninju udara karena frustasi.


...***...


Di dalam mobil Keyla ingin bertanya pada Bia tapi saat melihatnya dari kaca spion ia urungkan. Bia yang mulai tenang kemudian berkata kalau dia ingin pergi ke tempat spa.


"Hah, elo gak becanda kan Bi?" tanya Keyla memastikan


"Gak, gue pengen nenangin diri, gue pengen relaksasi," balas Bia. Keyla pun mematuhi perintah atasannya itu.


Keyla memarkirkan mobil yang ia kendarai di sebuah salon langganan mereka berdua.Tanpa disengaja Bia bertemu dengan ibu mertuanya.


"Mom," lirih Bia saat melihat Mom Celine sedang membayar tagihan di kasir.


Mom Celine mendengar namanya dipanggil lalu ia pun menoleh ke sumber suara. "Berlian," mom Celine langsung memeluk menantunya tanpa aba-aba.


"Mommy kangen sama kamu," ucap mom Celine sambil terisak.


"Ayo nak kita duduk, mom Celine mengajak Berlian duduk di sofa yang disediakan di salon tersebut.


"Sayang kembalilah pada Jaden, mommy dan daddy masih menginginkan kamu jadi menantu mommy," pinta mom Celine dengan lembut.


"Tapi kak Jaden sudah tidak menginginkan aku menjadi istrinya mom," bantah Bia.


"Mana mungkin sayang mom tahu Jaden sangat mencintai kamu,"


"Buktinya dia mengirimkan surat gugatan cerai padaku mom," kata Berlian sambil terisak.


Niatnya ingin menenangkan diri di salon spa malah bertemu dengan ibu mertuanya yang kembali membuat dirinya menangis.


"Dasar anak kurang ajar, berani-beraninya dia mengambil keputusan sepihak," umpat mom Celine.


"Kamu tenang saja nak, mommy akan bicara padanya," mom Celine berusaha meyakinkan menantunya. Berlian pun mengangguk.


...***...


"Gus tidak bisakah gugatan ceraiku dibatalkan saja, tolong bicaralah pada pengacara agar urusan ini cepat selesai," desak Jaden.


"Baik pak, akan saya urus," Bagus mengangguk patuh.


"Labil banget sih jadi laki, kemaren ngotot buat nyeraiin istrinya sekarang malah minta dibatalin, gue juga kan yang repot," gerutu Bagus dalam hatinya.


"Ga usah mengumpat gue denger Gus," Bagus jadi bergidik ngeri mendengar penuturan bosnya.


Laki-laki yang merupakan asisten pribadi Jaden itu pun segera melaksanakan titah tuannya. Sedangkan Jaden kini memejamkan matanya. Ia tak habis pikir begitu banyak masalah yang muncul setelah ia berumah tangga.


"Aku tidak mau kita berpisah Bi," gumam Jaden.


...***...


Seusai jam kerja berakhir. Jaden memutuskan untuk mencari istrinya. "Gue harus bisa meyakinkan Bia kalau gue gak mau cerai darinya," kata Jaden mantap seraya menyusuri jalan beraspal.


Jaden langsung ke rumah Bia. Ia pikir Bia tidak akan mungkin kembali lagi ke kantor jam segini.


"Pak tolong bukakan pintu gerbang," kata Jaden pada satpam yang menjaga rumah besar itu.


"Maaf tuan, tapi sesuai perintah non Berlian saya tidak boleh membiarkan anda masuk," terang satpam.


"Assial," Jaden meraup mukanya frustasi.


Kemudian ia menunggu di depan gerbang rumah mertuanya.Laki-laki itu berharap istrinya akan menemuinya. Hujan turun dengan deras disertai petir. Namun Jaden masih berada di luar.


"Sayang aku mohon beri aku kesempatan untuk ngomong," teriak Jaden dengan kencang agar istrinya mendengar. Tapi sepertinya sia-sia suara hujan yang begitu lebat lebih keras dibandingkan suaranya.


Berlian mengamati dari balik gorden jendela kamarnya. Ia sebenarnya tidak tega tapi ia tidak ingin menemui suaminya dulu. Bia ingin menenangkan diri. Bertemu Jaden di saat hatinya panas tidak akan menyelesaikan masalah. So wanita itu memilih untuk menghindari suaminya sementara waktu.


"Jaden pulanglah, Bia sedang tidak ingin bertemu denganmu," kata papa Rasya yang keluar dengan membawa payung di tengah hujan deras malam itu.


"Pa aku mohon, izinkan aku bertemu istriku sekali saja pa," mohon Jaden pada ayah mertuanya.


"Pulanglah kembali besok," kata Rasya sebelum ia masuk lagi ke dalam rumah.


Jaden menjadi putus asa. Ia pun berteriak untuk mengeluarkan kekesalannya.