
Keesokan harinya perawat memberitahu pada Jaden bahwa Arif sudah sadar. Jaden segera masuk ke ruang rawat Arif. Ia bisa melihat perban melilit kepalanya yang terluka akibat kecelakaan kemaren.
"Selamat pagi pak Arif," sapa Jaden.
"Pak, apakah anda yang menolong saya?" tanya Arif sambil tertunduk hormat meski kini ia dalam keadaan terbaring lemah.
"Jangan bangun, tidur saja tidak apa-apa,anda harus segera pulih," kata Jaden
Arif terisak."Pak anda kenapa?" Tanya suami Bia.
"Saya teringat anak-anak saya," kata Arif jujur.
"Tenanglah saya menyuruh Bagus untuk menemani putra putri anda semalam," kata Jaden.
"Terima kasih banyak pak,maaf saya terus merepotkan anda," kata Arif sedikit sungkan.
Tak lama kemudian polisi datang untuk mengintrogasi Arif. "Selamat pagi, Pak
Kami ingin mengintrogasi korban kecelakaan semalam," kata polisi tersebut dengan nada yang tegas.
"Silakan, Pak." Jaden mempersilakan kedua polisi itu duduk.
"Jadi bagaimana kronologi kejadian yang anda alami pak?" Tanya polisi tersebut.
"Malam itu saya mau pulang pak tapi hujan deras jadi saya menepi di bawah pohon. Cukup lama saya berteduh tiba-tiba ada dua orang asing yang menutup mulutnya dengan kain dan membawa sebuah balok kayu menghampiri saya. Mereka merebut motor saya dengan paksa pak. Waktu itu saya mencoba mempertahankan motor saya tapi temannya memukul kepala saya dengan keras," ungkap Arif menceritakan kejadian malam itu.
"Apa tidak ada saksi mata yang melihat kejadian itu?"
"Saya kurang memperhatikan sekitar pak karena waktu itu hujan cukup lebat, ditambah lagi saya tidak sadarkan diri setelah dipukul," terang Arif.
"Dia benar pak, saya yang menelepon ambulan. Waktu itu saya tidak sengaja lewat bersama istri saya dan melihat kerumunan orang. Setelah saya menghampiri ternyata pak Arif dalam keadaan pingsan," sahut Jaden.
"Baiklah kami akan mencatat keterangan kalian, sementara ini kami harus menyelidiki dulu nanti kami kabari kalau ada perkembangan," pamit dua orang polisi tersebut.
Jaden mengantar keduanya sampai keluar. Lalu Jaden masuk kembali ke ruangan Arif.
"Pak Jaden, apa bu Berlian melihat saya pingsan?" Tanya Arif memastikan.Jaden mengangguk.
"Lalu apakah dia baik-baik saja?"
"Istri saya pingsan melihat anda bersimbah darah, sekarang dia di rawat di rumah sakit ini juga, tapi jangan khawatir dia hanya syok saja," ungkap Jaden menceritakan keadaan istrinya.
"Syukurlah, maaf membuat kalian khawatir, terima kasih sudah menolong saya," kata Arif yang merasa tidak enak.
"Baiklah, saya tinggal dulu anda beristirahatlah, asisten saya akan membawa anak-anak anda kemari." Perkataan Jaden membuat Arif menitikkan air mata.
"Sekali lagi terima kasih, Pak," ucapnya sambil terisak dan memegang tangan Jaden. Jaden menepuk tangan laki-laki itu.
"Ma aku belikan makanan dulu ya," kata Jaden meminta izin.
"Kak beliin aku camilan juga," sahut Bia.Jaden tersenyum.
"Kamu mau apa sayang?" Tanya Jaden sambil mengelus rambut panjang istrinya.
"Rujak sama es boba dong kak."
"Bi, gak usah makan yang aneh-aneh deh kamu kan masih sakit, makan rujak pagi-pagi ntar perut kamu mules-mules lagi," larang mama Ara.
"Tapi dedek yang minta mam, mama mau cucunya ileran," ancam Bia.
"Ya gak dong, ya udah nak Jaden beliin dia buah-buahannya aja."
"Tapi aku mau bumbunya ma," rengek Bia.
"Ya udah bilang sama penjualnya gak pakai cabe ya, oh ya beli es bobanya dua ya nak, mama juga mau," kata mama Ara sambil meringis.
"Iya ma nanti Jaden beli tiga buat aku juga," Jaden menaik turunkan alisnya lalu ketiga orang itu tergelak.
Jaden keluar dari halaman rumah sakit ia tak sengaja menoleh ke arah parkiran motor. Ia mengerutkan keningnya saat melihat motor Arif di sana. Jaden memiliki ingatan yang kuat jadi ia tak mungkin salah.
Ketika ia hendak mendekat seseorang menghampiri motor tersebut lebih dulu.Ia tak melihat dengan jelas wajahnya. Tapi karena ia curiga akhirnya Jaden mengikuti instingnya.
Jaden segera mengambil mobil dan mengikuti orang yang mengendarai motor Arif tersebut.
Orang asing itu merasa kalau dia diikuti lalu orang itu pun masuk ke dalam gang sempit. Jaden kehilangan jejaknya. "Aarrgh sial," ia memukul setir mobilnya karena kesal.
"Gak bisa dibiarin gue harus minta bantuan polisi," gumamnya. Setelah itu Jaden ingat ia harus membeli pesanan sang istri. Ia pun mancari penjual rujak. Tak jauh dari situ ada penjual rujak yang mangkal di pinggir jalan.
Jaden menepikan mobilnya lalu membeli rujak pesanan Sang Istri tercinta."Pak satu porsi gak pakai cabe ya," ucapnya pada penjual rujak tersebut.
Bagus kebetulan melewati tempat dimana atasannya itu sedang membeli rujak.Bagus pun menepikan mobilnya di sebelah mobil Jaden.
Jaden memicingkan matanya. "Bapak ngapain di sini pak?" Tanya Bagus yang baru turun dari mobil.
"Seperti yang kamu lihat saya membeli rujak pesanan istri saya, apa kamu datang bersama anak-anak Arif?" Tanya Jaden pada asistennya. Bagus mengangguk.
Kemudian Bagus membuka pintu mobil untuk memperlihatkan Banu dan adiknya yang sedang dipangku. Banu mengangguk hormat saat melihat Jaden dari dalam mobil.
"Good job, kamu duluan saja saya harus membeli satu pesanan lagi," perintah Jaden pada asistennya. Bagus pun mengangguk patuh.
Setelah itu Bagus melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Sedangkan Jaden mencari minuman boba setelah membayar rujak yang ia beli.