
Pada malam harinya Alex teringat gelang Sandra yang tertinggal di dashboard mobilnya. "Alex mau kemana malam-malam gini?" Tanya Bia yang turun dari tangga.
"Mau ngambil sesuatu ma di mobil Alex," ungkapnya.
Keesokan harinya usai acara OSPEK di hari kedua, Alex menemui Sandra untuk mengembalikan gelang yang terjauh di mobilnya.
"Sandra," teriak Alex menyebut nama Sandra. Sandra pun menoleh.
"Apa ini punya kamu?" Tanya Alex sambil menunjukkan sebuah gelang di tangannya. Gelang yang berbalut permata ruby yang mahal tapi jika dilihat sekilas seperti gelang imitasi.
"Iya betul itu gelang pemberian papaku," kata Sandra.
"Terjatuh di mobil saat kamu naik mobil aku kemaren," kata Alex. Mau balik kan?" Sandra mengangguk menjawab pertanyaan kekasihnya itu.
"Yuk, bareng aja."
Dewi mengerutkan keningnya saat melihat Alex menggandeng tangan Sandra. "Mereka saling kenal?" Batin Dewi.
Dari arah lain Ciara yang datang bersama Andi tampak berkaca-kaca saat ia melihat sahabatnya. "Sandra," teriakan itu membuat Sandra menoleh.
"Cia," Sandra merentangkan tangannya. Cia berhambur ke pelukan sahabat lamanya itu.
"Gue kangen banget sama lo," kata Ciara saat melepas pelukannya.
"Gue juga, Ci. Elo kuliah di sini juga rupanya?" Tanya Sandra. Ciara yang masih dalam keadaan sedih hanya menganggukkan kepalanya.
"Gue dikabari Andi kalau lo masuk ke kampus ini," ucap Ciara. Tangannya mengusap sebagian air mata yang menetes karena terharu melihat sahabatnya baik-baik saja.
"Udah jangan cengeng lo, kita ke kantin yuk, gabung sama Agung dan Amar di sana," kata Andi.
"Lho mereka juga kuliah di sini?" Tanya Sandra yang bingung. Tidak ada yang menjawab kebingungan Sandra. Alex langsung menarik tangannya ke kantin.
"Bos," panggil Agung sambil melambaikan tangan. Ia sudah menggadang sebuah meja yang diperuntukan untuk teman-temannya.
Alex, Sandra, Andi dan Ciara mendekat ke meja yang telah dipesan Agung. "Pak ustadz mana?" Tanya Andi yang tidak salah satu temannya.
"Dia lagi ke toilet bentar," kata Agung. Lalu matanya melirik ke arah Sandra. "San elo tambah cantik aja." Pujian itu membuat Alex mengepalkan tangannya ke arah Agung.
"Mau kena bogem mentah lo dari bos Alex," ledek Andi sambil tertawa mengejek.
"Gue berkata fakta men, salah?" Tanya Agung pada teman-temannya.
"SALAH," jawab Andi dan Alex kompak. Lalu keduanya menoyor kepala Agung bergantian.
"Woi kepala nih, bukan kelapa," sungut Agung yang sewot.
"Udah-udah kalian ini nggak berubah ya dari SMA dulu," kata Sandra.
"Namanya juga sahabat," jawab Andi.
"Eh, sorry sorry gue telat datengnya," sahut Amar yang setengah berlari. Ia pun kemudian duduk di samping Ciara.
"Jauh-jauh lo!" Usir Andi yang tak terima Amar duduk di dekat gadis yang ia taksir.
"Elah, galak amat," gerutu Amar. "Eh, San apa kabar lo?" Tanya Amar basa-basi saat menoleh ke arah Sandra.
"Baik," jawab Sandra singkat.
"Seneng banget gue bisa ngumpul kaya gini, besok kita adain reunian yuk!" Usul Andi.
"Setuju," seru Amar dan Agung bersamaan.
"Ngapain kita besok? Ada yang punya ide nggak?" Tanya Alex.
"Gimana kalau kita camping di gunung?" Agung memberikan usul pertamanya.
"Musim hujan woi," Ciara mengingatkan.
"Bakar apa? Bakar emosi?" Sungut Agung.
"Maksud gue barbequean ogeb," jawab Andi.
"Setuju, di rumah gue aja besok malam," Alex memberikan usul.
"Lagipula gue udah nggak sabar ngenalin calon mantu ke mama," imbuhnya kemudian membuat yang lain menyoraki Alex. Sedangkan wajah Sandra sudah memerah mendengar gombalan dari kekasihnya itu.
"Kalau gue udah nggak sabar ketemu calon pacar," timpal Agung.
"Huu dasar lo nggak ceweknya atau cowoknya sama aja nggak ada jaim-jaimnya," cibir Alex yang menyindir Agung. Karena sikapnya sama seperti Kristal.
Seusai kumpul-kumpul di kantin, semua teman-teman Alex bubar. "Elo tinggal dimana San?" Tanya Ciara sebelum berpisah dengan temannya itu.
"Deket dari kampus ko, jalan kaki juga nyampai," jawab Sandra.
"Kapan-kapan gue main ya," Ciara melambaikan tangan. Ia pulang bersama Andi.
"Yang, kamu kok belum misscall nomor aku?" Tanya Alex pada kekasihnya.
"Oh iya lupa, maaf." Sandra lalu mengeluarkan handphone yang berada di dalam tasnya.
"Itu nomor aku," kata gadis itu.
Lalu seseorang sengaja berjalan di antara keduanya sehingga membuat ponsel Sandra terjatuh. "Ups, maaf ya," Dewi pura-pura merasa bersalah.
Sandra berjongkok memungut ponselnya. Ia melihat layar ponselnya itu menghitam. Ia mencengkeram erat ponselnya. Ponsel yang ia beli dari hasil kerja kerasnya selama ini mati begitu saja.
"Wi, elo kalau jalan lihat-lihat dong," Alex ikut emosi memarahi Dewi.
"Sorry Lex," jawab Dewi dengan santai lalu pergi meninggalkan keduanya.
"Sudah Lex jangan diladeni," Sandra mencegah langkah kekasihnya.
"Besok gue beliin ponsel yang baru," kata Alex.
"Nggak usah lagipula aku tidak begitu sering menggunakannya," kata Sandra berbohong. Padahal ia sangat khawatir jika sang ayah menghubungi ke nomornya.
Di sebuah desa yang jauh dari perkotaan, Vero mengurus sebuah perkebunan sayur yang sangat maju dengan usaha putrinya. Tiba-tiba ia merindukan Sandra.
Lalu ia mengambil ponsel yang ia taruh di dalam sakunya kemudian menekan kontak sang putri. Tapi berkali-kali ia menghubungi ponselnya tetap tidak tersambung. Vero menjadi khawatir karenanya.
"Semoga kamu di sana baik-baik saja nak," gumam Vero.
Sandra sangat sedih mengingat ia tidak bisa menghubungi papanya. Ia hanya bisa memandangi ponselnya yang mati.
"San gue pinjem hp lo dong buat fotoin tugas bentaran," kata Nabil yang tiba-tiba masuk ke kamar Sandra.
"Handphone gue mati," jawab Sandra frustasi.
"Kok bisa?" Nabil duduk mendekat pada Sandra.
"Disenggol sama Dewi," jawab Sandra.
"Wah, pasti sengaja tuh, denger-denger elo deketin Alex ya," perkataan Nabil membuat Sandra memicingkan matanya. Ia seolah tak terima dengan tuduhan Nabil.
Sandra menghembuskan nafasnya panjang. "Kalau boleh jujur kita tuh emang udah deket dari SMA, gue pacaran sama dia udah lama," kata Sandra dengan jujur. Ia hanya tidak mau Nabil membuat kesimpulan berdasarkan gosip yang ia dengar.
"Daebak, elo pacaran sama anak konglomerat girl." Nabil memberikan dua jempol pada Alex.
"Ih biasa aja kali, gue juga nggak mandang dia kaya apa nggak, asal lo tahu ya dulu gue tu benci banget sama Alex tapi lama kelamaan rasa benci itu berubah jadi benar-benar cinta," ucap Sandra agak malu-malu.
"Cieee, emm sebenarnya gue naksir salah satu dari mereka." Pengakuan Nabil membuat Sandra menoleh.
"Hah yang bener, temen-temen Alex tu pada somplak elo naksir siapa? Agung, Andi, atau Amar?" Sandra Antusias mendengar jawaban Nabil.