My Beloved Partner

My Beloved Partner
173



"Lho Kristal kamu pulang nggak sama abangmu?" Tanya Bia yang tidak melihat Alex.


"Nggak Ma. Tadi aku minta dijemput sama Mas Agung soalnya abang nganterin kak Sandra pindah ke rumah orang tuanya," ungkap Kristal.


"Mama nggak ngerti."


"Ceritanya rumit Ma. Pokoknya kemaren kak Sandra tuh baru ketemu sama mamanya terus dia diminta tinggal bareng mamanya gitu. Kata abang orang tuanya sudah bercerai."


"Kasian juga ya, jadi itu yang bikin mereka menghilang selama ini," gumam Bia.


"Tunggu, kemaren wanita itu mencari anaknya. dan Sandra juga baru bertemu dengan ibunya. Kenapa kebetulan sekali?" Batin Bia merasa ada yang aneh.


"Ma, mama lagi melamun ya?"


"Ah nggak sayang. Sana ganti baju, nyampe rumah nggak ganti baju malah udah cemilin masakan mama duluan," protes Bia.


...***...


"Assalamu'alaikum Ma," Sandra memberi salam.


"Waalaikumsalam nak," jawab Chloe.


"Yuk masuk! Kamu juga," Kali ini Chloe bersikap ramah pada Alex. Alex mengangguk patuh.


"Mama senang kamu mau tinggal bersama mama. Apakah letak kampusmu jauh dari rumah mama?" Tanya Chloe.


"Lumayan ma, setengah jam perjalanan dari sini ke kampus," jawab Sandra.


"Tidak apa-apa tante, besok saya yang akan antar jemput Sandra," sahut Alex.


"Tidak usah Lex, rumahmu dari sini juga jauh dan kamu harus memutar untuk sampai ke sini, sebaiknya aku naik taksi online saja," tolak Sandra. Ia tak mau merepotkan kekasihnya.


"Tidak, aku tidak mau kejadian kemaren terulang lagi."


"Kejadian apa?" Tanya Chloe tak mengerti arah pembicaraan mereka.


"Sandra sempat dibawa oleh supir gadungan tante," terang Alex pada Chloe.


Chloe terkejut. "Kalau begitu besok mama antar kamu."


Tapi kenyataannya Sandra memilih untuk membawa mobil sendiri. Keluarga Chloe memang kaya raya meskipun tak sekaya keluarga Alex. Tapi mereka memiliki mobil lebih dari satu.


Sandra keluar dari mobil berwarna putih itu. Ciara yang baru parkir di samping mobil Sandra membunyikan klakson. "Mobil baru ya?" Tanya Ciara di ambang pintu mobilnya.


Sandra menjawab dengan menaikkan alis. Lalu ia menunggu Ciara yang turun dari mobil. "Bukannya kamu tinggal di kosan, kok bawa mobil segala," Ciara menjadi bingung.


"Aku pindah ke rumah mama," akunya.


"Syukur deh, kamu nggak harus naik taksi online lagi, nggak aman tahu."


"Ehem," seseorang berdehem membuat kedua gadis itu menoleh.


"Anaknya yang punya perusahaan taksi online dan ojek online se-Indonesia jadi tersinggung nih," kata Andi mewakili Alex yang berjalan di sampingnya.


"Apaan sih?" Alex memukul bahu Andi karena bersikap lebay.


"Sorry Lex." Ciara merasa tidak enak.


"Nggak papa Ci. Tapi gue udah tanya mama gue katanya mobil yang ditumpangi Sandra waktu itu drivernya bukan orang yang mencelakai Sandra kok," teramg Alex.


"Kok bisa?" Tanya Ciara.


"Jadi driver yang asli ditemukan di pinggir jalan. Kemungkinan mobil itu dirampas oleh driver gadungan yang mencelakai Sandra."


"Wah jangan-jangan ada yang sengaja merencanakan kejadian yang menimpa Sandra bos," tuduh Andi.


"Cie..." ledek Andi dan Ciara.


"Sayang aku masuk dulu ya," Andi mengikuti omongan Alex pada Sandra. Namun, wajah Ciara malah bersemu merah.


Sandra menyenggol bahu Ciara. "Udah tembak duluan kalau dia nggak mau nembak kamu," bisik Sandra ke telinga Ciara. Ciara jadi malu.


Setelah itu Sandra berjalan sendirian ke kelasnya karena Ciara tidak satu angkatan dengannya. Ketika Sandra berada di koridor kampus sendirian, seseorang menarik tangan Sandra dan membawanya ke toilet.


Ia langsung disiram dengan seember air. "Apa-apaan kalian?" Geram Sandra melihat badannya basah kuyup.


Dewi keluar dari persembunyiannya. "Itu buat cewek yang suka ganjen karena deketin Alex," katanya sambil memegang dagu Sandra.


Sandra terkekeh. "Kamu suka sama Alex? Ambil kalau bisa," tantang Sandra.


"Ingat ya, ini nggak seberapa. Gue peringatin elo buat jauhin Alex atau akan aku buat lebih parah dari ini," ancam Dewi.


Lalu ia meninggalkan Sandra sendirian di dalam toilet. Sandra berteriak geram karena keisengan Dewi dan teman-temannya.


"Kamu pikir aku cewek lemah? Kamu salah, lihat saja nanti aku tidak akan membiarkan Alex jatuh ke tangan gadis sepertimu." Sandra berjanji pada dirinya sendiri.


Lalu Sandra memutuskan pergi dengan memakai mobilnya untuk membeli baju dan pergi ke salon. Selama ini Sandra mengabaikan penampilannya. "Lihat saja besok aku akan buat satu kampus tergila-gila padaku biar Alex cemburu, kamu akan lihat seberapa besar cinta Alex padaku Dewi." Sandra tersenyum menyeringai.


Keesokan harinya, sesuai rencana Sandra berpenampilan berbeda dari biasanya. Rambutnya terlihat semakin berkilau, wajahnya cantik dengan riasan tipis yang ia kenakan, serta pakaiannya yang lebih modis dari biasanya membuat semua laki-laki yang ada di kampus terpesona dengan kecantikan Sandra.


"Zivanna I Love you."


"Love me please, Honey."


"Jodohku sesungguhnya."


Teriakan demi teriakan riuh mengiringi langkah kaki Sandra. Agung and the geng jadi penasaran. "Masyaallah, neng Sandra euiy gelis pisan," seru Agung dengan mata berbinar melihat Sandra yang berjalan mendekat ke arahnya.


Namun, Alex tampak tidak suka melihat dandanan Sandra yang menggoda banyak lelaki. Ia mengepalkan tangannya karena menahan marah.


"Hai," sapa Sandra pada Alex dan teman-temannya.


"Hai," balas Agung, Amar, dan Andi bersamaan.


"Apa maksud kamu dengan berdandan seperti ini?" Tanya Alex yang geram karena sang kekasih memamerkan kecantikannya.


"Kenapa nggak cocok ya?" Tanya Sandra tanpa merasa bersalah.


"Aku tidak suka laki-laki lain menatapmu," ungkap Alex.


Sandra melihat sekeliling. Ia menemukan Dewi yang berdiri menatap ke arahnya. "Kalau aku hanya milikmu, buktikan!" Tantang Sandra.


Alex tersenyum licik. Ia menarik pinggang Sandra lalu mencium bibirnya di depan banyak orang sehingga membuat laki-laki yang menginginkannya patah hati.


Sandra diam-diam mengulas senyumnya. Ia tahu Alex akan cemburu dan menciumnya. Itu sudah menunjukkan pada Dewi kalau Alex benar-benar mencintainya dan tidak akan tertarik pada gadis lain selain Sandra.


Dewi merasa kesal. Ia menghentakkan kaki lalu memilih pergi dari tempat itu.


Semua orang menyoraki tindakan Alex. Namun, ada seorang dosen yang lewat di antara mereka. Mereka seketika terdiam. Dosen yang melihat adegan ciuman Alex dan Sandra itu melotot tidak percaya karena mahasiswanya berani berbuat mesum di depan umum


"Alex," sentak dosen wanita yang berkacamata itu.


Alex dan Sandra menjadi kalang kabut. "Ikut saya ke kantor sekarang!" Perintah dosen itu dengan tegas.


Andi, Agung dan Amar menahan tawanya. "Cie yang habis ciuman terus mau dikawinin nih roman-romannya," ledek Agung yang suka bicara ceplas-ceplos.


Alex memicingkan mata ke arah mereka. Llau ia berjalan mengikuti dosen itu ke ruangannya.