
"Aku mau meninjau lokasi proyek hotel yang baru dibangun," kata Jaden dengan ekspresi wajah datar.
"Sepagi ini?" tanya Bia tidak percaya.
"Maaf ya sayang, semalam aku gak sempet bilang sama kamu, aku berangkat dulu," pamit Jaden tak lupa dia mengecup kening Bia singkat.
Bia hanya pasrah dengan keputusan Jaden. Setelah itu seusai bekerja Bia mampir ke rumah mertuanya. Ia juga sudah kangen dengan keponakannya.
"Sovia aunty dateng nih," teriak Bia dari luar.
"Eh kamu sendirian aja nak?" Tanya mom Celine. Bia meraih tangan ibu mertuanya itu kemudian menciumnya.
"Kak Jaden sedang ada perjalanan ke luar kota mom," ungkap Bia.
"Aku ke kamar Sovia ya, ini aku bawakan sesuatu," ucapnya pada ibu mertuanya.
"Hallo, kalian lagi apa?" Bia menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Masuk Bi. Kamu sendirian aja?" Tanya Raina clingak-clinguk. Bia mengangguk lemas."Kak Jaden aedang di luar kota," ungkapnya.
"Kok sedih? Bukannya udah biasa ya?"
"Gue cuma bingung sama suami aku, masa dia gak inget ini hari apa?" Keluh Bia sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hari Selasa, emangnya kenapa Bi?" Tanya Raina polos.
"Ini tuh hari anniversary pernikahan gue sama kak Jaden, masa dia gak ingat, apa dia lagi ngeprank aku ya, dari semalam dia murung terus. Padahal aku udah seneng banget sama bunga yang dia kasih kemaren."
"Itu tandanya dia gak lupa Bi, mungkin karena hari ini suami kamu pergi ke luar kota jadi dia hanya ngasih kamu bunga sehari sebelum anniversary kalian," omongan Raina ada benarnya juga. Bia pun percaya sehingga ia membuang pikiran negatif terhadap suaminya.
"Masuk akal juga sih. Sovia kamu mau maem gak? aa..." Bia hendak menyuapi biskuit yang ada di tangannya ke mulut Sovia.
"Suami lo mana?" tanya Julian yang tidak melihat keberadaan adik kembarnya itu.
"Kak Jaden lagi di luar kota sedang mengecek lokasi pembangunan hotelnya yang baru," ungkap Bia tanpa menoleh ke arah Julian. Ia masih sibuk bermain dengan Sovia.
Sekarang putri kecil Julian itu sedang belajar merangkak dan berdiri sendiri. Bia menepuki kepintaran keponakannya itu saat Sovia mulai aktif merambat.
"Oh ya Bi, elo pulang jam berapa?" Tanya Julian.
"Gue mau nginep sini, di rumah gue sendirian, emangnya kenapa?" Tanya Bia curiga pada kakak iparnya itu.
"Pas banget, nitip Sovia ya," pinta Julian.
"Emangnya abang mau kemana? Emaknya kan di rumah," jawab Bia tak mengerti.
"Gue mau ngajak Raina makan malam, jadi tolong jaga Sovia buat gue."
"Idih, berani bayar berapa?" Tantang Bia pada abangnya itu. Bia dan Julian memang selalu becanda. Raina hanya geleng-geleng melihat kejahilan suaminya itu yang suka menggoda adik iparnya.
Bia mengetuk-ngetuk dagunya sambil pura-pura berfikir. "Gue pikir-pikir dulu deh," tolaknya.
"Sialan lo, dasar jablay," umpat Julian.
"Kok jablay sih bang?" Protes Bia yang tak terima dengan sebutan dari kakak iparnya itu.
"Habis apa kalau ada orang mau pacaran bawaanya sirik mulu?"
"Awas ya gue doain Raina dapat suami pengganti lo bang,yang lebih tajir dan ganteng," sahut Bia. Julian tahu apa yang keluar dari mulut Bia itu tidak serius.
"Sayangnya gak ada," Julian menjulurkan lidahnya ke arah Bia. Ia melempar bantal pada Julian sayangnya tidak kena. Sovia bertepuk tangan melihat tingkah Bia dan Julian yang sedang bertengkar.