My Beloved Partner

My Beloved Partner
114



"Kak Jaden," teriak Bia.


Satu tangan Berlian berpegangan pada tembok dan yang lain memegangi perutnya. Julian panik karena dialah yang menyenggol adik iparnya itu. "Bi elo gak apa-apa?"


Jaden segera berlari menghampiri istrinya setelah mendengar teriakan itu. Mom Celine dan Raina juga keluar melihat kondisi Bia.


"Ada apa ini?" tanya mom Celine saat mendengar keributan di luar.


"Agh....agh." Tubuh Bia hampir roboh, untungnya Jaden dengan cepat menangkap tubuh istrinya itu.


"Jaden bawa Berlian ke rumah sakit sepertinya dia akan melahirkan," seru Raina yang melihat tanda-tanda Bia akan melahirkan.


Tanpa pikir panjang Jaden menggendong tubuh istrinya lalu berjalan menuju ke mobil. Julian membantu membukakan mobil. "Biar gue aja yang setir," kata Julian.


"Kak sakit," ucap Bia sambil terisak. Tangannya meremas tangan suaminya.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita ke rumah sakit," ucap Jaden dengan lembut. Ia tak mau terlihat panik di depan istrinya. Itu akan membuat istrinya semakin kesakitan. Jaden menggengam tangan istrinya yang begitu dingin.


Bia terus saja mengeluh kesakitan sambil menangis ketika kontraksi yang dirasakan semakin intens. Ia bahkan meremas apa saja yang ada di dekatnya.


Melihat istrinya yang mengalami kesakitan luar biasa, tanpa sadar Jaden menenteskan air mata tapi dengan cepat ia menghapusnya. "Aku mohon bertahan ya sayang," ucapnya lagi mencoba menguatkan istrinya.


Julian melirik sekilas ke belakang hatinya ikut berdenyut nyeri merasakan kesakitan yang dialami Bia. Ia mengingat dulu ketika Raina melahirkan ia tidak berada di sampingnya. Pasti Raina merasa sedih karena tidak ada yang mendampinginya waktu itu.


Di tengah perjalanan mereka terjebak macet. "Assial kita kena macet," ucap Julian sambil memukul setir mobilnya.


"Bang, elo ke depan barangkali ada polisi kita minta pengawalan, kasian istri gue Bang," pinta Jaden pada saudara kembarnya.


"Oke, kalian tunggu di sini," kata Julian. Suami Raina itu turun dan mencari polisi. Namun, kenyataannya tidak ada satu polisi pun yang bertugas. Julian semakin panik. Ia lalu menelepon ambulan agar segera datang ke lokasi kemacetan.


"Jaden, gue minta maaf gak ada polisi, tapi aku sudah menelepon ambulans kita harus menunggu," kata Julian.


"Kakak," teriak Bia dengan kencang membuat pengendara mobil lainnya turun."Ada apa ini Pak?" tanya salah seorang pengendara.


"Adik ipar saya akan melahirkan Pak," jawab Julian mewakili Jaden.


"Masyaallah saya akan kawal mobil anda bagaimana? Tidak ada polisi di sekitar sini mungkin kita akan menemukannya kalau kita berjalan agak ke depan," kata laki-laki tua seumuran ayah mereka.


"Terima kasih banyak Pak," jawab Julian dengan wajah sumringah.


"Mohon perhatiannya di dalam mobil ini ada yang mau melahirkan bisakah kalian untuk mengalah sedikit memberikan jalan agar mobilnya bisa lewat," seru laki-laki baik hati tersebut pada seluruh pengendara yang ada di sekitar lokasi.


Setelah itu laki-laki tersebut masuk ke dalam mobilnya. Ia mengawal mobil yang ditumpangi Bia.


Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Kondisi Bia sudah lemas. Tak terdengar lagi rintihannya, ia sudah lelah berteriak. Jaden panik. Ia pun menggendong sambil berlari ke ruang UGD rumah sakit. Ia bahkan tak mengucapkan terima kasih pada orang yang telah menolongnya.


Untungnya Julian bisa mewakili adiknya. "Saya mengucapkan terima kasih banyak mewakili adik saya, maaf dia harus mengantarkan istrinya," kata Julian yang merasa tidak enak.


"Tidak apa saya mengerti, semoga keadaa ibu dan bayinya bisa selamat," harap laki-laki asing yang baik itu.


"Baik saya permisi dulu senang bisa menolong anda Pak..." laki-laki itu menjeda omongannya.


"Saya Julian, lalu siapa nama anda?" tanya Julian.


"Saya Ernest, baiklah permisi," pamit Ernest.


...***...


Di dalam ruangan bersalin Jaden menemani istrinya yang masih kesakitan. "Dok apa proses kelahirannya tidak bisa dipercepat? Istri saya kesakitan," kata Jaden yang sedang panik.


"Harap bersabar sampai pembukaan sepuluh ya pak, ini baru pembukaan enam," jawab dokter tersebut dengan tenang.


"Berapa lama dok?" tanya Jaden lagi.


"Saya tidak bisa memastikan Pak. Kondisi setiap pasien berbeda-beda jadi harap bersabar kita doa sama-sama ya."


"Kak," teriak Bia sambil mencengkeram kerah suaminya.


Jaden hanya pasrah mendapatkan perlakuan dari istrinya. Dia hanya menangis tanpa suara karena tidak tega. "Mommy maafin Jaden yang selalu nakal jadi anak mommy," gumam Jaden.


"Ikuti arahan saya ya Bu," kata dokter wanita itu.


"Tarik nafas keluarkan pelan-pelan, kita ulangi lagi Bu." Dokter terus memberikan arahan. Sampai suara tangis menggema di seluruh ruangan.


"Selamat Bu, Pak, bayinya laki-laki," kata dokter itu sambil mengangkat bayinya.


"Kita bersihkan dia dulu ya," kata dokter lalu memberikannya pada perawat.


"Selamat sayang kamu sudah jadi ibu," kata Jaden sambil menempelkan keningnya di kening sang istri.


Bia tidak menjawab tenaganya sudah terkuras habis. Jaden mengecup ekning istrinya lalu keluar.


Seluruh keluarga besarnya sudah menunggu di luar ruang bersalin. "Jaden bagaimana keadaan Bia?" tanya mam Ara. Sebagai ibu dari Bia dia sangat khawatir.


"Alhamdulillah proses kelahirannya lancar, bayinya laki-laki," kata Jaden. Semua orang bersorak.