
Keyla dan Bagus pergi berlibur ke Bali atas rekomendasi sahabatnya. Mereka mendapatkan hadiah pernikahan berupa tiket honeymoon di resort paman Jaden yang ada di Bali.
"Wah akhirnya kita bisa liburan ke Bali aku sudah lama memimpikan perjalanan ke pulau ini," seru Keyla.
Mereka sedang menikmati paginya di depan balkon yang mengarah langsung ke laut. Pemandangan di sana begitu indah. Mereka dapat mendengar suara debur ombak dengan sangat jelas.
"Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di sekitar pantai?" Keyla meminta pendapat suaminya.
Bagus memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Ah, enakan juga di sini lihat pantai dari sini juga bisa." Tangan Bagus menjelajah ke dalam piyama sang istri.
"Mas Bagus ihk. Masak ke sini cuma buat tiduran doang?" Keyla mencebik kesal.
"Namanya bulan madu ya bikin anak sayang, mau ngapain lagi?" Keyla memutar bola matanya jengah mendengar ocehan suaminya yang mesum itu.
"Ihk mas..." Keyla merasa geli saat Bagus me*re*mas dua gundukannya. Keyla menggeliat. Nafasnya memburu mendapatkan serangan dari suaminya.
Bagus melepas tangannya lalu ia membalik tubuh sang istri. Ia merangkum wajah cantik Keyla kemudian ia mencium bibirnya dengan sangat rakus.
Ciuman panas yang dilakukan di depan kamar mereka. Tanpa mereka sadari beberapa orang melihat adegan mesum itu. Tapi mereka tidak peduli toh semua orang disitu tidak ada yang ia kenal.
Tiba-tiba ponsel mereka berbunyi. Bagus melepas pagutannya. Keyla mengusap bibirnya yang basah dengan punggung tangannya lalu berjalan menghampiri ponselnya yang berdering sejak tadi.
"Ya ampun ni orang nggak ada kerjaan apa ya? Ngapain telepon pagi-pagi," gerutu Keyla.
"Siapa Yang?" Tanya Bagus pada istrinya.
"Bia," jawab Keyla sambil menunjukkan layar ponselnya pada sang suami. Setelah itu Keyla mengangkat teleponnya.
"Keyla," teriak Bia dengan suara nyaring. Keyla menjauhkan ponsel yang ia pegang dari telinganya.
"Gue nggak budeg ya, ada apa?" Tanya Keyla pada Bia melalui sambungan telepon.
"Jangan pergi lama-lama!"
"Ck, baru juga gue tinggal sehari di sini elo udah protes."
"Habisnya gue kangen sama elo," bohong Bia.
"Elah bokis lo, gue tahu lo kuwalahan kalau nggak ada gue, udah ah ganggu aja." Keyla menutup teleponnya.
"Sialan si Bia, dia yang ngasih tiket liburan juga malah dia yang protes," gerutu Keyla untuk kesekian kali.
"Belanja oleh-oleh yuk!" Ajak Bagus. Mata Keyla langsung berbinar mendengar kata belanja. Ya mana ada cewek yang nggak suka belanja yee kan? Termasuk othor.
Keyla dan Bagus menikmati suasana pulau Bali ala pasangan muda yang baru menikah.
...***...
Julian meminta ibunya menemani Raina saat dirinya sedang berada di kantor. Ia memang sengaja tidak menyewa jasa baby sitter. Kejadian yang menimpa keluarga Jaden cukup memberi dia alasan kenapa dia tidak menggunakan baby sitter saja dalam membantu mengawasi anaknya.
"Sayang, sebaiknya kamu cari sistem rumah tangga, biar bisa bantu pekerjaan rumah kamu." Mom Celin memberi saran.
"Baik, mom, nanti aku cari asisten rumah tangga yang tidak menginap. Mungkin ada orang yang bisa mommy rekomendasikan?" Tanya Raina.
"Nanti mommy bantu cari ya."
...***...
Julian pulang ke rumah sekitar pukul tujuh malam sedangkan mom Celine pulang pukul tiga sore. "Mas, mommy bilang aku harus cari asisten rumah tangga."
"Iya, aku juga berpikir yang sama sayang. Aku tidak mau kamu kecapekan mengurus rumah dan juga Sovia."
"Boleh?" Tanya Raina.
Julian merangkum wajah istrinya yang cantik itu. "Boleh," jawabnya seraya mencium bibir istrinya singkat.
"Jangan menggodaku! Aku tidak mau sering-sering menjenguk bayi kita. Ingat kamu masih hamil muda." Julian mencolek hidung istrinya. Raina hanya terkekeh.
Ketika Raina menengok anaknya yang sedang tidur, Julian tiba-tiba membawakan segelas susu coklat untuknya.
"Apa ini, Mas?" Tanya Raina.
"Susu hamil, aku baru beli tadi siang."
"Kamu beli sendiri di supermarket?" Tanya Raina tidak percaya.
"Tentu saja sayang, aku sudah melewatkan masa saat kamu hamil Sovia, kini aku menikmati masa-masa kehamilan kamu yang kedua. Aku ingin menjadi suami siaga yang selalu dibutuhkan istrinya yang sedang hamil," jawab Julian panjang lebar.
"Terima kasih banyak." Raina terharu mendengar ucapan suaminya. Kemudian ia mengambil gelas itu lalu meminumnya.
"Sisanya aku habiskan nanti ya, Mas."
Julian tiba-tiba menunduk. "Kamu sehat kan sayang?" Laki-laki itu mengajak anaknya yang ada di dalam perut sang istri berbicara.
"Sehat daddy," jawab Raina menirukan suara anak kecil.
Julian terkekeh lalu mencium perut Raina yang mulai membuncit itu. "Kapan jadwal periksa ke dokter?" Tanya Julian.
"Memangnya kenapa, Mas? Apa mas Julian mau menemani?" Tanya Raina.
"Tentu saja aku ingin tahu apa jenis ke*laminnya."
Keesokan harinya sesuai janjinya, setelah menitipkan Sovia di rumah orang tuanya Julian menemani sang istri memeriksakan kondisi kehamilannya di klinik ibu dan anak.
"Apa jenis kela*minnya, Dok?" Tanya Julian tidak sabar ketika istrinya sedang di USG.
❤️❤️❤️
Skip dulu ya... yang mau tahu apa jenis kela*min anak Julian yang kedua bisa baca bab selanjutnya.