My Beloved Partner

My Beloved Partner
111



Berlian sangat khawatir karena sampai lewat tengah malam suaminya belum juga mengabari dirinya.


"Ma kak Jaden kemana sih? Kenapa handphonenya gak aktif coba?" tanya Bia pada ibunya.


"Kamu tenang sayang, papa udah hubungin Bagus katanya Jaden sedang menuju kemari," kata mama Ara sambil mengelus rambut panjang Bia.


Tak lama kemudian seseorang memencet bel rumah mereka. "Papa lihat dulu," kata Rasya setelah itu berjalan ke depan untuk membukakan pintu.


Jaden berdiri di depan pintu rumah mertuanya. Rasya melihat tampilan Jaden yang agak berantakan. "Darimana sampai pulang tengah malam begini? Apa tangan kamu terluka?" tanya Rasya yang khawatir saat melihat tangan kiri Jaden berdarah.


"Tidak apa-apa Pa ini hanya luka ringan," elaknya.


"Masuklah biar nanti istrimu obati dia ada di dalam," perintah Rasya pun dituruti oleh menantunya.


"Kak Jaden," Bia berhambur ke pelukan suaminya.


"Aw sakit Bi," Jaden meringis kesakitan saat tangannya tak sengaja tersenggol oleh istrinya.


"Tangan kakak kenapa?"tanya Bia sambil memegang tangan kiri Jaden dengan hati-hati.


"Sebaiknya kita obati dulu lukanya," sahut mama Ara.


Bia pun segera mengambil kotak obat di dalam kamarnya. "Coba cerita sama kami seharian ini kakak kemana saja, kamu tidak tahu aku begitu cemas memikirkan kakak," keluh Bia seraya mengoleskan obat ke tangan Jaden.


"Aku menangkap begal yang melukai Arif bersama Bagus," ungkap Jaden.


"Kakak, nekat sekali sih," teriak Bia sambil memukul tangan Jaden.


"Aduh sakit Bi," Jaden juga berteriak ketika Bia memukul tangannya yang sakit.


"Ups, maaf. Lagian kakak sok pahlawan banget sih, kenapa tidak meminta bantuan polisi? Apa lukanya tidak perlu dibawa ke dokter sepertinya sedikit bengkak," tanya Bia meminta pendapat suaminya.


"Besok saja lagipula ini hampir pagi, maaf merepotkan kalian," kata Jaden pada kedua orang tua istrinya itu.


"Baiklah, sebaiknya kamu istirahat, kami juga akan istirahat," pamit Rasya yang duluan masuk ke dalam kamar bersama istrinya.


"Kakak sudah makan belum? Kalau belum aku masakin mi instan ya?" tanya Bia dengan lembut.


"Boleh."


Lalu Bia pun melangkah ke dapur ia memasakkan mi instan untuk suaminya. Tak berselang lama mi instan yang dimasak oleh wanita hamil itu pun jadi.


"Kak mienya sudah matang," kata Bia. Namun, Jaden malah tertidur di atas sofa. Bia menggelengkan kepalanya.


"Kasian banget dia pasti capek, ya sudah kita makan mienya saja ya dek, mubadzir kalau gak ada yang makan," kata Bia seraya mengelus perutnya yang sudah lumayan besar.


Seusai memakan mi instan. Bia mulai mengantuk.Ia tidur dalam posisi duduk di samping Jaden. Jaden yang terjaga melihat istrinya itu tidur dengan posisi yang kurang nyaman. Akhirnya ia bangun dan menggendong sang istri.


Jaden memasuki kamar mereka. Lalu merebahkan tubuh istrinya perlahan. Namun, setelah itu ia merasakan sakit di bagian tangannya.


Jaden berusaha menahan sakitnya. Ia pun membaringkan tubuh di samping sang istri.


Keesokan harinya Bia kaget saat mendapati dirinya sudah berada di atas ranjang miliknya. "Lho kok bisa tidur di sini?" Ia pun merasa bingung.


Wanita itu baru menyadari kalau sang suami tidur di sampingnya. Ketika Bia hendak membangunkan Jaden, wajahnya terlihat berkeringat tapi sangat pucat.


Bia pun menempelkan tangannya ke kening Jaden untuk memeriksa suhu tubuhnya. "Ya ampun kakak demam," Bia panik.


Ia pun turun dari kasur kemudian memanggil orang tuanya. "Pa tolongin kakak Jaden, dia demam Pa badannya menggigil kedinginan," ucap Bia sambil terisak.


Rasya berjalan ke kamar Bia. Mama Ara segera memanggil dokter keluarga untuk memeriksa keadaan Jaden.


"Ini akibat luka di tangannya yang cukup serius, sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit," saran dokter itu.


Rasya dibantu oleh asisten rumah tangga dan supirnya mengangkat tubuh Jaden dan memindahkannya ke dalam mobil.


"Bia kamu jangan panik, menyusullah bersama mama, papa akan mengurus Jaden di rumah sakit," kata Rasya.


Bia terus saja menangis. Ia menyalahkan dirinya sendiri, karena dia, Jaden harus mengangkat tubuhnya yang bertambah berat itu padahal sudah tahu tangannya cidera.


"Kamu jangan menangis terus sayang," mama Ara mencoba menenangkan Bia.


"Ma aku mau kabari Bagus dulu, biar perusahaan dia yang pegang sementara," kata Bia mengurai pelukannya.


"Gus suamiku masuk rumah sakit tolong kamu handle kerjaan dulu," Bia memutus sambungan teleponnya.


Sementara itu Julian yang resah karena bahan meeting masih belum diserahkan Jaden jadi uring-uringan.


"Ruby tolong hubungin Jaden segera sebentar lagi kita menemui harus rapat dengan daddy tapi dia belum datang juga," sungut Julian.


Ruby pun menghubungi Bagus. "Pak, Bagus bilang dia yang akan membawakan bahan meeting, katanya pak Jaden sedang dirawat di rumah sakit," terang Ruby.


"Hah, kenapa dengan dia?" Julian terkejut mendengar berita itu.


"Baiklah kita rapat sebentar lalu kita susul dia ke rumah sakit," kata Julian sambil berlalu meninggalkan ruangannya.


***


Yuk mampir juga ke novel aku yang lainnya