
"Mama mana sih kok nggak balik-balik, katanya mau negur Kristal ko malah ngilang," gerutu Jaden.
Akhirnya ia melangkahkan kaki keluar kamar. Jaden membuka kamar putrinya, ternyata istri dan anaknya sedang tertidur di kamar itu. Jaden pun membiarkan mereka tidur berdua. Ia memilih untuk menonton bola di ruang tengah.
Saat itu Alex sedang haus, ia pun pergi ke dapur dan mengambil minum. "Lho, papa nggak tidur di kamar?" Tanya Alex yang penasaran.
"Mamamu tidur di kamar Kristal," jawab Jaden tanpa memandang Alex. "Jablay ya," ledek Alex pada papanya. Jaden pun melempar bantal ke arah Alex. "Dasar anak kurang ajar," kesal Jaden.
Pada pukul satu dini hari Bia baru tersadar kalau dirinya tidur di kamar Kristal. Ia bangun dengan perlahan agar tidak membangunkan putrinya. Kemudian membuka engsel pintu dengan hati-hati. Wanita itu kembali ke dalam kamarnya sendiri. Ia melihat sang suami sudah tertidur pulas di atas ranjang.
Jaden tiba-tiba membalikkan badan. Tangannya mengenai perut Bia. Jaden semakin mengeratkan pelukannya, ketika merasakan sesuatu yang nyaman untuk dipeluk. Bia yang terkejut jadi bersuara. Jaden membuka mata sejenak. Ketika ia mengetahui istrinya sudah berada di sampingnya, Jaden mengulas senyum licik. Ia menepis jarak dan melu*mat bibir istrinya dengan rakus.
Bia tersentak kaget saat mendapatkan serangan tiba-tiba dari suaminya. Namun, ia tak menolak justru kini membalas ciuman sang suami.
Jaden menempelkan keningnya setelah keduanya terengah-engah. "Lanjut?" Tanya Jaden dengan seringai licik. "Tapi lakukan dengan lembut!" Pinta Bia dengan suara lirih di telinga suaminya. Jaden tersenyum lalu ia kembali menyatukan bibir mereka. Dan pergumulan itupun terjadi.
...***...
"Abang, sekarang pakai mobil terus, kalau antar Kristal ke sekolah sekalian mau nggak?" Tanya BIa pada putra sulungnya.
"Ya, Ma." Alex mengangguk setuju.
"Makasih abang," kata BIa sambil mengelus pipi anaknya.
"Kristal nggak mau, Kristal maunya bareng papa aja," tolak Kristal.
"Loh kenapa sayang?" Bia mengerutkan keningnya.
"Kalau sama bang Alex diceramahin mulu, males." Bia terkekeh mendengar omongan anak bungsunya.
"Nggak, sayang. Bang Alex kan udah dapat pawangnya," ledek Bia sambil terkekeh.
"Siapa pawangnya, Ma?" Jaden ikut penasaran.
"Yang kemaren datang ke rumah, Pa," jawab Bia. Alex tersipu malu.
"Hish mama nih ada-ada aja. Emangnya dia pacar kamu, Lex?"
Alex tersedak. "Pelan-pelan minumnya," Bia mengelus punggung Alex.
"Bukan, Pa. Tapi dia itu sekretarisnya abang," jawab Kristal.
Usai sarapan mereka berangkat. Jaden bekerja di hotel bintang limanya. Alex dan Kristal berangkat ke sekolah. Sedangkan Bia jarang sekali berkunjung ke kantor. Semenjak ada Alex, Bia lebih memilih bekerja dari rumah. Di kantor sudah ada Keyla yang ditugaskan untuk mengatur perusahaan tapi kendali tetap di pegang oleh Bia sendiri.
Alex dan Kristal akhirnya tiba di depan sekolahan Kristal. "Heh anak kecil salim dulu sama abangnya," tegur Alex ketika adiknya itu akan keluar. Kristal memanyunkan bibirnya tapi tetap meraih tangan sang abang.
"Nanti siang pulang sendiri, aku mau antar Sandra pulang,"
"Cih, yang punya gebetan baru, iya nanti aku minta jemput sama kak Zidan yang ganteng." Kristal menjulurkan lidahnya.
...***...
Zidan adalah anak kedua pasangan Raina dan Julian. Dia bersekolah di tempat yang sama dengan Alex tapi mereka tidak satu tingkat. Zidan lebih muda setahun dari Alex.
"Eh, ramai banget lapangan basket," kata Ciara.
"Biasa cewek alay yang lagi tebar pesona sama idola mereka," jawab salah satu teman Ciara yang sedang jalan bareng dari kantin.
"Siapa sih, gue penasaran deh," Ciara pun mengajak Sandra yang sedang asyik membaca sambil berjalan mendekat ke lapangan basket.
Tiba-tiba bola menggelinding ke depan kaki Sandra tapi gadis itu tidak menyadari. Ia masih sibuk membaca novel sambil berdiri di lapangan basket.
Zidan mengambil bola itu sambil melihat gadis yang masih memegang buku di tangannya itu. "Sorry," ucapnya saat mengambil bola. Sandra tak menghiraukannya.
Baru kali ini Zidan merasa tak dihiraukan oleh seorang gadis. Padahal setiap gadis mengelu-elukan namanya. Ciara menyenggol lengan Sandra agar ia menurunkan bukunya. "Apa sih?" Protes Sandra.
Zidan pun melihat wajah Sandra yang cantik. Pemuda itu mengulas senyumnya. "Baru kali ini gue dikacangin sama cewek," ucapnya pada Sandra.
Sandra memutar bola matanya jengah. "Balik yuk!" Sandra benar-benar acuh pada Zidan.
Zidan menarik tangan Sandra. "Gue Zidan," ucapnya. Sandra hanya diam saja.
Dari kejauhan Alex dan ketiga sahabatnya sedang berjalan di samping lapangan. "Bos, gebetan lo noh, lagi sama sepupu lo," tunjuk Amar.
Alex mengepalkan tangannya ketika melihat Zidan menarik tangan Sandra. Alex pun berjalan mendekat ke arah keduanya diikuti oleh ketiga temannya yang somplak itu.
Alex melepas pegangan tangan Zidan. "Dia pacar gue," akunya pada Zidan.
Zidan mengerutkan keningnya. "Sial, gue kira cewek ini nggak punya pacar, ternyata dia pacar Alex," gumam Zidan.
"Sorry, gue nggak tahu," kata Zidan sebelum kembali ke lapangan basket. Ia melanjutkan permainnan dengan teman-temannya. Tapi matanya melirik ke arah Alex yang merangkul Sandra.
"Lepasin!" Sandra memberontak.
"Ngapain elo ngaku-ngaku pacar gue?" Omel Sandra pada ketua kelasnya itu.
Alex maju selangkah. "Gue emang berniat jadiin elo pacar," katnya membuat Sandra melotot.
"Cie," sorak teman-temannya.
"Dasar cowok sinting," umpat Sandra yang merasa kesal. Alex tiba-tiba mencium bibir Sandra di depan teman-temannya.
...🤣🤣🤣...
Bang Alex main sosor aja ya guys, gimana selanjutnya, apakah Sandra menerima pinangan Alex? Eh ungkapan cinta Alex maksud othor. 😂
Kalian pro sama Alex atau Zidan?