
Setelah kejadian penculikan bayinya dia lebih protektif menjaga Baby Al. Hari Minggu pagi dia dan suaminya mengajak anaknya jalan-jalan ke taman.
"Kak beli minum di mana ya? aku haus."
"Kamu tunggu di sini biar aku yang cari."
Bia pun mengajak anaknya bermain sambil menunggu Jaden. Lalu ada ibu-ibu yang mendekati Bia. "Wah anaknya ganteng sekali," puji ibu-ibu itu.
"Iyalah jeng orang ibunya juga cantik."
"Kalau bapaknya gimana ya rupanya?"
Kerumunan ibu-ibu itu membuat Jaden mengerutkan keningnya. "Ada apa ini?" tanya Jaden yang habis membeli air mineral untuk istrinya.
"Itu suami saya," kata Bia.
Ibu-ibu itu tercengang melihat ketampanan Jaden yang mirip dengan Yang Sejong.
Ibu-ibu itu langsung berteriak ketika melihat Jaden. "Ya ampun dapat darimana sih suami kaya gini?"
"Coba aja gak ada lawannya saya mau jadi lawannya."
"Huu...." sorak ibu-ibu yang lain.
"Maaf ibu-ibu kami pergi dulu ya." Bia mendorong stroller anaknya lalu mengajak Jaden menjauhi kerumunan.
"Mereka ada-ada aja." Jaden menggelengkan kepalanya.
"Seneng ya dikerumuni ibu-ibu?" ledek Bia pada suaminya.
"Gak suka soalnya aku sukanya cuma sama istriku seorang," goda Jaden.
"Dih, gombal."
Tiba-tiba Baby Al menangis. "Dia kenapa sayang?" Tanya Jaden.
"Mungkin dia lapar," kata Bia.
"Baiklah sebaiknya buatkan susu dulu habis itu kita pulang ke rumah." Bia mengangguk.
...***...
Sementara itu di kediaman Rasya.
"Rasanya rumah ini sepi sekali ya ma. Apa kita buat anak lagi ma biar rumah kita nggak sepi kaya gini?"
Ara melotot mendengar perkataan suaminya itu. "Papa ada-ada aja. Lebih baik kita nyuruh Berlian aja yang bikin banyak anak, masa kita yang udah tua ini mau punya anak lagi, malu dong Pa sama cucu."
"Ya kali aja mama mau. Ma, suruh Bia dan suaminya main ke sini aku kangen sama cucuku," pinta Rasya pada istrinya.
"Pa bagaimana kalau kita ajak mereka liburan ke Jerman, ayah dan ibu pasti senang kalau Al ikut lagipula usianya sudah hampir setahun," usul Ara.
"Ide bagus Ma. Kalau perlu hari ini kita naik pesawat ke sana."
"Kita tanya Jaden dan Berlian dulu, bagaimana dengan jadwal kerja mereka?"
"Kalau mereka tidak mau biar kita saja yang bawa, Al" usul Rasya.
"Ya sudah mama telepon mereka."
Ara mengambil handphonenya lalu menelepon ke nomor Jaden.
"Hallo, Jaden. Kalian main ke sini ya, mama sama papa kangen sama Al."
(....)
"Oke, nanti masakin makanan yang enak kesukaan kalian." Setelah itu Ara menutup teleponnya.
"Gimana, Ma?"
"Nanti papa tanyain sendiri ke orangnya, mama minta mereka datang ke sini," jawab Ara.
...***...
"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam," jawab Ara dan Rasya bersamaan.
"Cucu nenek ganteng banget sih," Ara mengambil alih gendongan dari tangan Bia.
"Ada apa ma nyuruh kita ke sini?"
"Tanya sama papamu!"
"Mau nggak liburan ke Jerman?" ajak Rasya pada Jaden dan Bia.
"Tapi Jaden ada proyek yang sedang Jaden kerjakan Pa."
"Kalau kamu Bi?" Tanya Rasya pada putrinya.
"Bia juga mau menyelesaikan kerjaan kantor soalnya Keyla mau minta cuti nikah jadi dalam waktu dekat kita harus ngebut kerjaan Pa."
Rasya agak kecewa dengan jawaban anak dan mantunya. Jaden yang melihat perubahan raut muka ayah mertuanya itu jadi tidak tega.
"Bagaimana kalau Baby Al ikut mama dan papa ke sana? Lagipula Oma dan Opa pasti sangat senang cicit mereka berkunjung ke Jerman." Jaden memberi saran.
"Tapi aku nggak rela ditinggal Baby Al liburan ke sana," rengek Bia.
"Kita gak lama kok kesana paling tiga hari biar Baby Al gak jetlag," kata papa Rasya.
"Kapan rencana kalian akan ke sana?" tanya Jaden.
"Bagaimana kalau hari ini juga kita berangkat?" usul Rasya.
"Anakku," Bia mendekap erat anaknya.
"Ya ampun Bi, kamu tenang aja, mama pasti jaga anak kamu dengan baik," kata mama Ara meyakinkan.
Setelah itu Jaden pulang untuk mengambil barang-barang Al.
Rasya dan istrinya berangkat pada pukul tujuh malam. Jaden dan Bia melepas anaknya yang sedang tertidur untuk jalan-jalan ke Jerman.
"Sayangnya mama jangan rewel ya di sana," pesan Bia pada putranya. Ia mengecup kening anaknya agak lama.
Lalu Jaden memberi kode pada Bia bahwa pesawat mereka akan berangkat sebentar lagi. Jaden dan Bia melambaikan tangan pada orang tuanya.
"Huh aku kok sedih gini sih jadinya," kata Bia sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Jangan sedih sayang bagaimana kalau kita buat adik untuk Al?" Jaden menaik turunkan alisnya.
Wajah Bia memerah karena malu. "Dih, mesum." Bia berjalan lebih dulu meninggalkan suaminya.
Jaden tersenyum licik melihat tingkah Bia yang malu-malu tapi mau. "Tunggu sayang," teriak Jaden. Ia pun mengejar sang istri.