
Bia meminta Jaden berhenti di restoran seafood kesukaannya. Celine juga senang makan seafood tapi tidak dengan Jaden. Membayangkannya saja sudah membuat dirinya mual apalagi kalau memakannya.
"Sayang kamu kenapa, wajahmu terlihat pucat?" tanya Celine pada Jaden.
"Tidak apa ma, sayang bisakah kita pindah saja kita ganti menu makanan western saja," mohon Jaden dengan muka memelas.
"Tidak aku sedang ingin makan kepiting rebus di sini," bantah Bia.
Bahu Jaden meluruh mau tak mau ia ikut masuk ke dalam restoran tersebut meski ia sangat ingin kabur.
"Ayo tante eh maksud aku mommy kita masuk," ajak Bia dan mereka pun melangkah masuk ke restoran tersebut.
Namun saat Jaden baru memasuki restoran tersebut dia berpapasan dengan seorang wanita yang menengenalnya.
"Hai long time no see," wanita itu langsung memeluk Jaden dan mencuri ciuman di pipi laki-laki itu.
Celine dan Bia menoleh ke belakang. Ketika gadis itu mendapati calon suaminya dicium oleh wanita lain ia memberikan tatapan menghunus pada Jaden.Tangannya meremas dress yang ia kenakan untuk menahan marah.
Tanpa menghiraukan wanita yang menyapanya Jaden mendekati Bia dan mencoba menjelaskan bahwa mereka hanya berteman.
"Sayang ini tidak seperti yang kamu lihat," kata Jaden sambil menyentuh tangan Bia. Namun wanita itu menghempaskan tangan Jaden.
"Aku pergi," ketika Bia ingin keluar dari restoran Jaden kembali menarik tangan Bia akan tetapi Bia malah melayangkan tinju ke arah laki-laki itu.
Untungnya Jaden dapat menghindar kalau tidak wajahnya itu sudah pasti akan babak belur mengingat Bia yang ahli dalam bidang taekwondo. Sayangnya Jaden lebih hebat lagi sehingga Jaden bisa mengimbangi serangan Bia.
"Sayang apa yang kau...," belum sempat Jaden meneruskan kata-katanya Bia kembali menghantamnya dengan pukulan. Kemudian Jaden menangkap tangan Bia. Bia meronta karena kedua tangannya dipegang oleh Jaden.
Melihat pertengkaran anak dan calon menantunya Celine ikut panik. Ia bingung apa yang harus ia lakukan agar mereka berhenti berkelahi. Lalu ia menatap tajam ke arah wanita yang membuat sepasang kekasih itu bertengkar hebat.
"Ini semua gara-gara kamu, pergi kamu dari sini," hardik Celine membuat wanita itu ketakutan.
"Jaden, Berlian berhenti," teriak Celine di depan restoran tersebut.Akan tetapi keduanya seolah tidak mendengar. Keduanya masih berduel.
Saat itu Berlian merasa cemburu sehingga ia ingin sekali memberi pelajaran calon suaminya. Jaden sama sekali tidak membalas serangan Bia. Laki-laki itu hanya menghindar dan menangkis setiap serangannya.
"Stop sayang jangan sampai kamu kelelahan karena berkelahi, ingat kamu sedang mengandung," kata-kata Jaden membuat Bia berhenti sejenak kemudian ia memiliki ide untuk mengerjai Jaden lagi.
"Agh perutku," Bia pura-pura sakit di bagian perutnya. Jaden yang melihat calon istri kesayangannya itu kesakitan mendadak panik.
"Aku bilang juga apa?" dengan gerakan cepat Jaden menggendong tubuh Bia ala bridal style.
Bia terperanjat kaget karena tubuhnya tiba-tiba terangkat. Ia otomatis mengalungkan tangannya ke leher Jaden untuk berpegangan.
"Turunkan aku," pinta Bia dengan ketus.
"Tidak mau, apa kita perlu ke dokter sekarang?" tanya Jaden yang khawatir akan keselamatan janin yang ada di perut Bia.
"Tidak, tidak usah aku ingin pulang, turunkan aku," pinta Bia lagi.
Tanpa menghiraukan permintaan calon istrinya itu Jaden langsung membawa Bia ke dalam mobil.
Wajah Bia merah merona karena malu banyak pasang mata yang melihatnya. Begitupun dengan mommy Celine. Namun wanita yang notabene ibu dari Jaden itu malah senyum-senyum melihat anak dan menantunya yang terlihat akur kembali.
"Kalian ini membuat mommy jantungan," omel Celine menatap Jaden lalu Berlian.
"Maafkan Bia mom," kata Bia dengan tulus.
"Berjanjilah pada mommy kalian akan selalu akur, mommy tidak mau bayimu kenapa-kenapa,apa perutmu masih sakit?" tanya Celine khawatir.
Bia menggeleng pelan."Dia baik-baik saja mom," kata Bia sambil melihat ke arah perutnya yang masih rata.
Jaden yang dari tadi berada di balik kemudi ingin sekali memegang perut kekasihnya itu. Namun Bia pasti tidak akan mengizinkannya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Jaden seraya memegang kepala Bia sayang.
Bia mengangguk. Wajahnya kembali merona saat laki-laki itu memegang kepalanya. Tak hanya itu jantungnya juga berdebar melihat senyum yang mengembang di wajah tampan laki-laki itu.
Setelah itu Jaden melajukan mobilnya dengan perlahan menuju ke rumah Bia. Sembari mengemudi Jaden menggenggam erat tangan Bia dan sesekali menciumnya. Celine mencebik kesal karena anak dan menantunya itu menganggapnya sebagai obat nyamuk.
Celine berdehem agar sepasang kekasih itu menyadari keberadaannya. Jaden dan Bia tampak malu dengan sikap romantis yang mereka tunjukkan di depan ibu mertuanya secara langsung.
"I'm sorry mom," lirih Jaden yang merasa malu.
Setelah sampai di rumah Bia, Jaden dan Celine tidak ikut turun. Mereka langsung berpamitan pulang.
Jaden melambaikan tangan ke arah Bia dan tak lupa memberikan senyum termanisnya. Tanpa sadar Bia membalas lambaian tangan sang kekasih.
Kemudian Bia memasuki rumahnya."Assalamualaikum ma," Bia memberi salam seraya mencium pipi mamanya yang sedang memasak untuk makan malam.
"Hari ini masak apa ma?" tanya Bia.
"Ayam kecap kesukaan kamu," jawab Ara.
"Wow kebetulan sekali aku belum makan," katanya.
"Ya ampun sayang kamu jangan sampai telat makan, kasian nanti cucu mama jadi kelaparan," omel Ara.
"Memangnya begitu sibukkah kamu di akntor sampai lupa makan siang ini?" selidik Ara.
"No ma, tadi aku diajak Jaden dan mamanya memilih cincin," terang Bia sambil mengambil ayam yang baru matang.
"Ups panas," tangannya menyentuh ayam yang baru matang lalu meniupnya.
"Hati-hati sayang itu baru matang, oh ya besok ajak Jaden buat fitting baju pengantin,"
"Lusa sajalah ma, aku capek seharian ini, besok aku harus meneruskan meetingku, hari Jaden mengacaukan meetingku dengan investor," kata Bia kesal mengingat Jaden yang datang tanpa memberi tahu terlebih dulu.
"Ingat sayang pernikahanmu seminggu lagi, kalau gaunmu kekecilan atau kebesaran mereka bisa memperbaikinya sebelum hari H," Ara ngotot.
"Ah tau ah, Bia capek mau mandi dulu sambil berendam, aku butuh healing," katanya menirukan iklan minuman yang banyak diminati itu.
"Katanya mau makan?"
"Bawain ke kamar ya ma, badan aku udah lengket banget nih," Bia buru-buru naik ke atas.
"Jangan lari-lari nanti kamu jatuh," kata Ara memperingatkan anaknya agar hati-hati.Setelah itu ibu yang masih terlihat muda meskipun memiliki anak gadis yang hampir menikah itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Tante Bia mana?" teriak Keyla yang baru datang lalu mencium tangan tuan rumahnya.
"Ada di kamar, tumben ke sini malam-malam Key?" tanya Ara yang ingin tahu kenapa Keyla datang.
"Aku mau minta penjelasan sama Bia," Keyla pun menyusul ke kamar sahabatnya itu.
"Bi, gue masuk ya?" Keyla masuk begitu saja ke kamar Bia padahal yang punya kamar belum mempersilahkan masuk.
"Hmm mau ngapain lo malam-malam ke sini?" tanya Bia.
"Numpang tidur, gak boleh?" ketus Keyla.
"Ihk maksa nih anak," kesal Bia.
"Bi elo mau kawin sama Jaden beneran? Elo gak halim duluan kan?" tebak Keyla. Bia mengangguk.
"Maksudnya apa Bia?" cecar Keyla sambil mengguncang tubuh sahabatnya.
"Seperti yang lo kira," jawab Bia yang semakin membuat Keyla bingung.
"Oh my Dad, oh no," teriak Keyla.
"Lo jangan ngomong ke siapapun ya tentang masalah ini, gue udah bikin malu keluarga gue, gue gak mau kolega bokap gue denger berita ini," mohon Bia pada Keyla yang khawatir pada nasib perusahaan ayahnya.
"Lo tenanga aja, rahasia lo aman," Keyla melakukan gerakan seolah mengunci bibirnya.
...❤️❤️❤️...
Maaf dears ini partnya sempat kehapus tapi malah ke upload untungnya aku baca ulang. Tolong jadiin favorite ya ke rak buku kalian. Maksih banyak