My Beloved Partner

My Beloved Partner
140



Saat di meja makan


"Ma, aku tadi habis ketemu sama mamanya Sandra tapi kenapa sikapnya dingin saat bertemu denganku?" Tanya Alex tidak mengerti.


"Abang sering nganterin Sandra pulang?" Tanya Bia kemudian.


"Nggak ma, hari ini dia sakit dan aku pinjam mobil Andi buat nganterin dia pulang," jawab Alex dengan jujur.


"Kenapa nggak Andi aja yang nganterin pulang dia? Abang suka beneran ya sama Sandra?" Goda Bia pada putra sulungnya itu.


Alex menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Mungkin karena ibunya tidak suka kalau ada laki-laki asing yang mendekati anaknya." Jawaban yang masuk akal menurut Alex.


"Bisa jadi kalian nggak direstui sama mamanya, Bang." sahut Kristal.


"Cih, anak kecil ikut-ikutan ngomong. Sana beli es krim!" Alex menyodorkan uang lima puluh ribu pada adiknya itu.


"Abang gue baik banget dah." Kristal mencolek dagu abangnya.


"Sering-sering ajak Sandra kemari, mama suka dengan anak itu," kata Bia pada putra sulungnya.


"Lampu hijau nih, Ma?" Goda Alex pada ibunya. Bia hanya menggelengkan kepala.


...***...


Keesokan harinya Sandra sudah masuk sekolah lagi dengan wajah yang terlihat segar. "Udah sembuh ya?" Tanya Ciara.


"Iya," jawab Sandra sambil tersenyum.


"Syukur deh nih tugas lo, gue baru kerjain setengah soale kemaren gue ketiduran hehe," kata Ciara cengengesan.


"Apa nih Ci?" Tanya Sandra tidak mengerti.


"Suruh input data sama Pak Handi," kata Ciara.


"Heh, Cemara," panggil Alex. "Mana tugasnya Pak Handi?" Tanya Alex.


"Hei, salah sebut nama. Ciara bukan Cemara." Ciara membetulkan omongan Alex.


"Hish sama aja, mana tugasnya yang gue suruh input?"


"Tuh di tangan orang yang tepat, gue baru input setengah, setengahnya lagi biar temen gue yang cantik ini yang ngerjain," kata Ciara.


"San nanti gue bantu ngerjainnya setelah sepulang sekolah," kata Alex.


"Hei hei hei giliran gue aja lo nggak mau bantuin dasar jahara," protes Ciara.


"Bodo," jawab Alex dengan acuh.


...***...


Pak Handi meminta kuesioner yang dibagikan kemaren pada Alex. "Maaf, Pak. Belum sepenuhnya diinput ke komputer." Jawab Alex. Kemudian Alex meminta tambahan waktu untuk mengerjakannya. Sepulang sekolah, Alex mengajak Sandra mengerjakan tugas dari Pak Handi tersebut.


"Kita kerjain dimana Lex, gue nggak bawa laptop," kata Sandra.


Alex tersenyum tipis. "Kerjain di rumah gue aja," ajaknya.


"Nggak apa-apa nih? Gue ngajak Ciara juga ya?" Katanya meminta izin.


"Nggak usahlah, elo sendiri aja nanti kalau elo bareng dia pasti jatuhnya ngerumpi," jawab Alex.


"Kalian kan udah sering main ke rumah gue,"


"Yagh gimana ya, pengen ngapelin dedek Krital Bos," jawab Agung. Namun, Alex sudah mengepalkan tangannya. "Dia masih bocah," ketus Alex.


Sandra pun menurut kata Alex karena tugas itu harus diserahkan pada Pak Handi besok. "Motor lo dimana?" Tanya Sandra celingak-celinguk mencari keberadaan motor Alex tapi tak ia temukan.


"Gue bawa mobil," katanya. Alex membukakan pintu mobil berwarna merah itu untuk Sandra. Alex memang sengaja membawa mobil karena sejak Sandra pingsan kemaren ia jadi harus meminjam mobil milik Andi untuk mengantar Sandra. Jadi ia putuskan untuk membawa mobil hari ini.


"Lex elo bisa bawa mobilnya pelan dikit nggak?" Protes Sandra.


"Gue cuma test drive," jawabnya enteng.


Ketika Alex menghentikan mobilnya, rambut Sandra terlihat acak-acakan. Alex tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Sandra yang lucu. "Puas lo sekarang?" Sandra mengerucutkan bibirnya.


"Tu bibir pengen gue ***** deh," batin Alex gregetan.


Lalu tangan Alex merapikan anak rambut Sandra yang berantakan. "Maaf," ucapnya lirih. Kedua matanya menatap bola mata Sandra yang bulat penuh.


Jantung Sandra berdegup kencang hingga tanpa sadar ia memegangi bagian dadanya. "Jantung gue," batin Sandra.


Sandra menjadi salah tingkah. Ia pun keluar lebih dulu untuk menghindari tatapan Alex. Alex mengulas senyum ketika melihat tingkah Sandra yang lucu.


"Assalamu'alaikum," Alex memberi salam.


"Waalaikumsalam," jawab Kristal.


"Eh, ini pacarnya abang ya?" Tanya Kristal antusias.


"Bukan, aku hanya sekretarisnya," jawab Sandra gugup.


"Hah, sejak kapan elo jadi CEO Bang? Emangnya mama papa udah bagi-bagi warisan ya?"


"Dasar oneng, dia sekretaris di kelas gue, sana beli es krim, tiga ya," Alex memberikan saru lembar uang biru.


"Cuman segini nih?"


"Lah, cukup itu mah, biasanya juga beli dua gratis satu," kata Alex.


"Dasar pelit," Kristal menjulurkan lidahnya.


Sandra terkekeh melihat kakak adik tersebut bertengkar. "Lex, kerjain sekarang yuk keburu sore," kata Sandra sambil menunjukkan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Gue ganti baju bentar, elo input dulu datanya nanti gue bantu."


"Sandra." Bia baru pulang ke rumah. Ia habis berbelanja ke supermarket. Sandra tak tinggal diam saat dia melihat orang tua Alex terlihat keberatan membawa barang belanjaan.


"Saya bantu ya tante," kata Sandra sambil menyahut barang-barang Bia yang hampir jatuh.


"Terima kasih," Bia merasa tersentuh.


"Ya ampun belanjaannya banyak banget, Ma." Alex juga datang untuk menolong.


"Iya, kebetulan belanja bulanan habis jadi mama belanja sekalian," jawab Bia.


"Alex sudah diambilin minum belum temannya?" Tanya Bia.


"Oh iya lupa, Ma." Alex ke belakang. Lalu ia membawakan nampan yang berisi jus jeruk dan camilan.


"Tante ke belakang dulu ya, kalian lanjut aja belajarnya." Bia pun meninggalkan keduanya.