My Beloved Partner

My Beloved Partner
183



Hari ini Alex mulai magang di perusahaan ayahnya sebagai tugas KKN dari kampus. Menjadi pewaris keluarga kaya menjadikan dirinya bebas perusahaan mana yang dia pilih.


Alex memilih untuk magang di hotel papanya. Jaden merupakan pengusaha sukses yang mengikuti jejak ayahnya Darren, meneruskan bisnis perhotelan dan resort.


Bia sang mama, sudah membujuk Alex agar dia magang di perusahaannya tapi Alex menolak. Tapi dia menempatkan Andi dan Amar di perusahaannya.


Agung kini sudah sembuh. Kakinya yang sempat retak kini perlahan membaik. Dia memilih mengelola bisnis restoran ibunya.


Alex menjalani hari-harinya seorang diri selama Sandra pergi ke Korea untuk berobat. Setiap hari dia hanya bekerja di kantor papanya.


"Hai boy," sapa Julian.


"Hai om."


"Kau terlihat tak bersemangat boy?" Tanya Julian.


"Separuh hatiku sedang pergi om," jawab Alex lesu.


"Dia hanya jalan-jalan sebentar," kata Julian menghibur.


"Baru ditinggal dua minggu aja rasanya kayak dua tahun," jawab Alex. Julian hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu nggak susul dia ke sana?" Julian memberi saran.


"Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini om karena ini bagian dari tugas kampusku."


Julian menepuk pundak Alex. "Kalau begitu bersabarlah paling sebentar lagi dia pulang. Bukankah tidak ada rencana dia menetap di Korea?" Kata Julian.


...***...


Alex and the gengs janjian di kafe milik orang tua Agung. "Paling the best nih kalau kita lagi ngumpul di sini?" kata Agung.


"Elo yang bayar kan Gung?" Gurau Andi.


"Gampang itu mah ada bos Alex," jawab Agung dengan entengnya.


"Kapan sih lo nggak jadi punya benalu gue? mau gue restuin nggak sama Kristal?" Tanya Alex sambil mencebik kesal.


"Hai," Ciara melambaikan tangan ketika baru memasuki kafe Agung.


"Sorry kita telat." Ciara datang bersama Nabil.


"Ehem, ehem," Agung sengaja terbatuk keras.


"Sialan kalian sengaja bawa pasangan ya ke sini?" Umpat Alex.


"Sabar bos. Ini namanya ujian cinta," ledek Andi. Semua temannya tergelak.


"Kalian nggak pernah chatingan apa melalui telepon?" Tanya Nabil pada Alex.


"Iya sih, tapi ada yang kurang. Gue nggak bisa denger suara Sandra atau video call dia."


"Kenapa Lex?"


"Ya karena dia masih dalam masa pengawasan dokter di rumah sakit ogeb," kata Alex yang kesal.


"Emang selama itu ya operasi plastik di rumah sakit. Gue kira habis operasi langsung jadi cantik gitu, bisa langsung pulang," kata Agung yang tak tahu menahu.


"By the way gue mau tunangan sama Ciara," Andi menyambaikan berita yang membuat teman-temannya terkejut.


"Wih gue kalah start dari lo," cibir Alex.


"Kapan kalian akan tunangan?" Tanya Amar.


"Sekitar 2 minggu dari sekarang," jawab Andi.


"Terus nikahnya kapan?" Nabil ikut antusias.


"Nikahnya nanti setelah lulus kuliah sekarang mah tunangan dulu," jawab Ciara sambil tersipu malu.


Alex memicingkan matanya. "Entar setelah Kristal lulus kuliah," jawab Alex. Teman-teman Agung tergelak.


Teman-teman Alex sangat senang menikmati kebersamaan malam itu.


Sudah sebulan Sandra meninggalkan Alex. Alex makin tidak bisa menahan kerinduan pada kekasihnya. Dia bahkan merengek pada orang tuanya agar diperbolehkan untuk menyusul Sandra ke Korea.


"Kalau abang mau ke sana Kristal ikut ya Bang," kata Kristal antusias. Gadis itu ingin sekali bisa jumpa fans dengan idolanya.


"Alah bilang aja kamu mau nonton konser," cibir Alex.


"Ya iyalah masa ya iya dong," jawab Kristal sekenanya. Alex yang merasa gemas ingin sekali menjitak kepala adiknya itu. Kristal malah menjulurkan lidah pada abangnya.


"Dasar adik laknat," umpat Alex kesal.


"Bukannya kamu masih dalam masa KKN Lex?" Alex mengangguk.


"Memangnya kamu tidak diberitahu oleh Sandra kapan dia pulang?" Tanya Bia lagi. Alex menggeleng.


Bia hanya bisa menatap iba pada putra sulungnya itu.


...***...


Dua bulan sudah berlalu tapi Sandra tidak mengabari jadwal kepulangannya. Alex semakin tidak bersemangat membantu ayahnya di kantor.


"Kamu nia kerja nggak sih Lex?" Omel Jaden.


"Alex mau beli kopi di luar sebentar. Papa mau nitip?" Tanya Alex pada Jaden.


"Boleh, beliin papa ekspresso saja," perintah Jaden. Alex menaikkan alisnya.


Lalu Alex keluar dari gedung tempatnya bekerja. Kebetulan cafe yang menjual kopi langganannya berada di depan gedung hotelnya.


Ketika akan menyeberang jalan Alex melihat anak kecil yang berlari-larian. Dari arah lain Alex melihat sebuah motor melaju dengan kencang. Pemuda itu kemudian berlari untuk menyelamatkan gadis kecil yang berdiri diam di tengah jalan itu.


"Anakku," pekik sang ibu.


Alex berhasil menyelamatkan gadis kecil itu Ia berguling ke tepi jalan. "Kamu tidak apa-apa dek?" anak itu menggeleng.


Alex mengembus buncit kepala anak kecil yang usianya sekitar 5 tahun itu. "Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya," kata Ibunya.


"Lain kali tolong perhatikan anaknya supaya tidak bermain di tengah jalan," kata Alex menasehati dengan sopan.


"Baik, sekali lagi terima kasih." Alex mengangguk.


Dari kejauhan tampak seseorang mengamati Alex sambil menarik sudut bibirnya.


Alex masuk ke dalam kafe. "Espresso satu," seru Alex ketika memesan kopi pada bartender.


"Bukannya kamu lebih suka moccaino daripada expresso." Suara lembut itu membuat Alex menoleh ke belakang. Alex mengembangkan senyum lebar di wajahnya yang tampan setelah melihat Sandra di hadapannya.


"Sayang kapan kamu pulang? Kenapa tidak mengabari aku terlebih dahulu? Aku kan bisa kamu jemput kamu di bandara," ucap Alex panjang lebar membuat Sandra terkekeh mendengarnya.


"Aku baru saja sampai, lalu aku pikir aku bisa mampir sebentar ke tempat kerjamu. Tapi ketika aku baru turun dari taksi aku melihat kamu menyelamatkan seorang anak kecil lalu masuk ke dalam sini dan aku mengikutimu," jawab Sandra tak kalah panjang.


Alex memegang kedua tangan Sandra lalu mengecupnya lama. Kemudian dia memeluk Sandra dengan posesif. "Aku sangat merindukanmu sayang," kata Alex sambil mencium puncak kepala sang kekasih.


"Jangan begini Lex ini di tempat umum nanti banyak yang lihat, kan malu," cicit Sandra.


"Biarin aja biar nggak tahu kalau aku sangat merindukanmu," kata Alex.


"Pesanannya sudah siap pak," kata bartender itu. Setelah itu Alex melepaskan pelukannya.


"Kopinya buat kamu?" Tanya Sandra.


"Buat Papa, tadinya aku juga ingin pesan kopi karena ngantuk, tapi setelah aku ketemu sama kamu ngantuk ku hilang begitu saja," goda Alex membuat wajah Sandra bersemu merah.


"Ayo kita temui papaku di kantornya, aku akan bilang kalau aku akan melamarmu," omongan Alex tidak ditanggapi serius oleh Sandra karena ia tahu kalau Alex sering menggodanya.