
Setelah perjalanan jauh Bia akhirnya sampai di rumah kakek dan neneknya. Ia sudah hafal jalan karena tidak sekali dua kali ia liburan ke Jerman.
"Kakek nenek," sapa Bia saat tiba di rumah orang tua Rasya.Ia menenteng satu koper besar di tangannya.
Antoni dan Emely menjadi kaget pasalnya cucu mereka datang tanpa pemberitahuan terlebih dulu.
"Hai honey," Emely mendapatkan pelukan dari Bia.
"Apa kau datang sendiri?" tanya Emely saat melonggarkan pelukannya. Nenek tua yang masih cantik di usianya itu tidak melihat kedatangan anak lelaki dan juga menantunya.
"Ya, aku datang seorang diri, aku sedang cuti kuliah," bohong Bia agar tidak membuat keduanya khawatir.
"Baiklah beristirahat dulu di kamarmu setelah itu temui kami saat makan malam," perintah Antoni lalu dipatuhi oleh cucu kesayangannya.
Antoni yang merasa curiga tak lantas mempercayai omongan Bia. Ia bisa melihat kebohongan di mata Bia.
"Aku akan menelpon ke Indonesia," katanya pada sang istri kemudian mengambil ponsel yang ia simpan di saku celananya.
"Hallo Rasya, kenapa kau tidak bilang kalau cucuku akan datang, kami tidak ada persiapan sebelumnya," omel Antoni dengan seseorang di balik telepon.
"Apa?? kami tidak tahu Yah kalau Berlian akan ke sana, kami sudah mencarinya kemana-mana," jawab Rasya.
Setelah Antoni menutup telepon,ia menghampiri cucunya. Emely bingung melihat suaminya yang berjalan cepat menuju kamar cucunya.
Tok tok tok
Antoni mengetuk pintu beberapa kali barulah Bia membukakan pintu.
"Berlian, boleh kakek bicara?" pintanya pada sang cucu.
Bia mengangguk. "Apa orang tuamu tahu kamu datang ke sini?" tanya Antoni dengan lembut.
Bia menunduk dan menggeleng untuk menjawab pertanyaan dari kakeknya. Ia terisak karena merasa bersalah telah membohongi kakeknya.
"Maafkan Berlian kek, aku kabur dari rumah," jujur Bia. Ia tak berani menatap mata sang kakek.
Antoni membawa Bia keperluannya."Ada masalah apa sayang ceritalah pada kakek," ucap kakek Bia seraya mengelus rambut panjangnya.
"Tidak ada masalah aku hanya ingin liburan kek," Bia masih enggan menceritakan hubungannya dengan Jaden.
"Baiklah mungkin kau butuh waktu, ceritalah saat kau sudah tenang," ucap Antoni menenangkan.
"Ada apa kek?" tanya Emely pada sang suami.
"Sebenarnya Bia kabur dari rumah," perkataan Antoni membuat Emely kaget.
"Apa yang terjadi hingga membuat cucuku kabur dari rumah?" tanya Emely panik.
"Entahlah nek, dia belum mau bercerita, kita beri waktu untuk cucu kita menenangkan diri," kata Antoni dengan bijak.
Emely yang penasaran dengan kata-kata suaminya mencari tahu kebenarannya dengan melakukan panggilan video dengan sang menantu.
"Hallo bu," kata Ara dari balik layar.
"Ara apa yang terjadi dengan cucuku hingga ia kabur dari rumah?" cecar Emely pada Ara.
"Dia kabur karena tidak mau menikah bu" Emely masih bingung dengan kata-kata sang menantu.
"Menikah dengan siapa? apa kau menjodohkannya dengan anak rekan bisnis suamimu hm?" tanya Emely.
"Bukan bu, beberapa waktu lalu kekasihnya melamarnya, tapi Bia tidak mau menikah dengannya dengan alasan akan kehilangan kebebasan kalau menikah di usia muda, yang aku sayangkan adalah kenapa dia tidak mau bicara baik-baik dengan Jaden, dia malah meninggalkannya begitu saja, aku kasian pada Jaden telah dicampakkan oleh putriku," terang Ara panjang lebar dengan terisak.
"Ya ampun anak itu," Emely ikut kesal dengan sikap cucunya.
"Mau kemana kamu?" tanya Emely pada cucunya.
"Mau hang out," jawab Bia santai.
"Hang out? kamu keluar sama siapa?" cecar Emely.
"Sama kak Bulan nek, pergi dulu ya, nanti kak Bulan jemput aku ko," Bia mencium pipi neneknya sekilas lalu buru-buru melangkahkan kaki keluar. Emely hanya menggelengkan kepalanya.
Bia berbohong.Dia tidak keluar bersama sepupunya melainkan berjalan sendiri menyusuri jalanan yang sepi malam itu. Pikirannya kalut mengingat hal bodoh yang telah ia lakukan.
"Jaden maafkan aku seharusnya aku tak pergi meninggalkanmu," ucapnya lirih sambil terisak.
...***...
Semenjak dirinya ditinggalkan sang kekasih Jaden berubah menjadi laki-laki yang dingin. Tak seorangpun pegawai yang berani menegur Jaden. Padahal dia dulu paling ramah pada semua pegawai.
"Pak ini laporan yang bapak minta," Ruby menyerahkan laporan mengenai laba hotel bulan lalu.
"Perintahkan kepada bagian HRD untuk memecat semua pegawai perempuan karena kita akan mengurangi karyawan," titahnya pada Ruby.
Ruby menelan salivanya. Pasalnya ia juga perempuan. Meskipun mereka teman semasa kecil tapi bagaimana pun dia tetap atasannya.
"Pak apakah anda akan memecat saya juga," tanya Ruby sedikit ragu.Jaden menoleh sekilas ke wanita itu lalu fokus kembali pada laporan yang harus ia periksa.
"Tenagamu masih aku butuhkan," jawab Jaden tanpa melihat ke arah Ruby.
Ruby keluar dari ruangan Jaden kemudian menuju ke ruang HRD. Dia membisikkan sesuatu kepada kepala HRD yang membuat kaget.
Untungnya laki-laki itu tak lantas menuruti perintah Jaden karena kepemimpinan tertinggi hotel itu masih atas nama Darren.
"Apa dia sudah gila? memecat semua karyawan wanita dengan alasan pengurangan karyawan, dia pikir aku akan bangkrut," geram Darren saat dia mendengar berita pemecatan seluruh karyawan wanita yang bekerja di hotelnya.
Kemudian Darren menemui Jaden di ruangannya. Darren membuka pintu ruang kerja anaknya dengan kasar.
"Apa maksudmu dengan memecat semua karyawan wanita yang ada di sini?" sentak Darren yang begitu emosi melihat tingkah putranya yang semena-mena.
"Kerja mereka terlalu lambat lebih baik aku mengganti mereka dengan pekerja laki-laki," elak Jaden.
"Cih alasan, bilang saja kau benci perempuan," kata Darren.
Jaden menarik ujung bibirnya. "Aku memang benci perempuan," gumamnya namun terdengar di telinga Darren.
Darren menghela nafas. Ia tahu kalau putranya itu sedang patah hati. Tapi dia tidak menyangka akan seburuk ini dampaknya.
"Boy aku tau kau sudah dicampakkan wanita yang kau cintai, tapi tidak adil jika kau memandang jelek semua wanita,ingat kau juga punya wanita yang sangat mencintaimu, mommy Celine," ucap Darren seraya menepuk bahu anaknya.
Jaden memejamkan mata. Dadanya begitu sesak mendengar nasehat yang diberikan oleh orang tuanya. Sekelebat wajah Bia malayang di kepalanya. Ia masih memendam rasa cinta yang tak terbalas itu. Meskipun sangat sulit untuk dihilangkan.
"Tega sekali kamu Berlian, tega sekali," ucapnya lirih seraya terduduk lemas di kursinya.
Julian yang sudah di ambang pintu mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruang kerja Jaden saat melihat saudara kembarnya menunduk. Ia tahu Jaden sangat terluka setelah Bia meninggalkan dirinya ke luar negeri tanpa pamit. Ia paham akan perasaan Jaden.
"Kenapa tidak jadi masuk?" tanya Ruby yang berada di belakang Julian. Julian hanya menggelengkan kepalanya.
"Situasinya sedang tidak bagus," jawab Julian.
...***...
Dukung terus karya author ya, terima kasih sudah mampir di bacaan receh.