
Jaden Danz Smith pria 33 tahun yang memiliki tinggi 175cm dan bertubuh kekar itu kini berjalan di koridor rumah sakit mengantarkan anaknya Baby Al untuk imunisasi.
Pria yang saat ini sedang menggendong bayi laki-laki berusia enam bulan itu menjadi pusat perhatian saat berjalan.
"Itu suami siapa? Kalau gak ada yang mengakui aku mau mengakuiJya sebagai suami."
"Tolong kenalin gue sama bapak tu bocah, gue udah gak tahan jadi ibunya."
Omongan-omongan yang riuh membicarakan pesona Jaden membuat Santi merasa sedikit kesal. "Ihk dasar wanita-wanita ganjen," ucap Santi dalam hati.
Tibalah mereka di depan ruang praktek dokter anak. "Selamat siang dokter saya ke sini mau meminta imunisasi buat anak saya," kata Jaden pada dokter wanita tersebut.
"Menurut buku riwayat bayinya ini imunisasinya sudah lengkap ya sampai usia empat bulan, saya hanya akan memberikan vaksin tambahan untuk kekebalan tubuhnya mari rebahkan anaknya dulu."
Setelah itu dokter memberikan suntikan di bagian paha Baby Al. Tangis bayi laki-laki itu seketika pecah. Jaden tak tega melihatnya. Santi langsung menggendong Baby Al agar dia merasa tenang.
"Setelah mendapatkan suntikan ini kemungkinan bayi akan mengalami demam ya, Pak, Bu. Tapi itu hal yang wajar karena efek obat yang bereaksi," terang sang dokter panjang lebar. Jaden berusaha mencernanya. Tapi tunggu dia mengira Santi adalah istrinya.
"Jadi dok dia adalah..." omongan Jaden terjeda karena dokter lebih dulu menyelanya. Tapi diam-diam Santi mengulas senyum di wajahnya.
"Saya akan berikan obat penurun panas dan pereda nyeri di bagian yang terkena suntikan, bisa diminumkan empat jam sekali ya Pak, Bu," saran dokter itu pada Jaden.
Setelah itu Jaden mengantarkan Santi dan Baby Al pulang. "Santi tolong jaga nak saya ya saya harus kembali ke kantor," pamit Jaden yang menurunkan Santi yang sedang menggendong Baby Al di depan gerbang rumahnya.
"Baik, Pak."
Santi membawa Baby Al masuk ke dalam kamar. anak itu tertidur setelah lelah menangis.
...***...
Bia pulang agak larut. Jaden menunggunya di ruang tamu. "Kenpa sampai larut begini Bi? Apa kamu tidak kangen anakmu?" Tanya Jaden pada istrinya.
"Aku banyak pekerjaan kak hari ini besok adalah deadlinenya." Bia memeberi alasan pada suaminya. Tapi Jaden tidak percaya pasalnya tadi siang ia pergi makan-makan bersama mantan kekasihnya itu.
"Apa kamu yakin seharian ini kamu berada di kantor hm? Bukankah tadi siang kamu makan bersama mantan pacar kamu?"
"Karena itu bagian dari agendaku hari ini Kak." Bia meninggikan suaranya karena kesal.
Bia menangis tersedu-sedu di dalam kamar. Ia tak menyangka suaminya akan semarah itu. Setelah itu BIa ke kamar mandi untuk membasuh mukanya lalu melangkahkan kaki ke kamar Baby Al. Namun, apa yang dilihatnya sungguh tak terduga. Bia melihat suaminya sedang memegang tangan Santi. Tangan BIa mengepal menahan marah. Ia pun urung memasuki kamar anaknya.
"Pak, terima kasih telah menolong saya," kata Santi pada Jaden.
"Lain kali kamu jalannya hati-hati ya," ucap Jaden memberi saran. Santi mengangguk.
Setelah keluar dari kamar mandi tadi kaki Santi sempat terpeleset. Untung saja Jaden menangkapnya. Namun, Bia datang di saat adegan terakhir sehingga ia menjadi salah paham saat mleihat tangan Jaden memegang tangan Santi.
Jaden kembali ke kamar setelah melihat kondisi anaknya. Baby Al sudah sudah membaik setelah ia minum obat. Panasnya juga sudah turun. Kini ia merasa sedikit lega.
Jaden menatap Bia yang tengah tertidur tapi membelakanginya. Jaden pun tak ambil pusing, ia lalu merebahkan diri di samping sang istri.
Keesokan harinya Jaden yang baru bangun tidur tidak mendapati istrinya di tempat tidur. Saat ia meraih handphone-nya ia melihat baru pukul enam pagi. Ia memukul ranjang dengan kesal. "Kamu benar-benar keterlaluan Bi," gumam Jaden dengan napas memburu karena marah.
...***...
Bia sengaja berangkat pagi karena dia mampir ke rumah orang tuanya. Bia langsung berhambur ke pelukan Ara ketika baru sampai.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu menangis?' Tanya mama Ara yang khawatir dengan kondisi anaknya.
"Kita bicara di dalam ya ma, aku nggak mau papa tahu."
"Papamu pergi keluar kota sejak kemaren sayang, ayo duduk dulu lalu tenangkan dirimu!"
Mama Ara mengambilkan secangkir teh untuk putrinya. "Jadi ada apa kamu pagi-pagi sekali ke sini? Kenapa tidak membawa Baby Al?" Tanya mama Ara.
"Kak Jaden ma, semalam dia marah sama aku gara-gara aku tidak bisa menemani Baby Al ke dokter untuk imunisasi. Dia malah menuduhku berselingkuh dengan Dani padahal dia sendiri yang berselingkuh dnegan Santi."
"Ah masak sih?"
"iya ma aku lihat mereka berpegangan tangan saat beradadi kamar anakku," ucap Bia makin terisak.
"Jangan mudah ambil kesimpulan Bi. Kamu harus cari tahu dulu kebenarannya. Apabila kamu melihat mereka bermesraan untuk yang kedua kali, beranikan diri untuk bertanya pada suamimu. Aku yakin Jaden bukan laki-laki yang gampang pindah ke lain hati. Kecuali baby sittermu itu menggodanya. Dari awal mama kurang suka dengannya."
"Mama akan berkunjung ke rumahmu untuk menemui cucu mama, kamu tenanglah biar mama yang merawat Baby Al selama kamu bekerja."
Bia memeluk ibunya. "Terima kasih, ma."