
Setelah Bia keluar dari kamar Raina, ia menghampiri ibu mertuanya di dapur. "Perlu bantuan, Ma?" Tanya Bia basa-basi.
Mom Celine tersenyum melihat menantunya. "Gak usah, ini udah mateng. Nanti kamu bawa kue buatan mama ya Bi kasih ke Jaden," kata mom Celine seraya mengangkat kue dari ovennya.
"Siap, Nyonya," kelakar Bia.
"Ih apaan sih panggil nyonya segala," tegur mom Celine sambil terkekeh. "Habis ini kamu langsung pulang, Bi?" Tanya mom Celine.
"Iya mom, oh iya aku nitip mobil ya, aku pengen naik motor," kata Bia meminta izin.
"Boleh, nanti kunci motornya minta Mang Asep ya." Bia tersenyum senang. Ia tak menyangka semudah itu meminta izin pada ibu mertuanya.
"Kalau gitu aku balik sekarang ya mom keburu malam," pamit Bia seraya meraih tangan tua itu untuk dicium.
"Iya hati-hati, nih kue nya. Dimakan ya!" Pesan mom Celine. Wanita itu memberikan kotak baperware yang sudah diisinya dengan kue tadi.
Setelah itu Bia menuju ke garasi. Wanita itu pun girang saat membuka penutup motor sport yang disembunyikan Jaden di rumah orang tuanya. "Akhirnya," ucapnya dengan senyum lebar yang mengembang di wajah cantiknya.
Bia pun mengambil helm kemudian memakainya. "Untung gue hari ini pakai celana. Nggak apalah pakai setelan kerja kaya gini kapan lagi bisa naik motor gede," gumamnya.
Saat Bia menyalakan motor dan memanasi motornya di halaman depan, mom Celine mendengarnya. Dia pun keluar untuk mengecek. "Ampun Gusti," teriakan mom Celine membuat Julian dan Raina berhamburan keluar.
"Ada apa, Mom?" Tanya Julian.
"Itu adik ipar kamu bener-bener ya. Kirain mau pakai motor matic eh malah pakai motor lakinya," gerutu mom Celine.
"Biarin aja sih mom, bukannya dulu dia udah biasa?" Perkataan Julian membuat Raina bertanya dalam diam.
"Bia emang suka balap motor dulunya, tapi balapan motor liar. Jaden jatuh cinta pas lihat Bia lagi balapan," terang Julian yang membuat Raina sedikit tidak percaya.
Di tempat lain, sebuah mobil menghadang mobil yang Jaden tumpangi. Beberapa orang keluar dari mobil tersebut.
"Pak sepertinya kita perlu waspada," kata Bagus mengingatkan.
Jaden dan Bagus keluar dari mobil. Di saat yang bersamaan Samuel juga keluar dari persembunyiannya. Laki-laki itu membuka kaca mata hitam yang ia kenakan.
"Cih, rupanya kamu mau cari mati," cibir Jaden.
Setelah itu Samuel memberikan kode melalui gerakan tangannya. Anak buah Samuel mulai maju menyerang Bagus dan Jaden bergantian. Jaden membuang jasnya ke sembarang arah. Ia menggulung kemejanya sampai lengan. Saat salah seorang anak buah Samuel melayangkan pukulan ke wajahnya. Jaden bisa menghindar. Ia menangkap tangan itu lalu mematahkan tangannya menggunakan lutut. Lawannya pun jatuh tersungkur.
Bagus tak kalah hebat dalam berkelahi. Dua orang yang mencoba menyerangnya secara bergantian mendapatkan pukulan di bagian wajah secara bertubi-tubi. Keduanya pun jatuh tak berdaya.
Jaden dan Bagus masih sibuk mengatasi serangan lawan-lawannya. Samuel hanya mengawasi anak buahnya dari dekat mobil yang ia tumpangi. Saat satu persatu dari mereka mulai tumbang, ada rasa khawatir pada dirinya.
Bia saat itu lewat di jalan dimana Jaden dan Bagus sedang diserang oleh sekawanan penjahat. Lalu wanita itu menghentikan motornya. Ia turun dari motor dan melepas helm yang ia kenakan.
Bia berlari ke arah Jaden. Ia bertumpu ke sebuah pijakan lalu memberikan tendangannya pada orang yang akan menyerang suaminya dari belakang. Tak hanya itu. Bia memukul menggunakan helm yang ada di tangannya.
Brak
Suara benturan itu membuat Jaden menoleh. Ia tak menyangka istrinya itu ikut berkelahi. Bia tersenyum ke arah suaminya sambil melambaikan tangan. Jaden membalas senyum istrinya. Bagus pun menarik ujung bibirnya. Laki-laki itu baru pertama kalinya melihat Bia berkelahi.
Anak buah Samuel mulai lelah. Mereka bertiga berhasil menumbangkan anak buah Samuel. Samuel kini panik saat anak buahnya tak berdaya. Ia buru-buru masuk ke dalam mobil tapi Jaden berhasil menghalanginya masuk. Suami Bia itu mengganjal pintu mobil dengan tangannya.
"Mau kemana?" Tanya Jaden pada laki-laki itu.
Bug
Belum sempat Samuel menjawab ia sudah mendapatkan satu pukulan di bagian wajahnya dengan keras. Jaden membanting pintu mobil itu. Ia lalu berjongkok dan mencengkeram kerah Samuel. "Nggak usah bikin rusuh kalau pada akhirnya kamu yang akan kalah. Ingat perbuatan kamu ini sudah melebihi batas aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja," ancam Jaden seraya mengurai cengkeramannya.
Jaden berdiri dan merapikan kemejanya. "Hubungi polisi lalu penjarakan mereka!" Perintah Jaden pada Bagus.
Setelah urusan dengan Samuel selesai, Bia menghampiri suaminya. "Are you oke?" Tanya Bia pada suaminya. Ia memindai suaminya dari kepala sampai ujung kaki.
"Aku nggak apa-apa, kamu naik motor?" Tanya Jaden pada istrinya. Bia mengangguk. Jaden mengacak rambut Bia gemas. "Biar aku saja yang bawa." Jaden menengadahkan tangannya untuk meminta kunci motor dari tangan istrinya.
Setelah Bia memberikan kunci motor tersebut Jaden memakai helm lalu naik ke atas motor. "Let's go," ajak Jaden. Bia pun ikut naik. Wanita itu merasa senang karena sudah lama ia tak menaiki motor bersama suaminya.
"Gus, kamu bawa pulang mobilnya,kita mau pacaran," Jaden membuka kaca penutup helmnya lalu mengerlingkan matanya sebelah ke arah sang istri. Bagus hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah atasannya itu.