
Bulan sengaja menunggu Aiden pulang kerja.Ia berada di dalam mobil tepatnya menunggu di parkiran mobil di area hotel J&B. Bulan ingin menjelaskan alasannya tidak menghubungi tunangannya selama ini.
Ketika Aiden keluar dari lobi hotel, Bulan turun dari mobilnya. "Aiden," panggil Bulan, Aiden pun menoleh.
"Aiden, bisa kita bicara sebentar," mohon Bulan pada tunangannya. Aiden mengangguk setuju.Mereka masuk ke dalam mobil Aiden.
"Aiden maafkan aku," ucap Bulan dengan penuh penyesalan.
"Maaf selama ini aku tidak pernah menghubungi kamu," imbuh Bulan seraya menunduk.
"Kenapa Bulan? Apa kamu lupa kalau kamu sudah bertunangan hm?" Aiden mengangkat dagu Bulan. Bulan meneteskan air mata. Aiden mengusap ai mata yang menetes di pipi putih Bulan.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Aiden lembut.
"Aku salah, maaf aku melupakanmu," jawab Bulan sambil terisak.
"Mungkin karena jarak kita terlampau jauh makanya kita jarang berkomunikasi, sekarang aku pindah kerja di sini apa kau senang?" tanya Aiden pada kekasihnya. Bulan mengangguk tapi Aiden menangkap sesuatu yang disembunyikan oleh Bulan. Bulan tidak tampak antusias ketika bertemu dengan tunangannya.Mungkinkah ada lelaki yang disukai Bulan selama dia berada di Indonesia, pikir Aiden.
"Sudahlah, aku memaafkanmu sayang, bisakah kita seperti dulu, kau tidak benar-benar melupakanku bukan?" goda Aiden seraya membawa Bulan dalam pelukannya.
Julian yang baru turun dari mobil. Julian berniat mengembalikan mobil saudara kembarnya yang ia pinjam karena mobilnya srdang diperbaiki di bengkel.
Julian melihat seseorang yang ia kenal sedang berpelukan dengan lelaki lain. Ia mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras seakan menahan marah.Dadanya terasa sesak melihat kenyataan Bulan memiliki kedekatan dengan laki-laki yang bekerja di hotel adiknya. Ia tidak menyangka Bulan mengenal chef baru itu.
...***...
Di tempat yang berbeda, Bia sedang menunggu kedatangan suaminya di rumah orang tuanya.
"Bi kamu bersih-bersih dulu sebelum suami kamu pulang," perintah mama Ara.
"Iya ma, semenjak hamil tua aku berasa gerah terus, badan aku lengket, Bia mandi dulu ya ma," kata Bia setelah itu menaiki tangga.
Saat ia akan menaiki tangga kakinya terpeleset. Bia pun terjatuh. Mama Ara yang mendengar suara seseorang jatuh jadi panik lalu menghampiri sumber suara.
"Ya ampun Bia kamu gak papa nak?" tangis Ara pecah saat melihat putrinya tergolek lemas di lantai.
"Sakit ma," Bia merintih seraya memegangi perutnya yang sakit akibat benturan yang keras. Sedangkan mam Ara melihat darah sudah mengalir di sela-sela paha putrinya. Ia pun semakin panik.
Di saat yang bersamaan Bulan datang bersama Aiden. Ia bermaksud memperkenalkan tunangannya pada keluarga Rasya. Namun keadaan yang ia lihat saat pulang adalah adik sepupunya mengalami kecelakaan.
"Ya ampun Bia kenapa ma?" tanya Bulan tidak kalah panik melihat Bia dalam keadaan pingsan.
"Tante biar saya gendong, kita bawa dia ke rumah sakit sekarang," kata Aiden tegas. Tanpa menunggu aba-aba ia langsung mengangkat tubuh Bia. Aiden berjalan cepat menuju ke mobilnya diikuti oleh Bulan dan mam Ara.Mereka membawa Bia ke rumah sakit.
Di seberang jalan Jaden melihat istrinya dibopong oleh laki-laki yang tidak ia kenal. Karena saat itu posisi Aiden membelakangi Jaden. Jaden jadi berpikiran yang macam-macam. Ia mengikuti kemana mobil itu membawa istrinya pergi.
Tak lama kemudian Jaden mendapat panggilan dari mam Ara. Ia pun mengangkat telepon melalui earphone bluetooth yang ia sambungkan ke ponselnya.
"Kamu segera ke rumah sakit Bia jatuh," terang mam Ara kemudian langsung menutup teleponnya tanpa menjelaskan sebab Bia jatuh karena tentunya tidak tepat berbicara melalui sambungan telepon.
Jaden pun melajukan mobilnya kencang disertai emosi yang menyelimuti kalbunya. Ia termakan api cemburu.
Setibanya di rumah sakit, Aiden segera menggendong tubuh Bia yang lemas lalu ia berteriak memanggil perawat. Kemudian perawat membawa brankar dan membawa Bia ke dalam ruang IGD.
Tak lama kemudian Jaden tiba di rumah sakit. "Bagaimana keadaan istriku ma?" tanya Jaden dengan ekspresi wajah datar.
"Sedang ditangani oleh dokter," jawab mam Ara yang merasa bersalah karena tak menjaga putrinya dengan baik selama berada di rumahnya.
Aiden mengangguk hormat pada Jaden selaku pemilik hotel tempat tempat dia bekerja. Jaden tak menanggapi. Jaden pun tak menanyakan perihal Aiden berada di tempat itu.Bulan melihat hal tak biasa di diri Jaden. Tapi ia tak yakin akan dugaannya itu maka ia hanya diam.
"Bayi nyonya Berlian harus segera dikeluarkan, kami butuh persetujuan dari pihak keluarga," kata perawat yang menangani.
Jaden pun maju dan mengambil berkas yang dibawa suster tersebut. "Lakukan yang terbaik," lagi-lagi Jaden berkata dengan acuh.
Mam Ara telah mengabari papa Rasya. Bulan juga mengirim pesan singkat ke handphone Julian agar keluarga Julian tahu.
"Oh no, mom Berlian masuk rumah sakit," kata Julian.
"Ah apakah dia akan segera melahirkan?" tanya mom Celine pada putranya.
"Julian belum tahu mom, Bulan hanya menyuruh kita ke rumah sakit," kata Julian.
Setelah itu mom Celine mengabari dad Darren. Julian mengantar mom Celine ke rumah sakit tempat Bia dirawat.
Semua orang kini berkumpul di depan ruang operasi. Setelah hampir dua jam berada di ruang operasi, dokter yang menangani Bia akhirnya keluar.
"Suami nyonya Berlian ada?" tanya dokter yang melihat banyak orang menunggu di depan ruang operasi.
"Saya dok," Jaden maju.
"Nyonya Berlian sudah melahirkan tapi kami tidak dapat menyelamatkan bayinya, sepertinya benturan yang cukup keras saat ia terjatuh membuat bayinya meninggal di dalam kandungan," ucap dokter itu.
Tubuh Jaden hampir saja terhuyung kalau saja dad Darren tidak menangkapnya. Ia menjambak rambutnya frustasi saat mendengar berita kematian bayi yang mereka nantikan kelahirannya.
Mom Celine mencoba menenangkan putranya meskipun sia-sia. Tapi tetap saja ia ingin berada di sisi Jaden di saat-saat terpuruknya.
Tak hanya Jaden dan keluarganya mama Ara sampai pingsan mendengar cucunya meninggal dalam kandungan. Papa Rasya kemudian membawa mam Ara agar mendapat perawatan intensif di rumah sakit itu.
Kini tinggal menunggu Bia sadar setelah melalui proses operasi sesar. Sementara waktu Bia masih dirawat di ruang ICU sampai ia melalui masa kritisnya.
...❤️❤️❤️...
Doakan Berlian sehat kembali ya readers, biar othor tetep bisa lanjut ceritanya. Jangan lupa yang udah baca tinggalin jejak ya, lagi butuh kembang nih kalau mau ngasih othor bales doa biar dapat pahala.