
"Sayang hari ini aku akan keluar kota, tidak apakah jika ku tinggal sendiri?" tanya Jaden pada istrinya sebelum berangkat ke kantor.
"Mendadak sekali," kata Bia yang kaget tiba-tiba suaminya pergi keluar kota. Padahal semalam tidak ada pembicaraan tentang keberangkatannya.
"Maaf, Bagas baru memberi tahuku semalam saat kamu sudah tidur," terang Jaden dengan sangat menyesal. Ada perasaan khawatir meninggalkan istrinya yang sedang hamil di rumah sendirian.
"Kalau begitu aku akan menginap di rumah mama," kata Bia sekaligus meminta izin pada suaminya.
"Itu lebih baik sayang," Jaden memberikan kecupan di kening istrinya sebelum dia pergi.
Mereka memang berangkat bersama. Akan tetapi Jaden langsung ke bandara setelah mengantarkan istri kesayangannya itu ke kantor ojek online.
Hari ini Keyla mulai bekerja di kantor Bia.Keyla datang terlebih dulu sebelum Bia datang ke kantor. Meski awalnya menggerutu gadis itu akhirnya mematuhi perintah Bia yang sekarang menjadi atasannya.
Pagi ini Rasya berkunjung ke kantor ojek onlinenya untuk menemui Berlian setelah mendengar kabar dari asistennya bahwa Darren telah menanamkan modal di perusahaan tersebut.
Saat Rasya akan masuk ke ruangan Bia, Keyla berdiri dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Kamu kerja di sini juga Key? ayahmu tidak bilang," tanya Rasya pada Keyla kemudian menoleh pada Didu, asisten Rasya sekaligus ayah Keyla.
"Iya om, eh pak," jawab Keyla agak canggung memberi sebutan pada ayah sahabatnya itu.
Lalu saat Rasya hendak masuk rupanya Bia sudah ada di depan pintu bermaksud ingin keluar ruangan.
"Pa, ada apa datang kemari?" tanya Bia yang kaget melihat kedatangan ayahnya tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Tidak apa duduklah," perintah Rasya pada Bia.
"Sebenarnya papa ke sini hanya mau tahu, apa benar tuan Darren menanamkan modal untuk perusahaan ini?" selidik Rasya.
Bia mengangguk."Benar pa, atas permintaan suamiku," kata Bia jujur.
"Kalau begitu papa harus berterima kasih pada ayah mertuamu yang telah membantu perusahaan ini," kata Rasya bersemangat.
"Papa akan mengajaknya makan bersama siang ini," imbuhnya.
"Iya pa, tapi papa sebaiknya bikin janji dulu dengan daddy, kalian orang yang sama -smaa sibuk," kata Bia.
"Ya, papa akan menghubunginya," balas Rasya.
...***...
"Pak, besan anda mengajak makan siang ini," kata pak Bagas asisten Darren yang telah mengabdi sangat lama padanya.
"Jadwal kita apa siang ini?" tanya Darren pada Bagas.
"Anda harus menghadiri meeting bulanan pak," jawab asisten pribadi Darren.
"Tapi aku tidak enak jika menolaknya, suruh Julian menghadap aku sekarang," Pak Bagas pun memanggil Julian sesuai perintah atasannya.
"Ada perlu apa dad?" tanya Julian yang menghadap ayahnya.
"Gantikan daddy makan siang bersama ayahnya Berlian," kata Darren.
"Kenapa tidak menyuruh Jaden saja dad? Pak Rasya kan mertuanya," tolak Julian.
"Jaden sedang tugas di luar kota,daddy tidak enak menolak permintaan besan, jadi gantikan daddy dan sampaikan permintaan maaf daddy," tegas Darren.
"Ck, baiklah," jawab Julian pasrah.
...***...
Drrt Drrt
"Ada apa sayang?" jawab Rasya yang baru saja menerima telepon dari istrinya.
"Ibu masuk rumah sakit pa, kita harus ke sana sekarang," kata mama Ara dari ujung telepon.
"Baik ma," jawab Rasya kemudian menutup teleponnya.
"Pak bagaimana janji anda dengan tuan Darren?" tanya asisten pribadi Rasya.
"Oh saya sampai lupa, tolong hubungi Bulan, minta dia gantikan saya untuk makan siang bersama tuan Darren," kata Rasya sedikit menyesal dengan janjinya.
"Kenapa tidak non Bia saja pak?" tanya Didu.
"Tidak, aku akan meminta dia menggantikanku meeting dengan investor siang ini,karena saya harus terbang ke Sukabumi," kata Rasya.
"Baik saya akan menghubungi non Bulan," jawab Didu mematuhi perintah atasannya.
...***...
Bulan segera menuju ke restoran yang sudah dibooking untuk acara makan siang bersama tuan Darren.Ia tidak bisa menolak permintaan pamannya. Namun ia tidak tahu kalau Darren juga berhalangan hadir dan sebagai gantinya Julian lah yang hadir di acara makan siang itu.
"Kamu?" Bulan dan Julian saling tunjuk saat ia menuju ke meja yang sama.
"Kita memang jodoh," kata Julian dengan percaya diri.
"Cih, aku hanya menuruti perintah pamanku untuk menggantikannya karena dia sedang ada urusan mendadak," kata Bulan sambil mendudukkan diri di kursi yang telah dipesan.
Seorang pelayan pun datang untuk memberikan buku menu pada keduanya. "Hari ini ada menu spesial dari restoran kami khusus untuk pasangan kekasih seperti kalian tuan, nona," kata pelayan tersebut saat merekomendasikan menu andalannya seraya menoleh ke arah Julian kemudian ke Bulan.
"Baik kami pesan menu itu," Julian mendahului sebelum Bulan menyampaikan pesanannya.
"Aku curiga kau sendiri yang mengajukan diri untuk menggantikan pak Rasya karena kau tahu aku yang akan datang untuk pertemuan makan siang kali ini," tuduh Julian.
"Omong kosong, kamu pikir aku wanita seperti apa mengejar lelaki sepertimu, asal kamu tahu aku sudah..." belum sempat Bulan meneruskan omongannya, Julian lebih dulu menyela.
"Bertunangan,"
Julian mencondongkan kepalanya ke depan. "Nona aku beri tahu, Cinta yang datang lebih dulu belum tentu cinta sejatimu," kata Julian menasehati.
"Sok tahu," cibir Bulan.
Tak lama kemudian pelayan membawa pesanan. "Silahkan dinikmati tuan, nona," kata pelayan tersebut dengan sopan.Julian mengangguk.
"Kamu sungguh menarik nona, selama ini tidak ada satu wanita pun yang menolak pesonaku," kata Julian dengan sombong.
Bulan memutar bola matanya jengah mendengar bualan Julian. "Anda terlalu sombong tuan, saya tidak tertarik pada anda karena saya tidak mau berkhianat pada tunangan saya," tegas Bulan.
Julian meletakkan sendok dan garpu yang ia pegang.Saudara kembar Jaden itu menarik nafasnya panjang kemudian menghembuskannya. Ia berusaha menguasai diri agar tidak emosi. "Sudah naluri manusia untuk mencari pasangan hidup sebaik mungkin nona, saat ini saya menganggap anda sebagi wanita yang baik untukku. Tidak masalah meski hanya aku yang menginginkanmu, kau tak harus mempunyai perasaan yang sama," kata Jaden sok bijak. Padahal dalam hatinya ia terasa sakit karena Bulan menolaknya berkali-kali.
"Sebaiknya kita akhiri pertemuan hari ini," Bulan berdiri. Jaden pun ikut berdiri. Ia tahu Bulan ingin menghindar.
"Mungkin akan lebih baik kalau kita tidak bertemu lagi setelah ini. Dengan begitu tidak akan ada yang tersakiti," kata Bulan dengan penuh penekanan.
Bulan kemudian pergi meninggalkan Julian. Sayangnya ia meninggalkan ponselnya di atas meja restoran.
"Nona tunggu," teriak Julian saat ia akan mengembalikan ponsel Bulan. Sayangnya gadis itu sudah terlebih dulu melajukan mobilnya.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengejarmu jika kau lupa membawa ponselmu, ini akan kujadikan alasan untuk bertemu lagi denganmu," gumam Julian lirih.
"Hufh menyebalkan sekali laki-laki itu, apa dia tidak capek mengejar-ngejar wanita yang sudah bertunangan?" gerutu Bulan sambil menyetir mobil.