
Setelah keluar dari rumah sakit. Alex mengajak semua temannya makan di rumah makan yang tak jauh dari rumah sakit. "Bos kok makannya di sini sih bos?" gerutu Agung.
"Habis mau makan dimana? Sandra kan masih lemah jadi makan yang deket-deket sini ajalah," jawab Alex.
"Nggak apa kali makanannya di sini enak kelihatannya," kata Sandra.
Mereka pun mendudukkan diri di kusri masing-masing. "Kirain mau makan di restoran mana gitu, gue kan udah undang bebeb Kristal," gerutu Agung.
"Ngemeng mulu lo men, ditraktir juga masih aja protes," timpal Amar.
Lalu pemilik warung makan itu menawari dagangannya. "Mau makan apa Den?" Tanya pemilik warung itu pada Alex.
"Bakso saja pak, semua ya," Alex meminta dukungan pada teman-temannya. Mereka mengangguk.
"Alhamdulillah, seharian ini belum ada pelanggan sama sekali Den," kata bapak-bapak pemilik warung itu.
"Kalau gitu sok atuh pak disiapin pesanannya!" Kata Alex.
"Baik, Den."
"Tu kan seneng bapaknya, kasian kali belum ada yang beli sejak pagi," kata Alex.
"Jangan-jangan makanannya nggak enak lagi," sahut Andi.
"Jangan suudzon dulu, mungkin memang belum rejekinya hari ini," seru Amar.
Sembari menunggu pesanan mereka, Andi menelepon Ciara. "Gue ada di warung bakso nih deket rumah sakit elo ke sini ya!" Kata Andi pada Ciara melalui sambungan telepon.
Setelah itu Andi menutup teleponnya. "Cie, udah sampai mana sih hubungan kalian?" Tanya Agung pada Andi.
Andi hanya tersenyum menjawab pertanyaan Agung. "Jadi cowok tuh harus tegas men, ungkapin perasaan lo, masak udah bertahun-tahun kalian cuma TTM?" Ledek Agung.
"TTM apaan sih?" tanya Nabil polos.
"Teman-teman monyet," jawab Amar.
"Tampan tapi mesum," jawab Agung sambil terlekeh.
"Teman tapi menikah," jawab Alex lalu mendapat sikutan dari Sandra.
"Nggak ada yang bener nih jawabnya," protes Nabil.
"Udah ah makan dulu nyok laper," kata Alex ketika makanan mereka sudah tersedia di meja.
Tak lama kemudian Ciara dan Kristal datang bersamaan. "Kalian nggak nungguin kita?" Protes Ciara.
"Pak, pesen dua mangkuk lagi ya baksonya," teriak Alex memanggil pemilik warung tersebut. Pemilik warung itu mengacungkan jempolnya.
Ciara dan Kristal medudukkan diri di bangku yang kosong. "Kalian kok bisa bareng?" Tanya Sandra.
"Nggak bareng sih, ketemu di depan aja, kebetulan tadi Kristal baru turun dari taksi dan gue juga baru turun dari mobil," ungkap Ciara.
"Tumben nggak ngajakin makan di restoran?" Tegur Kristal.
"Sandra kan baru keluar dari rumah sakit jadi kita nggak pergi jauh-jauh dulu," jawab Alex.
"Bener lho enak juga nih baksonya," seru Agung sambil menikmati bakso yang sedang ia makan.
"Eh iya kak, maaf ya Kristal baru denger kalau kakak kena musibah," kata Kristal pada Sandra.
"Iya, gue juga minta maaf San, gue baru denger kabar dari Andi," ucap Ciara sedikit menyesal.
"Nggak apa," jawab Sandra sambil tersenyum.
"Elo ada yang luka nggak?" Tanya Ciara khawatir.
"Cuma lebam dikit doang," jawab Sandra sambil menunjukkan tangannya yang lebam.
"Syukur deh, lain kali hati-hati kalau naik taksi online," Ciara memeberi saran.
Alex menyemburkan minumannya. "Buset, hati-hati dong bos, kena muka gue nih," protes Agung.
Kristal mengelap muka Agung dengan tisu yang ia ambil di dalam tasnya. "Makasih sayang," kata Agung sambil memegang tangan Kristal. Kristal tersenyum malu.
"Lepasin tangan adik gue!" Alex melempar sendok ke arah Agung.
"Buset galak amat calon kakak ipar," gerutu Agung.
"Tenang aja pelakunya udah ditangkap," kata Alex.
Usai makan-makan, mereka berpisah. Alex mengantar Sandra ke tempat kosnya. Nabil dan Kristal juga ikut di mobil Alex karena Nabil tinggal di tempat kos yang sama.
"Makasih banyak ya Lex udah anterin kita," kata Nabil setelah Alex menurunkannya di depan kos. Alex mengangguk.
"Sayang mulai besok aku antar jemput kamu ya," kata Alex pada Sandra.
"Apaan sih lebay orang kampus juga deket kok," jawab Sandra membuat Alex terkekeh.
"Sampai rumah kabari ya," kata Sandra sebelum kekasihya itu pergi.
Kristal melambaikan tangan ketika sang kakak melajukan mobilnya. Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah, mobil Alex kini memasuki halaman rumahnya.
"Alex, bagaimana keadaan Sandra?" Tanya Bia yang mendapati anaknya pulang ke rumah setelah ia diberi tahu oleh suaminya jika sang putra sulung menunggui kekasihnya di rumah sakit.
"Sandra sudah diperbolehkan pulang sama dokter ma. Nggak ada yang luka cuma trauma sedikit akibat kejadian kemaren," terang Alex.
"Syukurlah. Ya sudah kamu istirahat, kamu pasti kurang tidur karena nungguin Sandra semalaman." Perintah Bia pada putranya itu.
Alex menahan senyumnya, mana mungkin dia kurang tidur karena ia semalaman tidur nyenyak sambil memeluk Sandra.
Alex pun berlalu ke kamarnya. Namun, saat dia akan merebahkan diri sang adik masuk ke dalam kamarnya.
"Bang, denger-denger kak Zidan ya yang nolongin kak Sandra kemaren?" Tanya Kristal pada Alex. Alex mengangguk.
"Abang sudah berterima kasih sama kak Zidan?" Tanya Kristal kemudian.
"Gue belum sempet ketemu," jawab Alex sok cuek.
"Ya udah besok sempetin ketemuan sama dia, bagaimanapun dia berjasa lho nyelametin nyawa kak Sandra, kalau nggak ada kak Zidan bisa-bisa kak Sandra..." Kristal tak meneruskan kalimatnya.
"Ck, iya iya bawel. Sana lo keluar gue mau istirahat," Alex mendorong tubuh Kristal. Kristal mengerucutkan bibirnya.
Alex mengingat pesan Sandra sebelum berpisah dengannya tadi untuk menghubunginya setelah sampai di rumah. "Eh handphone Sandra kan rusak pas disenggol sama Dewi kemaren," gumam Alex.
"Besok gue kasih handphone baru aja kali ya biar dia seneng," kata Alex setelah itu.
...***...
Sandra ingin menghubungi sang ayah agar tidak khawatir tapi ia lupa kalau handphonenya sedang rusak. "Coba aja gue punya tabungan lebih buat beli handphone baru," gumam Sandra.
Tok tok tok
Nabil mengetuk pintu kamar Sandra. Sandra yang mendengar pintu kamarnya diketuk kemudian ia membukakan pintu. "Gue buatin teh anget buat lo," kata Nabil sambil menyodorkan secangkir teh hangat untuk Sandra.
"Makasih," kata Sandra.
"San gue boleh tanya?" Tanya Nabil ragu. Sandra mengangguk.
"Kemaren mereka belum sempet ngapa-ngapain elo kan?" Tanya Nabil yang terlihat khawatir.
"Syukur alhamdulillah gue masih selamet," jawab Sandra sambil tersenyum. Nabil merasa lega.
"Gue juga mau ingetin supaya elo berterima kasih sama Zidan, karena kalau bukan karena dia kita nggak tahu nasib kita kaya gimana," ungkap Nabil.
"Zidan?" Sandra tak ingat karena kemaren dia sangat syok. Dia hanya ingat ketika Alex menolongnya ke rumah sakit.