My Beloved Partner

My Beloved Partner
73



Hari ini Hardian memantapkan diri untuk mengunjungi alamat kantor Julian. "Bapak yakin akan ke sana?" tanya istri Hardian seraya memberikan kunci motornya.Hardian mengangguk pasrah.


Laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahunan itu mengendarai motor matic warna merah miliknya dengan laju yang tidak begitu kencang. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam lamanya Hardian sampai di pelataran hotel Danz Smith.


Perlahan ia melepaskan helm yang ia kenakan setelah berhasil memarkirkan motornya di area parkir yang tersedia di hotel tersebut.


Ia mendongak melihat kemegahan hotel yang menjulang tinggi. Meski hanya dua puluh lantai namun kemegahan bangunan berkonsep modern minimalis itu sangatlah mempesona.


Hardian melangkahkan kakinya menuju ke lobi hotel. Kemudian ia menanyakan apakah terdapat orang yang bernama Julian yang bekerja di hotel megah ini? Jawaban resepsionis adalah ada.


"Pak satpam tolong antar bapak ini ke ruangan pak Julian," kata resepsionis.


Setelah itu Hardian di bawa naik ke lantai lima tempat kerja Julian. Sebelumnya resepsionis dan satpam tersebut sudah diberi tahu oleh Julian untuk mengantarkan tamu spesialnya hari ini. Padahal itu hanya tebakan karena paman Raina tidak memberi tahu sebelumnya.


"Permisi saya mencari Julian," kata Hardian setengah gugup


Julian yang sedang duduk membelakangi Hardian kemudian membalikkan kursinya. Ia tersenyum ke arah Hardian.


"Selamat datang paman," sapa Julian. Ia berdiri untuk menyalami laki-laki paruh baya itu.


Setelan jas import dipadukan dengan dasi yang senada dengan warna jas dan sepatu yang mengkilap serta jam tangan mewah yang terpakai membuat penampilan Julian seratus delapan puluh persen berbeda dari Julian yang pertama kali laki-laki itu temui.


Beberapa hari yang lalu Julian hanya mengenakan setelan kemeja semi formal yang dibalut dengan jaket karena saat itu dirinya sedang mengendarai motor Jaden.


Hardian membelalakkan matanya saat melihat calon suami keponakannya itu. Banyak pertanyaan yang ingin disampaikan olehnya. Namun belum sempat Hardian buka mulut Julian sudah mendahului.


"Sebelum saya membantu melunasi hutang-hutang anda sebaiknya kita bertukar keuntungan, saya melunasi hutang anda dan anda berjanji menjadi wali nikah dari calon istri saya," Julian memberikan plilhan pada paman Raina itu.


"Bagaimana saya bisa percaya kalau kamu akan benar-benar melunasi hutang saya?" tanya Hardian.


"Saya sudah siapkan surat perjanjian yang akan kita tanda tangani bersama," ucap Julian pada Hardian.


Setelah itu Julian memanggil Ruby kemudian sekertarisnya itu pun membawa surat perjanjian yang diminta oleh atasannya.


"Kamu boleh keluar Ruby," titah Julian pada sang sekertaris.


Diam-diam Hardian melihat Ruby dengan tatapan mesum. Julian yang menyadari akan hal itu lalu berdehem untuk membuyarkan pikiran mesum Hardian.


Ehem


Suara deheman itu membuat Hardian menoleh. Ia jadi salah tingkah karena ketahuan memperhatikan Ruby.


"Bisa kita lanjutkan paman?" tanya Julian meminta persetujuan.Hardian mengangguk.


"Silahkan anda baca poin-poinnya lalu tanda tangan apabila anda setuju,"


"Kenapa tidak kau berian saja uangmu secara langsung aku pasti akan datang ke pernikahan kalian," Julian tersenyum sinis mendengar perkataan Hardian.


"Saya hanya menghindari kemungkinan buruk yang terjadi," perkataan Julian suda menyiratkan kalau dirinya tidak percaya begitu saja pada paman Raina itu. Apalagi Raina pernah disia-siakan olehnya bukan tidak mungkin ia akan membawa lari uang Julian begitu saja tanpa memenuhi janjinya.


"Baiklah aku akan tand tangan surat perjanjian ini, lagipula aku akan dengan mudah menemukanmu apabila kau berbohong," ancam Hardian.


Setelah mereka saling membubuhkan tanda tangan ke surat perjanjian tersebut, keduanya berpisah. Hardian kini baru turun dari lift dan berjalan di lobi.


Bug


Hardian mendapat pukulan di wajahnya secara tiba-tiba dari laki-laki yang mengenakan jaket driver ojek online.


"Kurang ajar, berani-beraninya kamu..." Hardian tidak meneruskan omongannya setelah melihat wajah sang pelaku.


"Kamu masih ingat wajahku ini hah?"sentak Arif dengan emosi yang menggebu. Arif masih dalam keadaan marah bahkan ia siap memukuli laki-laki yang lebih tua dari usianya itu.


Arif adalah laki-laki yang pernah ditolong Bia. Ia adalah ayah dari anak bernama Banu dan Delima.Bia memberinya pekerjaan agar laki-laki itu tidak meninggalkan kedua anaknya lagi. Dulu ia kabur karena menghindari anak buah rentenir yang mengejarnya.Setelah bertemu Bia dan suaminya kehidupannya berubah. Ia pun dapat membayar hutangnya dengan lunas.


Saat itu Arif sedang mengantarkan pesanan makanan yang diorder lewat aplikasinya. Langkahnya terhenti ketika melihat wajah yang dikenali. Seketika ia melayangkan pukulan pada Hardian.


"Kau?"


"Kembalikan uang yang kau bawa lari, karena dirimulah aku sampai dikejar-kejar oleh rentenir," geram Arif.Dadanya naik turun dengan nafas yang memburu karena menahan marah.


"Aku sendiri terkena tipuan, jadi kita sama-sama korban," elak Hardian.


"Bang sat," Arif hendak memukul sayangnya satpam lebih dulu melerai pertikaian di antara mereka.


Julian yang baru turun dari lift tak sengaja menyaksikan pertengkaran tersebut."Ada apa ini?" tanya Julian dengan nada yang ditinggikan.


Hardian dan Arif menoleh. "Maaf pak Jaden saya sudah membuat keributan di sini," kata Arif tertunduk hormat.


Julian mengerutkan keningnya. Ia menduga laki-laki ini mengenal Jaden.


"Saya harap kalian bubar, apabila ada masalah silahkan bicarakan di luar, saya tidak mau pengunjung hotel di sini merasa tidak nyaman dengan pertengkaran kalian," ucap Julian dengan tegas.


Lalu mereka pun bubar. Tapi Julian menahan Arif untuk beberapa saat. "Tunggu, boleh saya bicara dengan anda?" tanya Julian meminta izin


"Ada masalah apa anda dengan paman saya sehingga kalian sampai bertengkar?" selidik Julian.


"Dia itu paman anda?" Arif jadi merasa tidak enak.


"Dia membawa kabur uang sepuluh juta yang ia dapat dari rentenir tapi diatasnamakan saya,pada akhirnya dia tidak dapat membayar uang tersebut, namun yang dikejar justru saya bukannya dia," terang Arif.


Julian meraup mukanya kasar mendengar pengakuan Arif. Dia tak menyangka pamannya itu berhutang dimana-mana.