My Beloved Partner

My Beloved Partner
151



Entah bagaimana bisa wajah Ciara seolah menampakkan cahaya di belakangnya. Andi tertegun sejenak. "Ndi, woi." panggil Amar yang melihat sahabatnya itu melamun.


"Eh, apa?" Andi tersadar dari lamunannya.


"Yuk, cabut!" Ajak Amar. Mereka mengikuti Alex dan Sandra yang berjalan lebih dulu. Alex perlahan meraih tangan Sandra untuk digenggam.


Zidan yang melihat kedekatan antara Alex dan Sandra jadi tidak suka. Ia mengepalkan tangan karena geram. Lalu ia berbalik dan pulang.


Sementara itu Alex dan teman-temannya telah sampai di sebuah kafe yang buka siang itu.


"Tempatnya bagus ya," kata Ciara mengagumi keindahan desain kafe tersebut. Ia berjalan mundur hingga menabrak Andi. Andi menangkap tubuh Ciara.


"Eh, sorry," ucap Ciara dengan gugup. Andi tidak menjawab. Tangannya bergetar saat menyentuh kulit Ciara.


"Kalian boleh pesen makanan apa aj gue yang bayar," kata Alex. Mereka semua bersorak


"Jangan boros-boros," Sandra mengingatkan tapi sambil berisik.


"Nggak apa Yang, nggak sering-sering juga kok," jawab Alex sambil tersenyum.


"Elah bu bos yang dermawan gitu kaya pak bos, tenang aja warisannya nggak akan habis tujuh turunan dia mah, orang mobil aja dibuat di pabrik bapaknya, driver se-Indonesia ibunya yang gaji, belum hotel..."


Alex menutup mulut Agung dengan memasukkan roti ke dalam mulutnya. "Udah diem lo, makan aja, berisik tahu nggak?" kata Alex. Teman-temannya menertawakan Agung.


"Sekaya itu ya lo Lex?" Tanya Ciara polos.


"Iya bener Ci," sahut Agung kemudian Alex kembali menutup mulutnya dengan tangan.


"Jangan dengerin dia, kalian pesen makan aja," perintah Alex.


Semua teman-teman Alex menikmati makanan yang mereka pesan. "Makasih, pak Bos udah nraktir kita," ucap Amar mewakili teman-temannya.


"Iya, by the way kalian pulangnya dianter Ciara dong nih?" Ledek Alex.


"Yah mau gimana lagi, gue sih pasrah bos dianter cewek cantik," kata Agung langsung mendapat sorakan dari teman-temannya.


"Kalau gitu gue aja yang bareng Ciara," usul Sandra.


"Eh, nggak usah bu bos, kita nggak mau pak bos murka, jiahaha," ledek Andi.


"Kalian apaan sih manggil bu bos, nama gue Sandra bukan bu bos," kata Sandra.


"Nggak apa-apa buat lucu-lucuan aja San," timpal Ciara.


"Ya sudah kita pulang duluan," pamit Alex pada teman-temannya sambil menggandeng tangan Sandra.


"Lex, kamu bisa nggak nganterin aku ke toko buku dulu, ada buku yang mau aku beli," kata Sandra pada kekasihnya.


"Oke, kita berangkat sekarang," jawab Alex antusias.


Alex pun mengantar pacarnya membeli buku. Setibanya di toko buku yang ada di dalam mall, Sandra memutari lorong-lorong untuk mencari buku yang ia cari.


"Kamu cari buku apa sih?" Tanya Alex pada Sandra. Sedari tadi ia hanya mengikuti di belakang Sandra.


"Novel," jawab Sandra tanpa memandang wajah Alex.


"Judulnya apa? Biar aku bantu nyari," Tanya Alex.


"KEPINCUT CINTA MISS OJOL," jawab Sandra.


"Judulnya aneh," kata Alex mencibir.


Alex menuruti kemauan Sandra. "Eh bagus juga kayaknya, ceweknya pacaran sama adiknya tapi nikahnya sama kakaknya," kata Alex sambil terkekeh.


"Kenapa Miss Ojol, kenapa gak gadis barbar judulnya?" Tanya Alex makin penasaran sama isi novelnya.


"Nih, kamu baca di awal, si cewek rela kerja jadi tukang ojol buat bayar ganti rugi mobil yang dia rusakin secara tidak sengaja." Sandra menceritakan sedikit kisah dalam novel tersebut.


"Kasian juga ya, terus kenapa bisa si cewek akhirnya nikah sama kakaknya?"


Lama-lama Sandra menjadi kesal karena Alex banyak bertanya. "Hish, kalau kamu kepo baca dong novelnya aku kan belum baca keseluruhan," jawab Sandra mencebik kesal.


Alex yang gemas dengan sikap Sandra itu malah mengacak rambutnya. "Iya, ya nanti aku pinjem ya bukunya," kata Alex dengan lembut.


Wajah Sandra memerah karena malu. Alex laki-laki yang tidak bisa ditebak kadang nyebelin kadang ngangenin, uhuy 😍.


Tapi di tengah tawa bahagia kedua muda-mudi itu tiba-tiba tangan Sandra ditarik oleh seseorang. Sandra menjadi terkejut. Seketika tawa mereka terhenti. Sandra menoleh. "Mama," panggilnya dengan lirih.


"Begini ya rupanya kalau kamu pulang sekolah nggak langsung pulang malah pacaran mulu," bentak Chloe.


Sandra menahan tangis. Matanya sudah mulai mengembun. Alex tidak tega melihat kekasihnya itu dimaki-maki di depan umum. "Saya mohon jangan salahkan Sandra tante."


"Kamu lagi, Sandra jadi tukang bohong tu gara-gara kamu ya kan? Jangan coba-coba ngajak Sandra jadi anak badung seperti kamu yang suka kelayapan," tuduh Chloe pada Alex.


Sandra menutup mulutnya dengan tangan ketika mendengar Alex dihina. "Cukup Ma. Alex nggak salah, Sandra yang meminta Alex buat nganterin Sandra beli buku."


Plak


Chloe menampar pipi Sandra dengan keras di depan umum. "Nggak usah membela dia!" kata Chloe dengan tegas.


Sandra memegang pipinya yang terasa panas setelah mendapatkan tamparan dari sang ibu. "Ayo pulang," Chloe menyeret Sandra.


Sandra melirik ke arah Alex. Alex mengangguk memberikan kode agar Sandra menurut kata ibunya. Mau tak mau Sandra mengikuti ibunya pulang.


Mereka pulang dengan diantar supir yang menunggu di area parkir bagian depan mall tersebut. Meskipun dilihat banyak orang dan menjadi pusat perhatian, Chloe tetap menyeret Sandra sampai masuk ke dalam mobil.


Ia mendorong tubuh Sandra dengan kasar ketika sampai di samping mobilnya. "Jalan pak!" ucapnya pada sang sopir.


Sandra mengu*lum bibirnya. Dadanya terasa sesak karena manahan tangis. Tenggorokannya tercekat saat air matanya tertahan di pelupuk matanya.


"Tega sekali mama mempermalukan aku di depan umum," ucap Sandra di dalam hatinya yang bergemuruh.


Tak disangka mamanya sekejam ini padanya. "Ma, kenapa mama selalu memperlakukan aku layaknya orang lain?" Tanya Sandra. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kata-kata itu.


Chloe menatap tajam ke arah putrinya. "Kamu bukan putri kandungku," jawaban Chloe membuat Sandra terkejut.


Bagaimana bisa Sandra bukan anaknya, padahal mereka sudah tinggal bersama sejak kecil, pikir Sandra.


"Kamu ini cuma anak selingkuhan suamiku," imbuh Chloe membuat Sandra tak lagi bisa menahan air matanya.


"Apa maksud mama?" Tanya Sandra dengan nada bergetar.


"Tanya saja papamu jika sudah sampai rumah nanti," putus Chloe. Lalu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka.


Sandra masih berusaha mencerna omongan mamanya. Otaknya belum bisa menerima apa yang telah dikatakan oleh Chloe.


Sesampainya di rumah, Sandra mencari Vero. Ia berhambur ke pelukan Vero. Vero tidak mengerti kenapa Sandra tiba-tiba memeluknya lalu menangis. Baru ketika sang istri muncul, Vero dapat menebak apa yang membuat Sandra menangis di pelukan ayahnya.


"Katakan apa dia menyakitimu lagi?" Tanya Vero pada putrinya.