
Mama Ara pergi ke rumah Jaden setelah Bia berangkat ke kantor dari rumahnya. Kedatangannya yang tiba-tiba membuat Santi tidak menyadari bahwa sejak tadi mama Ara melihat gadis itu lebih sibuk memainkan ponselnya daripada menemani Baby Al main.
Mama Ara menggelengkan kepalanya melihat tingkah kurang ajar baby sitter cucunya.
"Ehem"
Mama Ara berdehem untuk memberi tahu keberadaannya. Santi terlonjak kaget saat mengetahui ibu mertua Jaden datang secara tiba-tiba. Ia pun menyembunyikan handphone yang sedang ia pegang ke belakang punggungnya.
"Maaf, Bu," kata Santi sambil menunduk takut.
"Ayo Al ikut nenek." Mama Ara menggendong cucunya yang sedang bermain sendirian. Lalu membawanya kekuar dari kamar.
Mama Ara bertanya pada Bi Saroh tentang kelakuannya selama majikannya bekerja. "Apa dia selalu membawakan cucuku bermain sendiri Bi?" Bi Saroh mengangguk pelan.
Santi menguping pembicaraan mereka. "Sialan Bi Saroh, ini gak boleh terjadi, aku bisa dipecat tanpa uang pesangon sedikit pun kalau ketahuan, parahnya lagi aku tidak bisa bersama lagi dengan Tuan Jaden," kesal Santi.
...***...
Setelah sore hari mama Ara pulang sebelum Bia sampai ke rumah karena papa Rasya memintanya agar segera pulang.
"Bi Saroh saya pulang dulu ya, kalau terjadi apa-apa sama Al pas tuan dan nyonya gak ada, bilang sama saya," pesan mama Ara sebelum pergi. Entah kenapa hatinya risau meninggalkan Al bersama Santi.
"Tolong jaga dia," perintah mama Ara pada Santi. Gadis itu hanya mengangguk menjawab perintahnya.
Setelah nyonya besarnya pergi Santi meminta izin pada Bi Saroh untuk keluar sebentar ke mini market yang tak jauh dari tempt tinggalnya itu.
"Ya udah Den Al bawa sini!" pinta Bi Saroh.
"Dia sedang tertidur Bi, bibi bisa menyiapkan makan malam, hampiri saja kalau dia menangis," bohong Santi.
Lalu ia ambil kesempatan saat Bi Saroh kembali ke dapur, ia membawa Baby Al dengan memggendongnya diam-diam.
Bia pulang lebih awal. Ia langsung menuju ke kamar bayinya. Bia kaget saat ia tak menemukan Baby Al dimanapun. Lalu ia mencari Santi ternyata gadis itu juga tidak ada. Bia mulai panik. "Bi Saroh kemana perginya Baby Al?" tanya Bia pada asisten rumah tangganya.
"Ada di kamar bu sedang tidur," jawab Bi Saroh.
"Tidak ada Bi, lalu kemana Santi pergi?"
"Dia izin ke mini market bu tadi."
"Sialan dia pasti menculik anakku." Bia mengepalkan tangannya.
"Ada apa ini?" tanya Jaden yang baru tiba.
"Mana mungkin Bi, kamu coba cari ke depan barangkali dia sedang keluar cari angin."
"Ow jadi kakak tidak percaya sama aku, oke aku akan cari sendiri anakku, awas saja kalau sampai aku bertemu perempuan itu akan ku potong semua rambut di kepalanya," geram Bia lalu pergi meninggalkan Jaden.
Jaden masih bingung dengan sikap istrinya. "Bi Saroh apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tadi Santi izin keluar tuan tapi saya tidak tahu kalau dia juga membawa Den Al," ucapnya sambil menunduk.
Jaden meraup mukanya frustasi. Ia pun menyusul istrinya. Jaden mengeluarkan motor sport miliknya agar dia bisa mengejar Bia dengan cepat.
Bia ternyata berjalan menyusuri kompleks rumahnya. Ia juga bertanya kepada satpam penjaga komplek. "Apa anda tidak melihat wanita yang mencurigakan membawa bayi?" tanya Bia pada Satpam tersebut.
"Tidak Bu," jawab Satpam itu sambil tertunduk.
Bia terduduk lemas di tanah sambil menangis. "Maafin mama nak, mama lalai menjaga kamu," ucapnya dengan penuh penyesalan.
Lalu bunyi klakson motor membuatnya berhenti menangis. Jaden membuka helm full face yang ia kenakan. "Naik Bi," kata Jaden sambil memberikan helm pada istrinya.
Bia pun menyeka air mata dengan punggung tangannya. Lalu mengambil helm yang diberikan oleh suaminya.
"Kita cari dia sama-sama," kata Jaden. Bia mengagguk lemah.
Jaden menyusuri jalan malam itu bersama Bia. Setelah hampir dua jam berkendara mereka berhenti sejenak. Jaden memutuskan untuk meminta bantuan Bagus.
"Aku ingin kau mencari orang untukku, temunan dia secepatnya!" Perintah Jaden pada Bagus.
Bagus yang mendapat perintah dari atasannya itu langsung bergerak. "Ada apa lagi mas?" tanya Keyla yang sedang berada di dalam mobil Bagus.
"Pak Jaden memintaku mencari seseorang, aku rasa dia itu baby sitternya Al kalau tidak salah," Bagus seidkit berpikir.
"OMG, apa Al diculik mas? Ini seperti cerita dalam film," tebak Keyla.
"Aku akan mengantarmu pulang," potong Bagus.
"Tidak, aku ikut mencari keberadaan keponakanku, kalau sampai benar dia menculik Baby Al, akan aku jambak rambutnya sampai rontok."
Bagus yang mendengarnya menjadi bergidik ngeri. Ia pun melajukan mobilnya. Bagus memang asisten yang serba bisa ia mencari keberadaan Santi dengan melacak nomor ponselnya.
"Ketemu," ucap Bagus senang saat ia menemukan lokasi Santi melalui ponsel pintarnya.