My Beloved Partner

My Beloved Partner
57



Jaden hari ini diperbolehkan pulang ke rumah. Bia membantu suaminya mengemasi baju-bajunya. Bagus sudah datang pagi-pagi sekali untuk menjemput mereka.


"Sudah siap pulang sayang," tanya Bia pada suaminya.


"Tentu saja," jawab Jaden sambil tersenyum.


"Anjir jiwa jones gue meronta-ronta,"umpat Bagus dalam hatinya.


Meski diperbolehkan pulang setelah menginap dua hari di rumah sakit, Jaden harus menggunakan kursi roda. Karena kaki kanannya luka di bagian tulang keringnya untungnya tidak sampai patah. Ketika kecelakaan yang lalu kakinya terbentur di bagian bawah mobil.


"Ck, sayang aku dipapah Bagus saja," tolak Jaden menggunakan kursi roda.


"Diamlah dan cepatlah naik," perintah Bia tegas pada suaminya.Mau tak mau Jaden menuruti perintah istrinya itu.Bagus menahan senyum melihat bosnya itu tunduk pada sang istri.


"Jangan tertawa Gus, aku sumpahi kamu dapat istri yang lebih galak dari istriku," kata Jaden kesal.


"Apa? Kamu mengataiku galak," bentak Bia sambil melotot ke arah suaminya.


"Salah lagi,"


...***...


Sesampainya di rumah Bagus membantu atasannya turun dari mobil. "Terima kasih Gus, kamu bisa kembali ke kantor, sementara handle dulu perusahaan," titah Jaden pada asisten pribadinya.Bagus mengangguk patuh.


Setelah itu Bagus pergi. Kini tinggal mereka berdua. "Sayang aku bosan di rumah," Jaden mencebik kesal


Sebelumnya dia tidak pernah seharian di rumah. Ia akan menghabiskan hari-harinya di kantor.


"Lalu kamu ingin apa?" tanya Bia perhatian.


"Aku ingin makan," jawab Jaden singkat.


"Baiklah akan ku pesankan," Bia pun mengambil ponsel yang ada di atas meja kemudian membuka aplikasi delivery order.


"Bukan ini yang ku maksud," Jaden berdiri dan menurunkan ponsel yang dipegang istrinya.


"Lalu? kami ingin aku memasak sendiri hm?" tanya Bia sambil menatap suaminya.


Mendapatkan tatapan dari istrinya membuat Jaden semakin gemas. Ia pun memindai wajah cantik istrinya itu. Bulu mata lentik, mata bulat yang indah berakhir di bibir ranum istrinya. Tanpa sadar ia mendekatkan bibirnya.


Bia sontak kaget dibuatnya. Suaminya itu tidak memberi aba-aba terlebih dulu. Bia berusaha mendorong tubuh suaminya sayang nihil. Tenaganya tidak cukup untuk menandingi kekuatan yang dimiliki Jaden. Akhirnya Bia pun pasrah dibuatnya.


Mereka meneruskan percintaan panasnya sore itu di dalam kamar. Namun pada saat mereka sedang dalam puncaknya. Tiba-tiba terdengar bunyi bel rumah.


"Kau dengar itu?" kata Bia sambil menajamkan pendengarannya.


"Biarkan saja," kata Jaden cuek.


Bunyi bel yang mengganggu membuat keduanya gagal bersatu."K*mpr*t siapa yang mengganggu sekali," Jaden pun berdiri dan memakai pakaiannya.


Bia heran ternyata suaminya dapat berjalan dengan baik tanpa harus dibopong. "Cih pura-pura sakit, dasar pembohong," umpat Bia melihat suaminya keluar kamar.


"Ada apa?" tanya Jaden ketus saat dirinya membukakan pintu.


"Dad, ada apa dad sore-sore begini datang ke rumahku," tanya Jaden yang kesal ayahnya sudah berdiri di hadapannya.


"Dasar anak durhaka orang tua datang tidak disuruh masuk malah diomeli," balas Darren ingin sekali ia menimpuk anaknya.


"Masuklah,"


"Dimana menantuku?" tanya Darren yang tidak melihat keberadaan Bia.


"Dia sedang di kamar," jawab Jaden malas


"Pantas saja mukamu masam rupanya daddy menggagalkan rencanamu bercinta kali ini," ledek Darren seraya tersenyum mengejek.


"Cepat katakan padaku ada keperluan apa dad kemari?" tanya Jaden.


"Kau tahu siapa itu Samuel?" tanya Darren pada putranya.


Bia mendekat seraya membawa nampan berisi dua cangkir minuman untuk ayah mertua dan suaminya.


"Ada apa dengan Samuel dad?" tanya Bia pada ayah mertuanya.


Darren menoleh ke arah Jaden. Ia meminta persetujuan dalam diam pada putranya untuk menceritakan hal yang ia ketahui mengenai Samuel kepada Berlian.Jaden mengangguk.


"Dialah yang membuat Jaden kecelakaan," kata Darren dengan nada kalem.


"Apa? Dasar laki-laki jahat, apa dia sengaja menyabotase mobil suamiku dad?" tanya Bia memastikan. Ia sungguh emosi mendengarnya.


"Tenanglah sayang," Jaden mengelus bahu istrinya.


"Dad apakah daddy tidak ingin memberinya pelajaran?" tanya Bia pada ayah mertuanya.


"Biar suamimu yang melakukannya," jawab Darren sambil menyesap minuman yang dibuat oleh menantunya.


"Hei rasanya enak, seperti susu tapi ini teh?" tanya Darren yang bingung saat mencicipi rasa minuman yang ia sesap.


"Iya dad itu milk tea, alias teh susu buatan Bia sendiri," kata Bia dengan percaya diri.


"Kau harus rekomendadikan menu minuman ini di restoran hotel kita," kata Darren membuat Bia jadi tersipu malu karena pujian ayah mertuanya.


"Ah ya bagaimana kabar chef yang sudah kau pecat itu?" tanya Darren. Namun Jaden memberi kode agar tidak menceritakan hal itu di depan istrinya dengan menyilangkan tangannya. Saat Bia menoleh Jaden menurunkan tangannya.


Bia menatap suaminya tajam. "Jadi kakaka sengaja memecat kak Aiden, bukan kak Aiden yang mengundurkan diri hm?" geram Bia mendapati suaminya berbohong.


"Maaf, tapi bukankah bagus kalau tidak begitu Aiden tidak akan cepat menikah dengan Bulan," kata Jaden membela diri.


"Jadi Bulan akan menikah dengan Aiden?" tanya Darren.


"Ya dad mereka sepasang kekasih dan sudah bertunangan," terang Bia membuat Darren kaget pasalnya dia tahu kalau putra sulungnya itu menaruh hati pada Bulan.


"Malang sekali nasibmu boy," batin Darren membayangkan nasib Julian.


"Ya sudah daddy pulang dulu mommy mu pasti sudah menunggu di rumah," pamit Darren.


"Cih kenapa tidak dari tadi dad," lirih Jaden tapi masih terdengar di telinga Darren.


"Kamu pikir daddy tuli, dasar anak durhaka," Darren hendak memukulnya namun Jaden bersembunyi di belakang Bia. Bia jadi terkekeh.


"Sayang daddy pulang dulu,"


"Hati-hati di jalan dad," Bia mencium tangan Darren dengan takzim.Sedangkan Jaden hanya melambaikan tangan pada ayahnya sehingga membuat Darren geleng-geleng kepala.


...***...


"Jadi Bulan akan menikah?" tanya Julian tidak percaya setelah mendengar kabar wanita yang dikaguminya itu akan menikah dengan tunangannya.


"Seperti itulah kata Jaden tadi," ucap Darren. Kini laki-laki itu sudah tiba di rumahnya.


Bahu Julian meluruh. "Sudah tidak ada kesempatan lagi," gumam Julian.Harapannya menyusul Bulan ke Jerman pupus sudah setelah mendengar berita tersebut.


"Tenangkan dirimu boy, masih banyak wanita baik di luar sana, jemputtlah jodohmu dengan cara yang baik," pesan Darren pada putranaya.


"Maksud daddy bagaimana?" tanya Julian tidak mengerti.


"Jangan lakukan hal bodoh seperti Jaden dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, daddy tahu kamu lebih dewasa dibanding saudara kembarmu," Darren menepuk bahu anaknya.


Julian memikirkan omongan ayahnya. Tapi malam ini ia ingin menghilangkan kekesalannya dengan bersenang-senang di bar.


"Tuan apa kau sendirian?" tanya seorang gadis yang mendekat ke arah Julian.


❤️❤️❤️


Kira-kira siapa yang ditemui oleh Julian malam itu?


Yuk klik 💙 biar kalian bisa baca kelanjutannya. Othor minta bunga dan kopinya ya thanks my beloved readers 😘